Precedence: bulk
SAAT YANG TEPAT BAGI WIRANTO UNTUK MUNDUR
JAKARTA, (TNI Watch!, 21/9/99). Isu tentang rencana mundurnya
Jenderal Wiranto sebagai Panglima TNI, yang awalnya dirilis harian The
Strait Times, bergulir terus. Wiranto segera mundur seusai Hari ABRI (5
Oktober 1999) nanti, untuk bersiap-siap mencalonkan diri sebagai Presiden RI
ke 4, dari Partai Golkar.
Spekulasi itu semakin kuat, setelah Ketua Umum Golkar Akbar Tanjung,
secara resmi mengumumkan, bahwa Wiranto sebagai calon "pendamping" Habibie.
Pernyataan Akbar Tanjung tersebut, merupakan bentuk pembatalan halus
pencalonan Habibie. Bagi Golkar, sosok Habibie tak lagi memiliki "nilai
jual". Maka Golkar perlu banting stir, mencari "jagoan" baru, dan itu adalah
Wiranto.
Pencalonan ini klop dengan skenario Wiranto sendiri, yang juga
berambisi menjadi Presiden. Menurut sumber seorang perwira di BIA, sponsor
utama Wiranto adalah Keluarga Cendana, yang menyiapkan dana "tak terbatas",
asal Wiranto tembus ke Istana.
Kalau Wiranto mundur sekarang, wajah Wiranto juga terselamatkan.
Mengapa begitu? Ini sehubungan dengan terpilihnya seorang perwira Austalia,
Mayjen Peter Cosgrove sebagai Komandan Pasukan Multi Nasional di Timtim
(International Force for East Timor). Terpilihnya perwira Australia
tersebut, benar-benar mempermalukan TNI (khususnya Wiranto). TNI yang sangat
anti terhadap Australia, di mana TNI selalu berusaha agar tentara Australia
jangan dilibatkan dalam pasukan PBB di Timtim, benar-benar menemui
pengalaman pahit. Karena yang bakal terjadi adalah, tentara Australia bukan
saja terlibat, tetapi juga memegang komando pimpinan, lewat Mayjen Peter
Cosgrove.
Setidaknya ada tiga kredit bagi keterlibatan Australia di Timtim:
1. Wilayahnya (Darwin) menjadi pangkalan utama pasukan multinasional
2. Komandan Pasukan Multi Nasional adalah perwira Australia
3. Tentara Australia yang paling banyak terlibat dalam misi di Timtim tersebut
(4000 personel dari total sekitar 8000 personel).
Bersamaan dengan tibanya pasukan multinasional pada hari Sabtu lalu
(18/9), gelombang rasa malu juga akan menerpa wajah Wiranto. Maka ketimbang
harus menanggung malu yang tak tertahankan, kini adalah saat yang tepat bagi
Wiranto untuk mundur. Cukup sebagai Menhankam saja, sambil berkemas-kemas
menuju ke Istana, dengan catatan kalau terpilih oleh rakyat lewat MPR.
_____________
TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI,
dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranya pelanggaran-pelanggran hak asasi manusia yang
dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya
agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama.
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html