Precedence: bulk


ROY JANIS DAN MARINGAN BERSEMBUNYI DIKEJAR-KEJAR KADER PDI-P

        JAKARTA, (SiaR, 22/9/99). Kasus kekalahan PDI Perjuangan dalam
pemilihan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta terus
berlanjut. Ketua dan Sekretaris DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta, Roy BB
Janis, dan Maringan Pangaribuan, sudah tiga hari ini tidak berkantor, dan
tidak tidur dirumah, karena merasa terancam keselamatannya, akibat
dicari-cari para anggota, simpatisan, dan kader PDI Perjuangan yang tak puas
terhadap kedua orang itu.

        Roy Janis yang dianggap sebagai orang paling bertanggungjawab atas
kekalahan Tarmidi Suharjo, calon ketua dewan dari fraksi PDI Perjuangan,
Selasa (21/9) kemarin kembali didemo oleh ratusan warga dan simpatisan PDI
Perjuangan dari Jakarta Timur. Demonstran menuntut DPP PDI Perjuangan untuk
mencopot Roy dari kedudukannya sebagai Ketua DPD, serta membatalkan
pencalonan Roy sebagai anggota DPR RI hasil Pemilu lalu.

        Menurut keterangan salah seorang anggota DPRD dari Fraksi PDI
Perjuangan, Roy dan juga Maringan sudah tiga hari ini tidak tidur di rumah
masing-masing. Bahkan, Maringan selama tiga hari itu tak pernah datang ke
tempat kerjanya yang baru di gedung DPRD di Jalan Kebun Sirih, Jakarta
Pusat. Diduga, kata anggota dewan itu, Maringan merasa terancam keselamatan
fisiknya, karena kini banyak warga dan simpatisan yang mengganggap ia,
selain Roy, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

        Beberapa jam setelah kekalahan Tarmidi, maka Roy, dan Pardosi, salah
seorang anggota DPRD dari F-PDI P, diserang oleh beberapa simpatisan yang
marah di kantor DPP PDI P di jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Roy dan
Pardosi berhasil menyelamatkan diri, tapi mobil kedua orang itu hancur
diamuk massa. Mobil BMW milik Roy Janis hancur dirusak massa. Roy sendiri
terpaksa bersembunyi dibawah perlindungan satgas PDI P, di kantor DPP hingga
pukul tiga  dinihari.

        SiaR memperoleh pengakuan dari sejumlah anggota dewan, dan kader PDI
Perjuangan lainnya, bahwa Roy dan kliknya yang disebut sebagai "Kelompok 7"
lalu bersikap otoriter dalam mengambil setiap keputusan sehubungan dengan
startaegi partai itu untuk memenangkan kursi anggota dewan.

        Hendro Sayogyo, salah seorang anggota dewan dari F-PDI P yang
mencoba menyampaikan pandangannya tentang strategi untuk melobi fraksi
lainnya, malah dihardik Roy. "Jangan kemajon (lancang, Red.)," ucapnya.
Hendro yang merasa terpukul dengan sikap Roy tersebut, konon, menyampaikan
curahan hatinya kepada beberapa rekannya sesama anggota F-PDI P. "Kalau
begini terus lebih baik kita berontak," ucap Hendro sebagaimana kesaksian
salah seorang anggota F-PDI P.

        Sementara itu, seorang anggota F-PDI P lainnya, menuturkan, dirinya
telah berhasil melakukan pendekatan kepada para anggota dewan dari
fraksi-fraksi kecil di DPRD DKI, agar mendukung calon ketua dari F-PDI P. Ia
melakukan pendekatan tersebut, karena memiliki jalur kekerabatan
(kekeluargaan, Red.) dengan mereka. Tapi upayanya malah ditanggapi "dingin"
oleh Roy dan Maringan. "Tidak perlu lobi seperti itu, nggak ada gunanya,"
ujar Maringan ketus.

        "Kelompok 7" yang meresahkan anggota F-PDI P lainnya, dan membuat
kegusaran di kalangan kader PDI P DKI Jakarta itu, secara periodik melakukan
pertemuan di sebuah gedung di kawasan Pecenongan. Selain Roy, dan Maringan,
lima orang lainnya merupakan ketua-ketua DPC di lingkungan DKI Jakarta.
Manuver "Kelompok 7" yang berbuntut dengan kekalahan Tarmidi memang
melahirkan sejumlah kejanggalan. Antara lain pada saat DPD PDI Perjuangan
DKI Jakarta mengadakan pembekalan anggota dewan dari F-PDI P, salah seorang
pemberi materinya adalah Mayjen TNI Eddy Waluyo dari F-TNI/Polri yang
kemudian terpilih menjadi Ketua DPRD DKI.

        "Bagaimana mungkin seorang anggota dewan dari fraksi lain memberi
pembekalan kepada kita," kata seorang anggota F-PDI P.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke