Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 34/II/2-8 Oktober 99
------------------------------

STANDAR GANDA DARI "SI KAYA"

(POLITIK): Negara-negara kaya bilang "perdagangan bebas" baik bagi
negara-negara miskin. Anehnya, mereka tidak menjalankan apa yang 'dikotbahkan.'

Cerita ketidakadilan dalam pola hubungan antara negara-negara maju dan
negara-negara berkembang, ternyata masih belum usang. Seperti dikemukakan
dalam The Economist, sejak Mahatma Gandhi menyatakan sikap perlawanannya
terhadap negara-negara barat, hingga ke Putaran Uruguay, 1993, isu tadi
belum juga dapat dituntaskan.

Negara-negara miskin umumnya, dari dulu selalu sinis pada komitmen barat
terhadap perdagangan bebas. Mereka bukan tak punya alasan. Amerika Serikat
dan Eropa selalu mengajarkan pada negara-negara berkembang tentang perlunya
membuka pasar mereka, sementara pada saat yang sama menutup erat-erat pintu
impornya dari negara-negara miskin. Meskipun, kondisi sekarang mungkin sudah
sedikit mengalami perubahan. Berbagai gebrakan baru telah dilakukan untuk
membantu negara-negara miskin berkiprah lebih baik dalam sistem perdagangan
dunia.

Dalam Putaran Uruguay 1993, tekanan yang begitu kuat menuju perdagangan
bebas global, berhasil disepakati. Negara-negara miskin bakal memperoleh
keuntungan terbesar dengan sistem ini. Enam tahun kemudian, dan hanya dua
bulan menjelang pembicaraan proposal perdagangan bebas dalam milenium baru,
di Seattle, November mendatang, komitmen tadi sudah terasa memudar.

Negara-negara berkembang mempunyai tiga keluhan utama. Pertama, mereka
dipaksa membuka pasar mereka terlalu jauh, dan terlalu cepat. Kedua,
negara-negara maju ternyata lebih banyak membiarkan pasar mereka tertutup.
Dan ketiga, mereka merasa kekurangan informasi dan sumber daya dalam
melakukan negosiasi secara efektif, untuk menjalankan perjanjian dagang dan
untuk memperoleh keuntungan dari peraturan-peraturan perdagangan dunia.

Keluhan pertama, barangkali bisa dinilai terlalu berlebihan. Kendati negara
berkembang setuju memotong tarif masuk lebih jauh dalam Putaran Uruguay,
namun itu bisa merupakan keuntungan ketimbangan kerugian. Negara miskin akan
mendapat manfaat dari situ, karena konsumen bisa dapat barang-barang impor
dengan harga murah. Selain itu, masuknya kompetitor dari luar bisa mendorong
produsen domestik untuk lebih efisien.

Namun, keluhan kedua dan ketiga sangat beralasan. Nyatanya, negara-negara
maju memotong tarif lebih sedikit dari pada yang dilakukan negara-negara
miskin. Di samping itu, mereka menemukan pula jalan untuk menutup pasar
mereka, caranya dengan pajak anti-dumping pada barang-barang impor yang
mereka anggap "terlalu murah" (unfairly cheap). Mereka juga secara khusus,
sangat proteksionis dalam banyak sektor yang justru menjadi andalan
negara-negara berkembang, seperti pertanian, tekstil dan pakaian.

Hasilnya, menurut studi terbaru oleh Thomas Hertel dari Purdue University
dan Will Martin dari Bank Dunia, rata-rata tarif barang impor manufaktur
dari negara-negara berkembang yang diberlakukan di negara-negara maju, empat
kali lebih tinggi dibandingkan tarif impor barang serupa dari negara maju
lainnya. Hal ini sungguh merugikan negara-negara berkembang. UNCTAD (The
United Nations Conference on Trade and Development), badan PBB yang
membicarakan soal perdagangan dan pembangunan, memperkirakan, negara
berkembang bisa menghasilkan ekspor senilai US$700 milyar lebih banyak pada
2005, seandainya negara maju mau membuka pasar mereka.

Negara miskin juga punya persoalan untuk memperoleh informasi. Malah banyak
yang sepertinya tak mengerti apa yang telah mereka tandatangani dalam
Putaran Uruguay. Michael Finger dari Bank Dunia dan Philip Schuler dari
University of Maryland, memperkirakan, untuk menjalankan komitmen
memperbaiki prosedur perdagangan dan membuat standar intellectual property
akan menghabiskan biaya lebih besar dari pada budget pembangunan setahun
negara berkembang.

Lebih dari itu, pada area di mana negara berkembang seharusnya bisa
memperoleh keuntungan dari aturan perdagangan dunia, mereka justru tak dapat
apa-apa. Misalnya, WTO sering tak memenangkan negara miskin yang
'berselisih' dengan negara kaya. Benar bahwa WTO yang memungkinkan Kostarika
menjual pakaian dalamnya secara leluasa di AS. Begitu pula Ekuador yang
dimungkinkan melempar pisangnya ke Uni-Eropa. Tapi, nyatanya, secara
keseluruhan tak demikian keadaannya. Dari 134 anggota WTO, 29 negara bahkan
tak punya utusan di Jenewa. Lebih banyak lagi yang aku bisa membawa kasusnya
ke WTO. WTO memang tak bisa berbuat banyak. Budget tahunannya untuk bantuan
teknis hanya sekitar US$480.000 -yang tak memungkinkan digunakan membantu
sebuah negara menuntut negara lainnya.

Kendati demikian, ada pula sedikit optimisme. Mike More, bos-nya WTO
berjanji menjadikan negara miskin sebagai prioritasnya. Ia telah pula melobi
untuk mendapatkan budget 13 kali lipat yang sekarang dipunyai WTO. Sementara
Belanda dan Kolombia, sedang berupaya membentuk badan penasihat untuk
menyuplai informasi bagi negara miskin, serta menolong mereka dalam
menyelesaikan kasus-kasus 'perselisihan'.

Anehnya, negara berkembang justru terlihat lebih mempersiapkan diri
menghadapi perdagangan bebas. Pertemuan 17 negara berkembang (yang dikenal
dengan "G15") di Bangalore, India, Agustus lalu menghasilkan agenda positif
bagi liberalisasi di bidang perkapalan, konstruksi dan
pergerakan/perpindahan penduduk. Misalnya, komitmen Uni-Eropa untuk
membebaskan tarif barang-barang impor dari negara-negara termiskin.

Seandainya Gandhi masih hidup, ia pasti takkan bilang bahwa respon yang
diberikan negara-negara maju, sebagai sesuatu yang lebih 'beradab'. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke