Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 34/II/2-8 Oktober 99
------------------------------

KASAK-KUSUK

(LUGAS): Sidang Umum MPR baru dimulai, tapi bursa calon presiden sudah
ramai. Dengan menurunnya popularitas BJ Habibie akibat skandal Bank Bali,
kasak-kusuk yang makin menghangat di antara para anggota DPR/MPR mulai
mengarah pada munculnya dua nama terkuat sebagai calon presiden, yaitu Gus
Dur yang dicalonkan oleh 7 partai politik -yang tergabung dalam "Poros
Tengah"- dan Megawati yang dicalonkan PDI-P.

Untuk memperlicin jalannya, Poros tengah sudah melakukan berbagai manuver.
Di antaranya, Rabu lalu (29/9) mereka mendatangi Habibie dan mendesaknya
tidak lagi mencalonkan diri sebagai presiden. Saat para calon anggota DPR
berkumpul di Hotel Indonesia, sebelum SU-MPR dimulai, mereka juga mencapai
kata sepakat untuk mencalonkan Wiranto sebagai wakil presiden. "Siapapun
yang jadi presiden dari kami, Wiranto akan mendampinginya sebagai wakil
presiden," ungkap seorang anggota DPR dari partai yang berafiliasi ke Poros
Tengah.

Hal inilah yang dikhawatirkan banyak pihak: Militer dijadikan alat
bargaining politik untuk meraih kekuasaan. Sebab, jika lengah, hanya
selangkah saja dan negara ini akan terjebak dalam militerisme. Itu sebabnya,
Pengamat politik Sjamsuddin Haris malah khawatir dengan manuver Poros Tengah
yang meminta Habibie mundur, "Kalau yang naik Wiranto, bagaimana?" Theo
Toemion dari PDI-P malah bilang bahwa Poros Tengah merusak pasar.

Di pihak lain, PDI-P juga dinilai terlalu mementingkan kelompoknya sendiri
dan enggan berbagi kekuasaan. Mereka tampak amat mengandalkan kekuatan para
pendukungnya, terutama setelah memenangkan pemilu. Bagi pihak Poros Tengah,
kemenangan PDI-P yang hanya mencapai 37%, semestinya mereka  jangan berjalan
sendiri memutuskan komposisi pemerintahan mendatang.

Kita sungguh tak mengharapkan kedua kubu ini -ditambah kubu Habibie jika
masih 'nekat'- untuk melulu memikirkan kekuasaan. Di satu sisi, kubu
Megawati perlu mengajak partai-partai lain membangun sebuah pemerintahan
yang kuat dan stabil. Di sisi lain, tak semestinya Poros Tengah menjual
dirinya pada pihak militer dan ngotot bilang "siapapun presiden kami,
Wiranto wapres-nya."

Yang lebih penting, menyatukan komitmen dan langkah untuk menghasilkan
berbagai agenda dan keputusan dalam SU-MPR yang berjiwa reformatif.
Ingatlah, Soeharto hingga kini belum diadili, pelaku KKN masih merajalela,
mahasiswa masih ditembaki dan sebagian rakyat masih menderita. Mengapa pula
mau membuka pintu bagi "militerisme"? Sadarlah. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke