Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 37/II/17-23 Oktober 99
------------------------------

PRABOWO COME BACK

(POLITIK): Momentum kuatnya pengaruh Poros Tengah dan Gus Dur dijadikan oleh
Prabowo pintu masuk untuk kembali ke Jakarta.

Letnan Jendral (Purn) Prabowo Subianto muncul di saat yang pas, yakni ketika
posisi Habibie terancam oleh Gus Dur yang didukung Poros Tengah. Habibie
(dan Jendral TNI Wiranto) adalah musuh Prabowo. Dua tokoh inilah yang
mendepak karirnya dari Angkatan Darat, segera setelah Soeharto jatuh.
Habibie bahkan menuduh Prabowo hendak mengkudeta dirinya dengan mengepung
rumahnya di Patra Kuningan. 

Prabowo berencana menggugat pemerintah Habibie karena menuduh dirinya
sebagai pelaku kerusuhan di mana-mana, termasuk sebagai otak kerusuhan Mei
1998 yang menghancurkan pusat-pusat bisnis Jakarta. Ia ingin membersihakan
dirinya dari pembunuhan karakter yang selama ini dilakukan Habibie dan
Wiranto terhadap dirinya. "Sebagai Pangkostrad, saya tak punya kewenangan
menggerakkan pasukan untuk mengamankan ibukota saat kerusuhan Mei," ujar
Prabowo.

Namun, kalau Prabowo hanya merasa tak bersalah dalam kersuhan Mei, itu tak
benar juga. Kesalahan Prabowo, di mata Dewan Kehormatan Perwira (DKP)
pimpinan Jendral TNI Subagyo, karena tehnis kemiliteran. Prabowo selama ini
dianggap sering melakukan tindakan sendiri, tanpa izin dan pelaporan ke
atasaanya. Misalnya, ia seringkali mengirim pasukannya ke Timor Timur, Irian
Jaya dan Aceh tanpa sepengetahuan atasaanya. Itu dilakukannya saat menjadi
Danjen Kopassus, yakni ketika mengirim pasukan ke Mapnduma, Irian Jaya untuk
membebaskan sandera. Karena tindakan di luar komando itu, Pangdam Trikora,
Mayjen TNI Dunidja dan Kasdam Trikora waktu itu, Brigjen TNI Johny Lumintang
bersitegang dengan Prabowo.

Kesalahan Prabowo lainnya ketika ia mengirimkan pasukan "ninja" ke Timor
Timur pada 1995, untuk melancarkan aksi teror yang membuat Komandan Korem
Timor Timur saat itu, Kolonel Inf Kiki Sjahnakrie, geram dan nyaris baku
hantam dengan Prabowo di kantor Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI Adang
Ruchiatna. Pengiriman pasukan "ilegal" lainya dilakukan Prabowo ke Aceh dan
melakukan banyak pembunuhan di sana. Prabowo, menurut DKP, di mana seteru
Prabowo, Letjen TNI Agum Gumelar jadi anggotanya, juga sering plesiran ke
luar negeri tanpa izin atasannya, yang waktu itu adalah Subagyo sendiri. 

Mengapa Prabowo waktu itu tak ditegur? "Siapa berani sama dia ketika
Soeharto masih berkuasa?" ujar seorang pensiunan perwira. Ya, siapa yang
berani. Waktu itu, bahkan ketika Prabowo masih berpangkat kolonel dan
bertugas di Kopassus, hampir tak seorangpun perwira, bahkan yang berpangkat
jendral yang berani menegurnya. Kecuali perwira nekad seperti Kiki
Sjahnakri, Dunija dan Johny Lumintang. Ketika itu, Prabowo adalah anak emas
Soeharto, yang tanpa prestasi apapun, kecuali menguasai beberapa bahasa
asing, karirnya melejit meninggalkan kawan-kawan seangkatannya dan melompati
kakak-kakak angkatannya di Akmil. Dalam waktu enam bulan (1996-1997) Prabowo
naik pangkat tiga kali, dari kolonel ke mayor jendral. 

Kalau Prabowo akhirnya tersingkir, sebenarnya karena ia tak disukai oleh
sebagian besar perwira-perwira Angkatan Darat. Perangainya temparamental,
dan sebagai menantu ditaktor, ia memegang nasib para perwira itu. Jadi,
ketika sang ditaktor itu, Soeharto, lengser, Prabowo pun ikut lengser.
Prabowo sendiri bukan seorang pemberani. Setelah dipecat ia kabur ke
Yordania, berlindung di negeri sabahatnya, Raja Abdullah.

Sekarang, mengapa ia punya keberanian kembali? Seperti disebut di muka,
Prabowo merasa, masa akhir kekuasaan Habibie dan Wiranto sudah dekat. Jika
Gus Dur akan jadi Presiden, itulah kesempatan Prabowo untuk come back.
Namanya akan direhabilitasi, karena Gus Dur sayang pada Prabowo. "Saya dulu
sering datang ke rumah Gus Dur dan memijitinya," ujar Prabowo memberitahu
kedekatannya dengan Gus Dur.

Gus Dur lah yang menyarankan Prabowo agar menghindar dulu di luar negeri,
ketika mereka bertemu di sebuah tempat di Eropa tahun lalu. Apalagi kini,
"orang dekat" Prabowo, seorang mantan wartawati Kompas di Canberra, Ratih
Harjono, adalah sektretaris pribadi Gus Dur. Nah, Gus Dur sendiri, running
dalam pencalonannya sebagai presiden atas jasa Poros Tengah, di mana Partai
Bulan Bintang (PBB), adalah salah satu pemrakarsanya. Di PBB inilah
kawan-kawan dekat Prabowo bernaung, ada Faried Prawiranegara (salah satu
ketua), Fadli Zon, Hartono Mardjono dan Achmad Sumargono. Kedekatan PBB
dengan Prabowo, sering diledek orang dengan memanjangkan PBB menjadi Partai
Bentukan Bowo.

Memontum ini, menguatnya kekuatan politik Poros Tengah, dan dominannya
pengaruh Gus Dur, tampaknya membuat Prabowo bangkit nyalinya. Langkah
pertama yang paling mungkin ya itu tadi, menggugat pemerintah.Langkah kedua,
menunggu Gus Dur jadi presiden. Siapa tahu, Presiden Gus Dur nanti akan
merehabilitasinya dan mengembalikannya ke jabatan terakhirnya sebagai
Komandan Sesko TNI. Dari tempat ini, ia bisa ke mana saja, termasuk jadi
KSAD dan siapa tahu Panglima TNI. Apalagi, ia sudah memutus hubungan dengan
keluarga Cendana. Dengan istrinya, Siti Hediati, sudah tak kumpul lagi.
Mereka hidup terpisah.

Namun, langkah Prabowo akan surut, jika Habibie terpilih kembali, atau
peluangnya akan tipis jika Megawati yang memenangkan pertarungan. Kubu
Megawati masih dendam pada Prabowo karena kasus penculikan Haryanto Taslam,
oleh tim Kopassus atas perintah Prabowo. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke