Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 37/II/17-23 Oktober 99
------------------------------

MENCAPAI DEMOKRASI PAKAI MOLOTOV

(POLITIK): Massa demonstran kini hobi pakai 'molotov'. Gara-gara rezim yang
tak pernah mendengarkan suara rakyat, anarkisme mendapat pembenaran.

Demonstrasi di sini barangkali tak cukup. Kita juga harus memenuhi
jalan-jalan. Bunyikan klakson 3 kali dan katakan 'tidak' untuk Habibie,"
lantang Sarwono di depan 1.000 lebih profesional yang menggelar demonstrasi
di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), 15/10 siang. Turut berorasi beberapa
tokoh politik dan anggota MPR seperti Wimar Witoelar, Sekjen PAN Faisal
Basri dan Ketua PKB Matori Abdul Jalil. Gempita riuh menyambut orasi
Sarwono. Suara-suara "tolak Habibie", "adili Soeharto" memenuhi ruang.
Faisal Basri sempat pula mengajak para profesional menutup pasar bursa dan
turun ke jalan. Toh, demonstrasi yang berlangsung sejak siang hingga
menjelang malam itu sama artinya dengan sebuah pemogokan setengah hari.

Profesional yang hidupnya relatif 'enak' pun bisa muak. Apalagi rakyat dan
mahasiswa -yang sudah sering jadi korban- saat berdemonstrasi. Bukan lagi
muak, mereka sudah geram. Di luar gedung BEJ, ribuan mahasiswa dan
masyarakat nyatanya melancarkan 'perang' dengan aparat Brimob dan PPRM.
Aksi-aksi tersebut berlangsung sebelum hingga selewat B.J. Habibie
mengucapkan pidato retorik pertanggungjawabannya di muka sidang umum MPR.
Dalam dua hari bentrokan sekurangnya korban di kedua belah pihak melewati
angka 60.

Mahasiswa memang sudah ogah terus jadi korban. Karena itu, mereka kini
melawan. Sejak tragedi Semanggi I, Nopember tahun lalu mereka mulai gunakan
bom 'molotov' sebagai senjata perlawanan. Lalu, mengapa molotov? (Adalah
Vyacheslav Mikhailovich Molotov, nama lengkap orang yang memasyarakatkan
molotov cocktail sebagai senjata 'paling' tradisional perlawanan rakyat.
"Sederhana dan efektif," tulisnya menjelang revolusi Oktober di Rusia.
Dengan molotov (yang bukan sebuah bom), penggunanya tinggal mencampur bensin
dengan asam nitrat atau serbuk kayu atau stereofoam. Setelah itu dilempar,
pecah dan membakar).

Aparat keamanan pun mendakwa gerakan massa Indonesia mulai mengarah ke
anarkisme. Togar Sianipar dari Mabes Polda menuding kelompok preman telah
menyusup ke dalam aksi massa. Mereka dituduh melakukan provokasi, sehingga
aksi damai berubah menjadi "brutal". Padahal, namanya aksi massa siapapun
dapat terlibat. "Preman sekalipun, kalau memang muak terhadap ketidakadilan
yang menjadikannya preman, patut terlibat," tandas Syafiq, aktivis Famred.

Tapi benarkan anarkisme ini ada, atau jangan-jangan seperti biasanya:
Kelaziman penguasa menunjuk kambing hitam. "Kalau pun ada, tidak perlu
alergi." Demikian George Aditjondro dalam suatu diskusi ketika melawat di
Jakarta tahun lalu. Anarkisme, menurutnya sejatinya justru sebuah gerakan di
mana tujuan akhirnya adalah kesetaraan dan keadilan. Cuma lantaran Mikhail
Bakunin, tokoh anarkisme pertama dari Perancis, menghalalkan penggunaan
instrumen kekerasan makanya terjadi reduksi besar-besaran terhadap makna
anarki di akhir abad ini. Ia dilawankan dengan kestabilan, rasa aman, dan
kesejahteraan. Meski kondisi stabil, rasa aman, sejahtera itu condong palsu.

Masyarakat supra-madani sebagai tujuan gerakan anarki menganggap 'negara'
malahan menjauhkan pencapaian keadilan. "Keadilan khan tidak perlu
diinstitusionalkan," lanjut George. Kalau negara yang semestinya menjadi
penjamin hak asasi manusia, menyelenggarakan kesejahteraan dan kesetaraan
sosial, nyata-nyata mengangkangi manusia dan menghambat kesetaraan sosial,
tidakkah ide mengenai negara perlu dipertanyakan?

Pertanyaan pun berlanjut. Benarkah eksistensi negara perlu 'didekonstruksi'
dan apa 'iya' jawaban utamanya adalah merealisasi anarkisme. Ini pasti bakal
jadi perdebatan panjang lebar, karena sudah masuk wilayah ideologi. Ada yang
akan berpendapat tak perlu negaranya yang 'ditolak', cukup pemerintahannya.
Ada pula pula yang sudah tak percaya pada negara dan pemerintah, tapi juga
tak percaya pada jalan kekerasan. Masing-masing akan mengklaim diri paling
benar. Tak ada yang dapat menguji 'kebenarannya', kecuali sejarah. 

Yang jelas, dalam konteks Indonesia saat ini, negara jika dianggap sebagai
sebuah perwujudan perjanjian massa, nyata-nyata kini telah kehilangan
legitimasi. Apalagi prilaku lembaga-lembaga di dalamnya, sebut saja lembaga
presiden atau militer. Mereka seolah berjalan sendiri dan tak mau mendengar
rakyat sebagai unsur terbesar dalam negara. Malah mencari-cari pembenaran
dan retorika untuk setiap kebijakan yang merugikan rakyat.

Kehendak untuk menolak ide tentang negara, seringkali juga muncul
dikarenakan prilaku militer yang menggejala di negara-negara dunia ketiga.
Ketika Jenderal Pervaiz Musharraf memanggil Benazir Bhuto untuk membentuk
struktur pemerintahan baru, benarkah ini dapat diartikan militer memberi
kekuasaan kepada sipil setelah mengkudeta sipil lain. Bukannya malah
memitoskan kemahahebatan militer dalam mengelola pemerintahan? Pengalaman
beberapa negara Amerika Latin memang membuktikan mitos tersebut.

Dari pengalaman semacam inilah coba dipahami munculnya sikap-sikap
perlawanan keras massa terhadap kekuasaan. Bisa dimaklumi pula pendapat
seorang Yos Suprapto dalam diskusi di mailing list, "Saya kira benar,
bangunan dan ide negara perlu dihancurkan." Namun, menurutnya, hanya
kesadaran mayoritas rakyat yang mampu melakukannya. "Justru dengan begitu
kesadaran ini harus disebarluaskan. Kesadaran tak boleh jadi monopoli kaum
terpelajar atau kelas tertentu dalam masyarakat." Soalnya, kalau semua
sadar, pasti tak ada ketidakadilan. Dan, lemparan 'molotov' mungkin bisa
ditunda. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke