Precedence: bulk


Hersri Setiawan:

                 Surat Budaya I

Mas Soni,
Selamat pagi.

    Kiriman susulan alamat email Bg Gun sudah saya terima. Terimakasih. Dan
surat yang kemarin diretur, seperti Mas Soni tahu, sudah saya kirim
ulang. Tidak kembali. Berarti terkirim. Diterima oleh ybs. atau tidak, lain
perkara lagi.

   Sesudah satu malam tidur dengan enak (karena petang kemarin jarak rentang
jogging saya tambah), di bawah ini saya coba menulis ulang apa yang sudah
saya tulis kemarin, berkaitan dengan tulisan-tulisan Mas Soni. Maaf Mas
Soni! Barangkali terasa pretensius nada bicara saya ini. Dari mana kekuatan
saya, maka
saya berani menjuduli surat ini sebagai "surat budaya"! Tapi, jika mengingat
dan melihat dalam bayangan segala "budaya kekerasan" (sebuah kata gabung
yang contradictio in terminis: lha wong kekerasan kok masih disebut budaya!)
yang
terjadi di Indonesia, atau di kawasan Balkan sekarang, atau berbagai penjuru
lain di jagad kita, atau di Jerman Nazi tempo hari (saya baru kembali dari
ziarah ke kamp konsentrasi Sachsenhausen bersama Bung Lardjo dan Bung
Bambang), saya sungguh tidak perlu merasa ciut hati dengan kepretensius-an
saya itu.

    Tiga rangkaian Sorot Balik sangat berkesan pada saya. Bukan saja oleh
materi yang ingin diangkat, tapi juga cara mengangkat materi itu. Tidak ada lain
selain minta, agar Sorot Balik diteruskan. Semangat andong Jogya pun boleh
diberlakukan di sini: alon-alon waton kelakon!

    Toh saya ada usul. Barangkali akan lebih baik jika setiap "aflevering"
diberi judul tersendiri. Tidak sekedar dengan nomor saja. Ini bukan saja untuk
kepentingan "katalogisasi" tapi juga atas dasar pertimbangan "identity". Ya
Mas, setiap cerita -- menurut pendapat saya merupakan suatu "entity" atau
"keutuhan" - walaupun keutuhan itu tidak harus berarti bulat purnama atau
"bunder
kepleng". Karena itu, sekali lagi pada hemat saya, setiap cerita merupakan
satu sosok tersendiri. Maka, sebagai sosok tersendiri, ia pun memerlukan
adanya nama.

    Saya lalu teringat ketika masih suka mengikuti "njunggringan" Ki Ageng
Suryamataram di ndalem Kumendaman Yogya. Ya. Istilah yang dipakai memang
"njunggringan", nyrempet-nyrempet kata dasarnya yang Junggring Salaka, kedatuan
Dewa Batara Guru. Bedanya, kalau di Junggring Salaka yang medar sabda Dewa
Batara Guru dengan pendengar para dewa, kalau di nJunggringan Kumendaman
yang sesorah Ki Ageng Bringin alias Ki Ageng Suryamataram dengan pendengar para
cantrik. Itu bedanya. Persamaannya: di Junggring Salaka dewi-dewi tidak
pernah diundang, di nJunggringan Kumendaman pun demikian. Cantrik itu hanya
laki-laki.
    Menjalar lagi ingatan saya. Yaitu pada cerita babon Ketoprak Mataram
"Sampek-Engtay". Untuk bisa diterima sebagai cantrik, Engtay terpaksa
harus menyamar menjadi laki-laki! Ini sejatinya juga bentuk "budaya
kekerasan". Kekerasan laki-laki terhadap perempuan. Cuma praktek
pelaksanaannya dinyatakan secara halus: konvensi adat!

    Kembali pada Ki Ageng Bringin.

    Begini kira-kira antara lain dikatakannya: "Sadh�ngah pribadi punika
perlu sebatan utawi aran: Gumbreg, Kliwon ... punapa k�mawon!
Saperlu kangg� mb�dakaken pribadi satunggal lan san�sipun." (Setiap pribadi
itu memerlukan sebutan atau nama: Gumbreg, Kliwon ... apa sajalah! Perlunya
untuk membedakan pribadi yang satu dari yang lainnya.")

    Ya, mas Soni. Ini beda lain lagi antara adegan Junggring Salaka dan
nJunggringan Kumendaman. Di sana dialog itu diucapkan dalam bahasa Bagongan
(maksudnya bukan bahasa Bawor Purwokerto, tapi bahasa dewa-dewa Jawa),
sedangkan di sini dalam bahasa Jawa Krama Madya. Tapi kami semua kok tidak
merasa dalam suasana non- apalagi a demokratis - sepanjang tentang
"demokrasi" jangan dipakai tolok ukur Yunani Kuno! Tidak ada tersirat
suasana yang satu memandang yang lain sebagai invalid atau "mindervalide".
Saya kan ketika itu peserta paling bocah? Wong baru klas II SMA, tidak
bersepatu pula!

    Nah, begitulah komentar saya untuk Sorot Balik. Pertama: minta
masing-masing diberi judul; kedua: berjalan terus, walau dalam tempo
"alon-alon".

                    Tancep

        Berikut ini komentar saya tentang rangkaian tulisan Mas Soni yang
lain, yang baik tema maupun nuansanya diangkat dan dikuliti dari dunia
politik, yaitu tulisan tentang, ijinkan saya menyebutnya, "Bayang-Bayang
Bung Karno". Tentang
ini pun komentar saya tidak tertuju pada isi dan pengutaraannya. Karena
dalam hal-hal itu tulisan Mas Soni ini tak perlu disangsikan lagi. Lebih
penting buat saya, justru pada saat ketika keadaan Tanahair seperti
sekarang, ialah "niat" yang mendukung lahirnya tulisan itu. Ya. Niat! Atau
jargon tapol ketika kami di penjara ialah "nawaitu" - yang terwujud dalam
"ikrar" atau untuk Mas Soni yang lebih paham Belanda, "gelofte". 

        Sekarang ini saya pikir masih banyak saja orang yang anti-Bung
Karno. Atau malah bertambah banyak? Selain orang-orang anti-BK yang lama,
muncul pula orang-orang sejenis yang baru. Anehnya di antara mereka yang
baru itu juga timbul dari tengah-tengah "kalangan kita". Saya katakan
"aneh", karena untuk "kita" mestinya jelas-tegas-arif dalam hal menyikapi
BK. Bahwa BK bukanlah pahlawan klas dalam arti, kalau "klas" selalu
diartikan sebagai (untuk tidak terlalu keras dengan "dimonopoli" oleh)
Proletar. Jelas bahwa BK adalah
pahlawan nasional. Tak perlu disangsikan lagi dan juga jangan pakai imbuhan kata
"sekedar" atau "hanya", seperti halnya Revolusi Nasional pun bukan sekedar
revolusi-revolusian!

        Sikap anti-BK mereka itu berpangkal pada, antara lain: pertama,
karena - pada derajat pertama mereka memang tidak tahu apa dan siapa BK;
kedua, karena - pada derajat kedua - mereka memang tidak akan mungkin tahu;
dan ketiga, ini yang lebih celaka lagi karena, pada derajat ketiga, mereka
memang tidak ingin berusaha tahu tentang apa dan siapa BK.

        BK pada mereka itu tak lebih dari seorang megalomaniak idiot, yang tak
mengerti politik, tak mengerti ekonomi dan apalagi militer: tak paham sama
sekali! Ia hanya seorang seniman idealis yang bermimpi dalam dunianya
sendiri. "Pakar-pakar" tentang Indonesia yang lahir dari kalangan mereka itu
lalu sampai pada kesimpulan, bahwa "keadilan sosial" hanyalah sepatah kata
semboyan yang indah di dengar tapi mustahil dalam kenyataan. Kesimpulan yang
akan sampai pada, tidak akan lebih lama dari sepeludah lagi, gebrakan jurus
terakhir: Pancasila
= Nol Besar! 

        Nol Besar? Lalu di manakah pertanggungjawaban akademis 27 (baca: dua
puluh tujuh!) universitas di seluruh jagad yang telah mewisuda BK sebagai
Doktor, dan Tahta Suci di Roma menghadiahinya dengan Bintang Kehormatan?
Jauh sebelum pecahnya segala macam bentuk apa yang sekarang dinamakan
"sara", bukanlah orang lain melainkan Sukarno yang telah memperingatkan
bangsanya tentang peranan Pancasila sebagai alat pemersatu.

        Saya teruskan surat yang kemarin terhenti. Ya. Saya ingat pada
peringatan Bung Karno kepada bangsanya tentang Pancasila itu. Peristiwa yang
menjadi jalaran apa, saya tidak ingat benar. Apakah saat-saat sesudah gerakan
separatisme menggejala di berbagai daerah di luar Jawa, berarti menjelang akhir
tahun 1960; ataukah ketika Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS) hebat
berpolemik dengan PKI, berarti awal 1960-an. Pendek kata sudah pada waktu
itu Bung Karno, untuk kesekian kalinya, mengucapkan "ramalan" politiknya dan
untuk kesekian kalinya pula ramalannya itu belakangan hari terbukti. Isi
ramalannya itu mengatakan bahwa: manakala bangsa Indonesia meninggalkan
Pancasila, ketika itu bangsa Indonesia ada di ambang segala bentuk perpecahan.

        Bersama Orde Barunya Suharto, sejak akhir tahun 1965, dan lebih
tepat lagi 12 Maret 1966, merajalela di panggung politik Indonesia dengan
semboyan
melaksanakan Pancasila secara "murni dan konsekuen". Orang berjingkrak-jingkrak
kesurupan eforia ketika itu. Tapi hari demi hari orang menjadi sadar, bahwa
Pancasila Suharto/Orde Baru adalah Pancasila tanpa Pancasila (Bersambung)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke