Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 38/II/24-30 Oktober 99
------------------------------

Iwan Sulaiman, Aktifis LSM untuk Aceh:
"REFERENDUM MEREKA ARTIKAN REKONSILIASI"

(DIALOG): Sedari mula kuliah, Iwan, mantan Ketua Sema FISIP Unas tahun
1995-1997 ini tergolong aktif berkecimpung dalam gerakan oposisi terhadap
Orde Baru. Ia tercatat mendirikan Pusat Pengajian Politik dan Advokasi
Masyarakat (Puspipam), organisasi muda yang mayoritas anggotanya mahasiswa
Unas, Jakarta. Lewat organisasi ini pula, bersama-sama Front Aksi Mahasiswa
Indonesia, Iwan terlibat dalam aksi mahasiswa pertama setelah tahun 1978
yang terang-terangan menentang rezim Soeharto, pada 14 Desember 1993. Ketika
itu, 21 rekannya tertangkap dan mendekam antara 8 bulan hingga 1 tahun 2
bulan di penjara. Beruntung, ia lolos saat itu. Kini, setelah terlibat dalam
aksi-aksi menurunkan Soeharto pada bulan Mei tahun lalu, Iwan Cucut
-demikian ia biasa dipanggil- bekerja di LSM kemitraan masyarakat, Yappika,
Divisi Informasi dan Publikasi. Kiprah di Yappika-lah yang mengantar Iwan
merambah Aceh Selatan, Aceh Utara, Pidie dan Lhokseumawe. Ditemui sehari
setelah kepulangannya dari Aceh, kepada Xpos Iwan bercerita mengenai
pergerakan rakyat "Serambi Mekkah" yang didengarnya langsung dari rakyat
setempat:

T: Berapa lama Anda berkeliling Aceh?
J: Tepatnya sembilan hari. Sebenarnya ini pengalaman baru bagi saya,
mendengar langsung apa yang diinginkan oleh bagian besar rakyat Aceh. Banyak
hal-hal baru didengar, termasuk tentunya aspirasi yang ditangkap secara
salah oleh pemerintah yang lalu.

T: Anda bertemu dengan aktivis-aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM)?
J: Terutama dengan aktivis mudanya, ya. Justru ini menarik bagi saya. Dari
sana kita bisa menggali banyak cerita dan cita-cita mereka. Layaknya kalau
kita ingin cari tahu soal aspirasi dan cita-cita hari depan Indonesia, ya
tanyalah ke masyarakat bawah dan gerakan mahasiswa.

T: Seberapa besar pengaruh mereka pada rakyat Aceh? Ada yang mengatakan
jumlah mereka tidaklah sebanyak yang diberitakan?
J: Sebelum kejatuhan Soeharto, ya berkisar empat ratus orang. Tapi dalam
satu tahun lebih sejak Mei 1998, jumlah anggota GAM membengkak hingga ribuan
orang. Dan semuanya terlatih menggunakan senjata. Anak-anak usia muda
seperti terpanggil untuk terlibat dalam GAM. Bahkan ada pasukan perempuan
yang mereka sebut inong.

T: Mirip-mirip pasukan Kemalahayati jaman Kerajaan Samudra Pasai?
J: Ya. Bedanya sekarang di tangan mereka AK-47. Naiknya popularitas GAM,
terinspirasi oleh banyak faktor. Salah satunya faktor kejatuhan Soeharto.
Ini pula yang menjadikan mereka sekarang lebih kritis dengan orang Jawa.
Ternyata tidak semua "orang seberang" berperangai kolonialis. Awalnya mereka
kan agak a priori dengan hal-hal berbau Jawa. Soal signifikansi GAM, bagi
saya tidak lain karena gerakan mereka memang patut dihitung bila ingin
menyelesaikan persoalan Aceh secara komprehensif dan melegakan semua pihak.
Rakyat Aceh sendiri kelihatan sangat appreciate dengan militansi GAM. Kalau
garis keras menjadi pilihan mereka, kita harus menghormati. Setiap orang
atau kelompok punya strategi perjuangan sendiri-sendiri.

T: Benarkah Libya turut memasok persenjataan GAM?
J: Saya tidak dapat memastikan seperti itu. Walaupun para kecik (kepala desa
-red) yang saya konfirmasi tidak mengeluarkan bantahan apa-apa. Umumnya para
kecik ini setuju dengan aspirasi GAM. Pelatih pasukan-pasukan muda juga cuma
bilang, "apa Jakarta mau kirim senjata yang kami persiapkanuntuk melawan
mereka sendiri?"

T: Artinya rumor Libya membantu stok senjata benar adanya?
J: Menurut saya tidak terlalu soal darimana atau benarkah mereka memiliki
banyak amunisi. Lagipula sejauh pengamatan saya sendiri, senjata-senjata itu
kebanyakan dirampas dari kontak fisik GAM dengan pasukan-pasukan TNI. Rakyat
Aceh memang tergolong berani, kok. Bukankah sejarah juga membuktikan
resistensi mereka selama ratusan tahun terhadap Belanda?

T: Apa tanggapan rakyat Aceh terhadap proses politik yang tengah berlangsung
di Jakarta, khususnya memandang SU MPR sekarang?
J: Umumnya merah-hitam politik nasional tidak mereka hitung benar. Bagi GAM
dan mayoritas rakyat solusinya cuma satu, lepas dari Jakarta. Pemilu Juni
lalu terbukti disambut dingin. Satu catatan yang menjadi sebab kekecewaan
mereka dengan proses politik kini misalnya sikap Amien Rais. Menjelang
kampanye pemilu Amien sempat dinobatkan menjadi warga kehormatan Aceh,
dianugerahi rencong segala. Namun begitu SU digelar, agenda Aceh tidak masuk
dalam pembahasan seperti dijanjikan Amien. Maka tidak salah bila kepercayaan
mereka hilang. Saya pikir kehilangan kepercayaan juga hinggap pada mayoritas
rakyat Indonesia. Tapi perlu digarisbawahi, lepas dari Jakarta jangan a
priori diartikan merdeka dengan pemerintahan sendiri. Otonomi ataupun
federasi juga opsi yang patut dipikirkan.

T: Tapi, referendum yang dituntut itu kan harus melewati proses di Jakarta?
J: Itu lain lagi. Dalam bahasa rakyat Aceh referendum lebih diartikan
sebagai berkumpulnya pihak-pihak yang berkonflik dan duduk dalam satu meja.
Di fora itulah persoalan-persoalan rakyat Aceh akan dibahas bersama.
Kelihatannya yang mereka maksud lebih tepat rekonsiliasi, cuma minus
pemerintah Jakarta. Referendum menurut arti sebenarnya hanya dipahami
sebagian elit GAM, yang lagi-lagi mensyaratkan tidak adanya keterlibatan
pemerintah Indonesia.

T: Lantas siapa bakal menjadi penyelenggara referendum?
J: PBB. Itu yang mereka tuntut.

T: Kalau begitu pemerintahan baru di bawah Abdurrahman Wahid sekarang punya
pe-er berat soal Aceh?
J: Jelas sekali. Apalagi Gus Dur sempat melawat ke sana. Saya mendukung
sekali bila Gus Dur sekali lagi datang ke Aceh dan berdialog langsung dengan
mereka. Ini turut memperbaiki kesalahan Amien Rais dan anggota MPR lain yang
tidak membahas secara serius agenda Aceh. Hanya Gus Dur pun mesti berangkat
dengan pola pikir humanisnya, bukan semata-mata "menjaga keutuhan kesatuan
Indonesia". Sebab TNI juga menggunakan kalimat ini ketika melakukan banyak
pembunuhan, penculikan dan perkosaan di Aceh. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke