Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 38/II/24-30 Oktober 99 ------------------------------ MENGAPA MASSA MELAWAN? Oleh: Poetranegara (OPINI): Gerakan mahasiswa sudah tidak murni lagi, ditunggangi preman, ada provokator!" demikian sering kita dengar para elit politik bicara. Tapi toh penjelasan adanya preman dan provokator itu tidak menghentikan perlawanan gerakan massa. Kasus Semanggi II sampai Sidang Umum MPR saat ini diwarnai dengan demo di mana massa berani balik melawan. Alat-alat kekerasan digunakan, seperti bom molotov, lembing bambu maupun besi, juga ketapel dengan amunisi kelereng maupun batu. Tulisan ini mencoba mengkaji pengalaman di lapangan dan mengkritisi substansi di balik fenomena yang terjadi. Atau dengan kata lain, memberikan "pembelaan" atas tuduhan elit yang selama ini menjadi wacana dominan di media massa. "Hanya ada satu kata, LAWAN!" Petikan sajak Wiji Thukul itu sering kita dengar kala aksi berlangsung. Sebuah seruan yang bisa menggetarkan semangat massa. Seruan LAWAN, sesungguhnya bukan seruan aksi, melainkan reaksi. Artinya, ada situasi represi yang mendahului sebagai aksi dan kemudian baru muncul ekspresi perlawanan sebagai reaksi. Begitu juga yang terjadi dengan gerakan massa. Gerakan massa baru melawan ketika ada represi yang sangat kuat dalam bentuk kekerasan. Sebelum Reformasi Mei 1998, gerakan massa lebih banyak memilih mundur ketika dipukul. Tapi sesudah Mei 1998 hingga Sidang Umum MPR saat ini, massa melawan bila dipukul terutama dengan mengandalkan adanya lapisan massa terdepan yang disebut Barisan Pelopor. Barisan ini terdiri dari pribadi-pribadi yang punya nyali tinggi, mereka tidak ragu menghadapi kekerasan yang dilakukan aparat bahkan tidak takut untuk membalas melawan. Mengapa? Apa yang dikatakan barisan pelopor ketika aksi? "Beraninya lawan anak bangsa sendiri! Lawan sana pasukan Australi!" Di balik ungkapan-ungkapan yang bias itu, ada sejarah psikologis yang panjang. Jangan kaget bila sebagian latar belakang kalangan demonstran, khususnya personil barisan pelopor, berasal dari keluarga tentara, baik yang sering disebut "anak kolong" alias anak bintara maupun "anak menteng" alias anak perwira tinggi. Apa yang digaris-bawahi dari pernyataan itu bukan pokok tentaranya. Penulis menyebut hanya sebagian dari barisan pelopor, ada sebagian lain yang berlatar belakang keluarga non tentara. Tapi dari kedua latar-belakang itu ada satu kesamaan, yaitu bahwa mereka sejak kecil telah terbiasa menerima perlakuan keras dari orang tuanya, dalam bentuk pukulan, tendangan, sabetan, diikat dan ditelikung. "Sudah biasaa, sudah biasaa!" seruan yang dilagukan itu menggema dari megaphone aktivis yang jadi dinamisator lapangan ketika terdengar tembakan peringatan. Dan massa tidak takut. Water canon disemprotkan, massa tidak takut. "Sudah biasaa, sudah biasaa!" Massa makin beringas dan berjingkrak-jingkrak. Baru setelah bom diledakkan, gas air mata ditembakkan, massa bisa kocar-kacir. Saat itu barisan pelopor menyiapkan diri dengan disiplin dan soliditas yang tinggi. Mereka berada di depan melindungi massa, mereka menerima resiko pukulan rotan aparat dan bahkan tembakan (meski peluru karet) dari jarak dekat. Perhatikan bagaimana barisan pelopor menghadapi tentara. Sementara massa lari lintang-pukang, mereka meski mundur masih melihat ke tentara, menghitung jarak, sambil menyiapkan senjata balasan, batu-batu, ketapel dan bom molotov. Dalam jarak kira-kira seratus meter, komandannya akan berteriak, "Majuu..!" Tak ayal, lembing-lembing bambu, kayu dan besi pun dilemparkan, ketapel dipelantingkan, bom molotov diarahkan ke barisan tentara. Massa yang tadinya lari mundur kemudian balik lari maju membantu barisan pelopor. Aksi massa jadi menggila. Aparat keamanan jadi beringas, mereka kemudian mengejar massa. Gerak massa pun mundur lagi. Gerak massa mundur, maju, mundur lagi, itu bukan sesuatu yang baru atau tiba-tiba. Mereka sudah terbiasa dengan gerak massa itu sejak masa pubernya di sekolah menengah. Tawuran pelajar. Ya, apalagi? Gerak massa mundur, maju, mundur dalam demonstrasi mahasiswa dan tawuran pelajar itu hampir mirip. Dulu pelajar berkelahi antar sesama mereka sendiri, sekarang para demonstran tawuran dengan tentara. Sebuah pengalaman menantang yang lebih dahsyat. Ini bukan fenomena sosial yang bisa dinilai dengan kacamata benar atau salah, baik atau buruk. Ini sebuah fakta historis pendidikan riil yang bagi mereka sangat membebaskan, meminjam istilah Paulo Freire: Konsientisasi. Bagaimana penjelasannya? MEMBALAS "ORANG TUA" Sejak kecil sesungguhnya, anak menolak diperlakukan secara kasar dengan kekerasan. Tapi ketika hal itu terjadi mereka tak bisa melawan karena kebiasaan umum menganggap bahwa melawan orang tua itu dosa dan durhaka. Kepercayaan diri sebagai individu dilemahkan. Lalu ketika anak belajar di sekolah menengah, kepercayaan diri menguat secara komunal, anak merasa berani di dalam massa, baku hantam dengan massa pelajar sekolah lain yang tak kalah nekadnya. Lulus dari SMA, jadilah mahasiswa, mulai menyerap teori-teori sosial yang kritis. Ketika buku-buku marxist dilarang, buku-buku itu justru menjadi "porno" secara sosial. Mahasiswa mengupas halaman demi halaman, sembunyi-sembunyi tapi penuh gairah seperti menonton film biru. Lalu mereka melihat realitas sehari-hari dan bertanya, mengapa ada kemiskinan? Bagaimana mungkin ada kesenjangan kaya miskin yang keterlaluan? Dan di tengah realitas yang senjang itu, mereka melihat apa yang dilakukan tentara, mulai dari prajurit sampai perwira. Apa kesimpulan? Dalam aksi bersama masyarakat tentu mahasiswa tidak mungkin memaparkan penjelasan yang terlalu akademis. Mereka menyimpulkannya dalam lagu ketika berdemonstrasi. Begini liriknya, "Tentara Nasional Indonesia, bubarkan saja! Tidak berguna, diganti Menwa ya sama saja. Lebih baik diganti Pramuka. Naik Bis kota nggak pernah bayar, apalagi makan di warung tegal, suka memperkosa bini orang." (dan seterusnya lebih kasar). Aparat berharap bisa membubarkan aksi dengan kekerasan? Tidak bisa. Dikira para individu dalam gerakan massa akan menyesal setelah dibom dengan gas air mata, dipukuli, dan ditembaki? Tidak. Di kampus-kampus, mahasiswa bercerita tentang represi tentara dengan heroik, penuh kebanggaan karena mereka telah melawan, dan sering juga diselingi lelucon yang membuat kawan-kawannya terbahak-bahak. Para demonstran justru akan makin militan ketika dihadapi dengan kekerasan. "Kawan kita telah ditembaki. Telah ditembaki. Di negeri sendiri!" lagu itu berkumandang dalam aksi lanjutan yang menggugah semangat perlawanan. Dipukul, mereka akan balas pukul. Ditembak, mereka akan balas dengan bom molotov. Berkunjunglah ke sekretariat-sekretariat aksi, kampus-kampus, atau ruang senat mahasiswa! Di sana ada koleksi selongsong peluru dan tabung gas air mata, tongkat rotan tentara dan bahkan helm pasukan huru-hara (PHH). Dengan bangga mereka akan cerita bagaimana barang-barang itu bisa sampai ke tangan mereka. Ekstase kepuasan yang muncul. Mereka mengalami pelepasan yang membebaskan. Di bawah sadar, mereka telah membalas perlakuan kasar para orang tua di masa kecil. Mereka membenci kekerasan dengan memukul balik kekerasan itu, dan dengan kekerasan pula. Reaksi perlawanan massa yang berujung pada kekerasan akhir-akhir ini, besar kemungkinan tidak akan berhenti dengan cepat dan bahkan bisa makin brutal bila aparat meningkatkan intensitas represi. Satu-satunya jalan adalah memutus rantai kekerasan di berbagai pranata sosial: dalam keluarga, pendidikan, ekonomi, politik dan khususnya dimulai dari pranata pertahanan dan keamanan yang selama ini lebih didominasi dengan nilai-nilai represif. Anda pembaca, bisa memulainya di manapun posisi sosial Anda saat ini. Hentikan kekerasan! --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
