Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/31 Oktober-6 Nopember 99
------------------------------

Marzuki Darusman, Jaksa Agung:
"MERAGUKAN SAYA BOLEH SAJA"

(DIALOG): Interupsi, Pimpinan Sidang. Usulan saudari Marwah Daud bukan sikap
resmi Fraksi Partai Golkar." Pernyataan keberatan dan `klarifikasi' itu
berasal dari Marzuki Darusman, salah seorang ketua Partai Golkar. Ia
menampik usulan Marwah Daud Ibrahim, anggota F-Golkar dalam SU MPR lalu agar
wakil presiden lebih dari satu orang. Merebaklah dugaan orang. Benar Golkar
terpecah pada dua kubu. Marzuki dikelompokkan dalam `Golkar Putih' bersama
Akbar Tanjung. Ketua Komnas HAM ini pula yang menandatangani penarikan
kembali pencapresan Akbar Tanjung dari Golkar pada Rabu pagi hari, (20/10)
sesaat B.J. Habibie mengundurkan diri. Nama Marzuki Darusman pun kemudian
muncul sebagai Jaksa Agung dalam kabinet pemerintahan KH Abdurrahman
Wahid-Megawati Soekarnoputri. Waktu pengumuman, ia masih berada di kantor
Komnas HAM, Jalan Latuharhary. Ada perasan haru? "Ya, tentu saja," jawab
Marzuki pendek. Toh, sejumlah harapan dan keraguan turut mengiringi
hari-hari pelantikkannya. Beberapa pernyataan Marzuki berikut dirangkum dari
beberapa pertemuan di Komnas HAM dan saat ia menjenguk kantor baru di
bilangan Blok M:

T: Harapan kepada Jaksa Agung sekarang terutama membawa kasus Soeharto ke
pengadilan?
J: Ya. Tapi saya kira bukan itu saja. Banyak kasus-kasus lain menumpuk.
Semua menunggu penyelesaian. Skandal Bank Bali, misal saja. Anda tahu itu
bernilai ratusan miliar rupiah dan orang-orang yang terlibat punya nama
besar. Jadi pe-er pemerintah sebenarnya bukan cuma kasus Soeharto saja.
Kasus-kasus pelanggaran HAM pun terbilang tidak sedikit.

T: Anda disinyalir banyak orang diberi tugas untuk melindungi kepentingan
mantan orang-orang Orde Baru dari kemungkinan terburuk?
J: Kemungkinan terburuk bagaimana dan dari apa? Saya kira
ketakutan-ketakutan itu tidak benar. Kalau Teten (Masduki-Koordinator ICW)
ragu boleh-boleh saja. Memang orang belum lihat hasil kerja saya, khan?
Mengenai tugas sebagai jaksa agung bagaimana tergantung wewenang dan
perintah dari presiden. Beliau yang mengangkat dan ini sekedar penugasan,
saya kira. Makanya, tunggu saja dalam satu atau dua hari seusai pelantikan
pasti akan saya umumkan. Sekarang, paling-paling saya hanya bisa jawab bahwa
lembaga-lembaga peradilan harus mandiri dan diperlukan suatu jaminan politik
untuk itu.

Kalau perlu kejaksaan agung terpisah dari eksekutif biar kemandirian tadi
benar-benar bulat. Cuma penyelesaiannya tentu saja dalam jangka panjang.
Nggak bisa sesegera mungkin. Untuk sekarang lebih penting mengupayakan
bagaimana opini publik dapat menerima bahwa lembaga kejaksaan telah
benar-benar menegakkan hukum. Orang bilang mentalitas kejaksaan dan lembaga
peradilan perlu diperbaiki. Ada benarnya juga.

T: Lalu kapan pastinya SP3 Soeharto akan dicabut?
J: Secepatnya kita akan koreksi dan cari solusi optimal. Saya pernah bilang
pada pers agar pemerintahan baru menuntaskan kasus ini. Tidak perlu
bertele-tele. Sebab bagi masyarakat penerbitan SP3 tampaknya menjadi
ganjalan besar. Ada rasa ketidakadilan yang diciptakan dan itu dirasakan
sekali. Terbukti sampai dua organisasi pengacara mengajukan gugatan ke
pengadilan. Sebagai jaksa agung, paling saya mengerjakan bagian hukumnya.

T: Bagian lain?
J: Bagian politiknya tentu Presiden Abdurrahman Wahid. Tapi saya belum mau
komentar apakah penyelesaian model tawaran Gus Dur itu lebih baik atau tidak.

T: Merebak tuntutan Golkar dibubarkan. Bagaimana Anda menanggapi tuntutan itu?
J: Lho, katanya kita mau membangun demokrasi. Siapa yang diminta
membubarkan? Masak pemerintah? Atau Golkar sendiri dipaksa membubarkan diri?
Membubarkan organisasi politik seenaknya cuma dikenal dalam rejim otoriter.
Niatan kita adalah menciptakan iklim sosial politik yang lebih baru dan
lebih segar. Lebih mengutamakan kedaulatan rakyat. Jadi biar saja Golkar
tetap ada. Justru, kita perlu waktu untuk memberi Golkar kesempatan kedua
membenahi citranya di masyarakat. Saya kira di bawah Akbar Tanjung kita bisa
berharap.

T: Punya komentar terhadap pemerintahan baru?
J: Pemerintahan sekarang merupakan simbol pemutus antara masa kini dengan
masa lalu. Kepemimpinan Gus Dur didampingi Megawati menggambarkan proses
reformasi dan rekonsiliasi nasional. Saya kira mereka bakal memperkuat iklim
politik, ekonomi dan demokrasi kita. Maka, semestinya kabinet pemerintahan
ini mencerminkan suasana baru tersebut.

T: Suasana baru?
J: Kabinet baru merupakan gabungan antara aspirasi politik dengan keahlian.
Komposisinya mending begitu. Semacam kabinet rekonsiliasi sekaligus
kompetensi untuk keluar dari krisis multidimensi di dalam dan luar negeri.

T: Bukan zaken kabinet lebih baik?
J: Idealnya kabinet memang demikian. Tapi seperti saya katakan tadi, kita
perlu waktu untuk memutus masa lalu. Di samping simbol dan semangat
perubahan perlu diperkuat dengan penindakan. Perlu dilembagakan.
Menteri-menteri sekarang penunjukkannya berbeda dengan masa Soeharto. Dulu
para menteri itu ditilpun langsung oleh presiden. Sekarang khan ada
orang-orang yang memberi garansi. Sebagai orang Golkar, saya digaransi Akbar
Tanjung. Artinya, penunjukkan menteri-menteri melalui partai politik.
Kabinet garansi lah.

T: Cara ini dianggap lebih baik?
J: Saya tidak bilang begitu. Dan mungkin tidak akan bilang begitu, ha. ha. ha.

T: Sebagai jaksa agung siap diperiksa daftar kekayaan Anda?
J: Oh, tentu saja. Nggak masalah. Menjadi anggota legislatif juga mesti
mendaftarkan kekayaan, khan. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke