Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/31 Oktober-6 Nopember 99
------------------------------

MENANTI KEJAYAAN NENEK MOYANG

(POLITIK): Memanfaatkan sumber daya laut terdengar ideal. Mengapa perlu Tata
Ruang Laut untuk memulai strateginya?

Bukan cuma para nenek moyang, kita pun kini bisa berjaya di laut. Keputusan
Presiden Gus Dur untuk memfokuskan diri pada penggalian sumber daya laut,
seperti membangunkan banyak orang dari tidur. Bahwa negara Indonesia masih
punya banyak kekayaan alam untuk diolah, khususnya lau.

Perhatian pada bidang maritim ini, setidaknya memunculkan harapan baru bagi
kelanjutan pembangunan ekonomi Indonesia. Belakangan ini, nada pesimistis
lebih banyak terdengar pada saat membicarakan prospek perekonomian
Indonesia. Maklum saja, utang luar negeri yang kita miliki besarnya sudah
lebih dari US$130 milyar. Cadangan devisa pun, kabarnya, sudah minus.
Kalaupun industri yang sebelumnya sudah ada bisa bangkit, keuntungannya
hanya akan terkuras untuk membayar cicilan utang.

Pembangunan ekonomi di Indonesia selama ini, memang terlanjur salah
strategi. Sejak tahun 70-an, pemerintahan Soeharto yang dibantu para Mafia
Berkeley (para teknokrat Indonesia lulusan Berkeley, Amerika Serikat)
mengikuti mentah-mentah pola yang didiktekan AS dan sejumlah negara
kapitalis besar. Dengan iming-iming pinjaman modal terus-menerus, Indonesia
diminta berkonsentrasi pada pembangunan industri manufaktur yang sudah mulai
ditinggalkan negara-negara maju. Mereka sengaja memindahkan modalnya ke
Indonesia untuk memperoleh keuntungan dari upah buruh yang rendah.

Akibatnya, yang mendapat keuntungan hanyalah segelintir elit yang
berkolaborasi dengan pihak asing. Sementara produk industri yang dihasilkan,
ternyata tak bisa mendongkrak kas negara. Padahal, pinjaman yang diberikan
ke Indonesia berbunga tinggi. Jadilah, kita terus-menerus bergantung pada
utang baru, tanpa sadar nilainya amat sulit dilunasi.

Nah, fokus untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam, khususnya laut
ini, diharapkan bisa memutus pola ketergantungan kita pada utang. Laut
nusantara, terbukti sangat kaya. Sumber daya perikanan misalnya, menurut
perkiraan kasar, potensinya mencapai 6,70 juta ton/tahun. Terdiri atas
potensi laut pantai sebesar 1,10 juta ton, laut Nusantara 3,30 juta ton dan
kawasan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) sebesar 2,30 juta ton. Dari
potensi itu, hasil tangkapan dari laut Nusantara baru mencapai 60%.
Sedangkan kawasan ZEEI baru sekitar 16%. Dengan melibatkan para nelayan
dalam pemanfaatannya, justru bisa menambah lapangan kerja baru.

Dr. Ir. S. Sjarief Widjaja dari Fakultas Teknologi Kelautan Institut
Teknologi Surabaya (ITS) pernah mengusulkan untuk segera membuat sebuah
"Tata Ruang Wilayah Kelautan Indonesia". Untuk mempertegas, apakah
pembangunan kelautan kita akan mengandalkan produksi barang dan jasa
pelayaran seperti di Yunani misalnya; Kekuatan jasa pelabuhan seperti
Singapura, atau; Kemampuan menambang potensi sumber daya laut seperti ikan
atau mutiara, sebagaimana dilakukan Jepang dan Korea.

Dengan adanya Tata Ruang Laut yang prinsipnya sama dengan Tata Ruang Kota,
akan lebih mudah menegaskan pembagian wilayah laut sesuai dengan potensi
yang dimiliki dan tujuan pemanfaatannya. Tata Ruang Laut ini pun mesti
terintegrasi dengan darat.  Sebaliknya, pada kawasan perairan yang menyimpan
populasi ikan padat, hendaknya melarang kegiatan industrialisasi di sekitar
daratannya.

Sebetulnya, tak sulit menentukan hal ini. Sebab, banyak lembaga dalam negeri
yang sudah punya bahan-bahan dasarnya. Misalnya Lembaga Oceanologi LIPI,
Jawatan Hidrogeografi TNI-AL, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
(Bakosurtanal), lembaga-lembaga riset perguruan tinggi serta Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Semua lembaga itu mesti dilibatkan.

Bagaimanapun untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya laut, terdapat
lima kepentingan terkait -yang bila dikoordinasikan akan saling
menguntungkan. Yaitu, transportasi, sumber daya laut (hayati dan mineral),
ruang hidup (pemukiman dan nelayan), pariwisata serta pertahanan-keamanan.
Tanpa dukungan transportasi misalnya, pemanfaatan sumber daya laut sulit
optimal. Seperti banyak terjadi di Indonesia timur, pembangunan pelabuhan
laut tidak dikaitkan dengan pembangunan jalan darat di pelabuhan.

Yang juga perlu mendapat perhatian adalah usaha memberdayakan nelayan. Sudah
banyak cerita tentang hasil ikan di dalam negeri yang 'dijarah' kapal-kapal
modern dari luar. Sementara nelayan kita, malah tak bisa mengambil lebih
banyak. Soalnya, 85,5% total armada kapal ikan Indonesia terdiri dari 229
perahu layar tanpa motor dan 77.779 unit perahu motor tempel -yang sudah
ketinggalan jaman.

Di samping itu, para perusak lingkungan mesti diberi ganjaran yang berat.
Pasalnya, 80% persen pencemaran laut berasal dari kegiatan di darat. Ini
termasuk pembuangan limbah domestik dan industri ke sungai dan laut, limbah
pertanian (nitrogen dan fosfor) serta pembuangan efluen yang mungkin
radioaktif ke laut.

Terakhir, butuh konsistensi untuk mengeksplorasi  laut. Tahun lalu, tepatnya
26 September 1998, BJ Habibie menandatangani "Deklarasi Bunaken" yang isinya
adalah komitmen untuk mengembangkan, memanfaatkan dan memelihara potensi
kelautan. Namun, hingga kini, tak berbuah apa-apa. Jangan sampai ini
terulang. Bagaimana, Pak Sarwono? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke