Precedence: bulk


SURAT KE NEGRI KINCIR ANGIN (4)

untuk ken setiawan

Ya. Maaf dua hari aku absen menulis surat. Bukan
karena tidak ada yang bisda ditulis, tapi justru
sebaliknyalah. Begitu banyak, hingga tidak tahu: mana
yang harus diberi prioritas untuk kauketahui.
Sebentar nanti aku akan melihat pembukaan pameran
lukisan Joko Pekik. Pasti banyak dari sana bisa
diceritakan. Aku pengin tahu, sejauh mana pengaruh
gejolak masyarakat Indonesia akhir-akhir ini pada
karya-karya lukisan Mas Pekik itu. Sebab, pada cabang
seni yang lain - misalnya sastra dan bahkan tari -
perihal itu sudah tampak dengan sangat jelas. Seni
yang "engagee", sekarang ini, bukan lagi masalah.
Baiklah, besok aku cerita tentang itu.

Ken sayang,
Berita-berita besar kemarin dulu sampai hari ini masih
juga sama. Peringatan pada Gus Dur, juga terutama
Jaksa Agung, agar berani memenuhi tuntutan rasa
keadilan rakyat: adili Suharto dan kroni-kroninya, dan
tuntaskan pengusutan skandal "Baligate". Tapi, biarlah
semuanya itu diliput oleh oom-mu Wahana melalui
"Kristalisasi"-nya itu. Aku akan menulis hal-hal yang
ada di lapis ke-2 atau bahkan ke-3 dari kehidupan
sehari-hari. Katakanlah: cerita-cerita di balik
berita, yang mudah-mudahan menarik kaubaca. 

Benar! Selama di Jakarta aku justru tidak pernah bisa
mengikuti "Kristalisasi" teratur. Bagaimana, apakah
masih bernama "Kristalisasi"? Pada kesempatan aku
bertemu dengan Oom itu tempo hari, aku usulkan,
barangkali sesudah Gus Dur dan Mbak Mega tampil
sebagai pimpinan nasional, gelombang perjuangan itu
sudah "mengkristal". Sehingga, barangkali
"kristalisasi" sudah perlu ditingkatkan?
                          *
Kemarin dulu aku naik taksi dari Klender menuju Jalan
Dharmawangsa, Kebayoran Baru. Radi taksi itu terus
bersuara, antara warta berita, siaran musik dan
berita-berita iklan. Tiba-tiba ketika sampai di
sekitar Prapatan Pancoran, radio mengiklankan tentang
ampuhnya sabun colek merek tertentu. Tidak aku
perhatikan merek sabun colek itu, karena aku terpukau
oleh bahan yang dipakai sebagai isi pesan iklan itu.
Pada ujung pesan itu ada kata-kata kira-kira: "Semua
jadi ringan, berkat sabun colek ...!" Aku tertawa
karenanya.

"Bapak bukan orang sini, ya?" Tanya sopir taksi kaget
oleh tertawaku.

Aku, kaget oleh pertanyaannya, juga mendadak berhenti
tertawa.

"Kenapa?"Tanyaku heran.

"Apa bapak nggak pernah dengar? Iklan itu kan tiap
saat terdengar?"

Baiklah, tak usah kuperpanjang percakapanku dengan pak
sopir. Tapi yang membikin aku tertawa karena juru
perancang iklan yang dengan amat pandainya
memanfaatkan dongeng rakyat Bawang Merah - Bawang
Putih. 

Seperti kautahu, Bawang Merah yang berwajah cantik,
adalah anak tiri dalam keluarga. Bawang Putih, si anak
kandung, menjadi iri karenanya. Maka Bawang Merah
diperlakukan sebagai budak tersia di dalam keluarga.
Semua pekerjaan rumah dibebankan pada Bawang Merah.
Segala macam cucian bertumpuk-tumpuk diberikan pada
Bawang Merah. Jika Bawang Merah versi dongeng rakyat
ditolong oleh Dewa yang turun dari langit, maka Bawang
Merah versi Indonesdia mutakhir ditolong oleh sabun
colek! Oleh produk kehidupan modern! Tidakkah ini
patut ditertawakan?

Tapi, Ken sayangku, sesudah aku tertawa, dalam diamku
aku berpikir. Di balik pesan ini sesungguhnya tersirat
pesan yang lebih mendalam - setidaknya ada dua butir:
satu, konflik antara perempuan, karena iri hati yang
timbul oleh kecantikan; dan kedua, produk modernisasi
yang toh tidak memberikan kebebasan pada perempuan. 

Ken sayang,
Aku sudahi di sini dulu. Besok kita teruskan lagi,
yaitu tentang perempuan sebagai objek iklan - yang
selintas pernah juga kita bicarakan di Kockengen,
Bukan?

Hersri

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke