Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 39/II/7-13 Nopember 99
------------------------------

LONG FORM PwC TAK OTENTIK

(PERISTIWA): Longform PwC yang diserahkan ke DPR diduga telah diubah oleh
Tim  Sukses BJ Habibie. Selain halaman 54 hilang, sejumlah nama raib.

Keterbukaan adalah syarat sebuah negara yang beradab, modern, berdasarkan
hukum dan demokratis. Namun, terhadap keterbukaan, yang  seolah-olah datang
seperti rahmat, janganlah ditanggapi dengan ephoria. Sebab, belum tentu
keterbukaan itu seperti cahaya lampu dari sebuah lokomotif di atas rel
kereta api, yang memberi cahaya penerangan. 

Keterbukaan itu bisa saja semu dan kamuflase. Ibarat cahaya lampu lokomotif
tadi, bukannya memberi secercah penerangan, tetapi bisa terjadi malah
membawa maut bagi di depannya. Itulah yang kini terjadi di gedung DPR, Senayan.

Long Form atau Laporan lengkap Pricewaterhouse Coopers  (PwC) tentang hasil
audit Bank Bali pekan lalu baru saja dibuka ke  publik oleh Ketua DPR Ir.
Akbar Tanjung, atas desakan Dana Moneter  Internasional (IMF), namun tidak
berarti itulah tanda keterbukaan sebagaimana diharapkan dalam Indonesia Baru
nanti.

Soalnya, laporan lengkap dari hasil audit bank yang dipimpin oleh Rudy Ramly
dan melibatkan sejumlah nama pejabat negara, pengusaha dan pejabat publik
lainnya di era Pemerintahan Transisi BJ Habibie, ternyata tak bisa dipercaya
begitu saja keotentikan dan kebenarannya. 

Menurut Direktur Yayasan LBHI Bambang Widjoyanto SH, masyarakat jangan
percaya begitu saja dengan hasil audit PwC yang baru saja dipublikasikan
secara resmi oleh DPR pimpinan politisi Orde Baru itu. Sebab, isinya diragukan. 

"Jadi, hendaknya pimpinan DPR dan anggota DPR dan masayarakat luas lainnya
melakukan crosscheck dengan laporan audit aslinya yang kini berada di tangan
lembaga akuntan publik berkedudukan di Amerika Serikat itu. Jangan percaya
begitu saja isinya," jelasnya dalam keterangan pers kepada para wartawan.

Keraguan dan ketidakpercayaan terhadap Laporan lengkap audit PwC, yang sejak
diberikan oleh PwC disimpan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan
kepolisian itu, memang muncul tak lama setelah Akbar Tanjung mengumumkan
publikasi hasil audit sknadal Bank Bali tersebut. "Nama-nama seperti Pak
Habibie, juga konon nama Amien Rais, Akbar Tanjung dan lainnya kok nggak
ada," tanya wartawan kepada Ketua Komisi IX DPR dr Sukowaluyo Mintorahardjo,
ketika menerima 10 lembar Flow of fund Analysis atau aliran dana skandal
Bank Bali di lantai III gedung DPR.

Waktu itu, Sukowaluyo dari F-PDI Perjuangan hanya menyebutkan, tidak adanya
sejumlah nama di aliran dana yang selama ini ramai dibicarakan masyarakat,
tidak berarti lolos dari kejaran penyelidikan tim gabungan Komisi II dan IX
DPR, yang akan menuntaskan penyelidikan skandal Bank Bali. Kedua komisi
bidang hukum dan ekonomi serta perbankan itu, sejak 5 November lalu memang
akan kembali meneruskan kerja Pansus DPR periode sebelumnya untuk membongkar
misteri skandal Bank Bali yang sudah menilep uang rakyat bank sebesar Rp500
milyar. 

Ketika BPK di bawah pimpinan orang dekatnya BJ Habibie, yaitu  Billy Joedono
menolak untuk mengumumkan hasil audit PwC, naskah  audit tersebut sudah
beredar di kalangan terbatas. "Bab VII dan  VIII-nya itu sudah beredar. Nah,
di situ sudah ada nama-nama seperti Habibie, Amien Rais, dan tiga nama tokoh
yang sekarang menjadi menteri di Kabinet persatuan nasionalnya Gus Dur dan
Megawati," ujar pengamat perbankan yang tercatat di sebuah parpol, yang
kalah  pemilu. 

Nama-nama menteri itu adalah Yusril Ihza Mahendra (Menteri Hukum dan
Perundang-undangan), Hamzah Haz (Menko Kesra dan Taskin) serta Bomer
Pasaribu (Mennaker). "Tetapi setelah long form PwC audit Bank Bali versi DPR
dipublikasikan, nama-nama itu menghilang. Wajar  saja ketiga orang itu
menyangkal terlibat dan akan menuntut siapapun hanya menuduhnya sembarang
bahwa mereka terima uang panas dari Djoko Tjandra dirut Pt Era Giat prima.
Wong namanya tidak ditemukan lagi di aliran dana PwC," kata pengamat muda
tersebut, yang wanti-wanti namanya tidak perlu disebutkan.

Laporan lengkap PwC yang dipublikasikan DPR memang pantas dicurigai. Paling
tidak, menurut sumber Xpos tersebut, setidaknya ada dua bukti yang bisa
memperjelas bahwa hasil audit itu sudah diubah demi kepentingan melindungi
sejumlah mantan pejabat negara dan pejabat publik lainnya. 

"Pertama bisa terjadi pengubahan secara signifikan atas substansi audit PwC,
sehingga sejumlah nama bisa diubah dan mencari nama-nama pengganti baru,
yang rentan untuk dikambinghitamkan.  Kemungkinan kedua, mengubah dengan
cara membuang beberapa lembar laporan yang justru sangat vital. Misalnya,
yang menyebutkan sejumlah nama Habibie, dan nama-nama anggota menteri
kabinet  sekarang ini," ujar sumber tersebut. 

Bukti pertama adalah soal kode tertentu yang dikeluarkan oleh PwC. Dalam
Long Form PwC versi PwC, tertulis tanggal dan jam penyerahan laporan
tersebut ke BPK, yaitu pada 7/9/1999 12:34 dan  tertulis Copy Number 1.
Namun, ternyata, long form versi DPR, tertulis  8/9/1999  17:34 dan Copy
Number 2.

"Ini sudah beda. Patut dipertanyakan dari mana versi kedua ini. Siapa yang
sudah mengubah dan merevisi nama-nama yang ada menjadi tidak ada," ujar
seorang anggota Komisi IX.  

Bukti yang kedua yaitu hilangnya halaman 54 di laporan lengkap PwC, yang
justru isinya menyebutkan nama-nama orang yang selama ini ramai jadi
perbincangan di masyarakt sejak September lalu. "Mungkin saja penghilangan
halaman 54 ini merupakan kesengajaan. Nah, inilah yang disebut kemungkinan
kedua tadi, yaitu dengan cara membuang halamannya yang isinya signifikan,"
lanjutnya. 

Sekarang, untuk menyatakan kebenaran atau kepalsuan laporan PwC, jelas hanya
bisa ditentukan oleh PwC sendiri. DPR sendiri sudah mengundang PwC Jumat
sore (5/11) untuk mengklarifikasi naskah laporan yang sebenarnya dan
otentik. Hasilnya? 

Tergantung pada apakah PwC tetap otonom, sehingga bisa menyatakan yang putih
adalah putih dan hitam adalah hitam. Ataukah justru sudah dibeli?
Walahualam. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke