Precedence: bulk


MAYJEN TNI SUAIDI MARASSABESSY 

        JAKARTA, (TNI Watch!, 11/11/99). Sehubungan dengan mutasi
besar-besaran TNI baru-baru ini, banyak media cetak maupun elektronik yang
mengulas latar belakang perwira-perwira yang dipromosikan. Salah satu item
yang disebut, adalah tahun kelulusan perwira-perwira tersebut dari Akmil.
Ketika menyebut tahun kelulusan atau angkatan tahun sekian itulah, banyak
media masih kurang tepat dalam menyebut angka tahunnya. Misalnya Letjen TNI
Johny Lumintang, ada yang menyebut angkatan 1970, yang lain menyebut
angkatan tahun 1971. Juga jendral lain yang sedang naik daun, yaitu Mayjen
TNI Suadi Marassabessy, ada yang menyebut angkatan 1970, ada yang menulis
angkatan 1971, atau 1972. Jadi mana yang benar?

        Sebelum membicarakan soal angkatan, perlu dipertanyakan terlebih
dahulu, apa pentingnya ribut-ribut soal angkatan, maka penyebutannya harus
akurat? Tentu saja penting, karena ini soal keakuratan data. Karena data
berdampak langsung pada analisa. Bila datanya kedodoran, bisa kita bayangkan
seperti apa analisanya nanti. Ini adalah alasan yang paling mendasar.

        Khusus mengenai akurasi data lulusan Akmil, arti pentingnya untuk
melihat konstelasi di tubuh TNI. Misalnya periode ini, angkatan mana yang
paling banyak menduduki tempat strategis? Kemudian bagaimana proyeksi ke
depan, bagi angkatan lainnya. Juga untuk melihat keteraturan alih angkatan.
Pergantian jabatan Kaster misalnya, termasuk pergantian yang
centang-perentang dari segi angkatan. Posisi TNI Letjen TNI Susilo Bambang
Yudhoyono (angkatan 1973) diganti oleh seniornya di Akmil Letjen TNI Agus
Wijoyo (angkatan 1970). Dulu, ketika Letjen TNI SB Yudhoyono ditunjuk
sebagai Kassospol TNI (kemudian berganti nama menjadi Kepala Staf
Teritorial/Kaster), ia menggantikan seniornya yang "sangat jauh" Letjen TNI
M Yunus Yosfiah (angkatan 1965).

        Sebagaimana disebut di atas, masalah angkatan bisa untuk melihat
konstelasi politik. Maksudnya, jika seseorang perwira memperoleh posisi yang
sangat menentukan, ia sebisa mungkin, akan menarik teman-teman sekelasnya
untuk sama-sama "naik", karena ikatan emosional yang kental. Kondisi semacam
itu memang tidak transparan, tetapi hal itu sangat terasa, setidaknya
seorang perwira umumnya lebih memprioritaskan teman seangkatannya, ketimbang
adik atau kakak kelasnya. 

        Berikut adalah daftar nama perwira yang dipromosikan baru-baru ini,
beserta angkatannya, sesuai buku "Daftar Alumni Akademi Militer" terbitan
Dinas Penerangan dan Humas Akmil Magelang:
1. Letjen TNI Fachrul Rozi (Wakil Panglima TNI, 1970)
2. Letjen TNI Soegiono (Sekjen Dephankam, 1971)
3. Letjen TNI Agus Wijoyo (Kaster TNI, 1970)
4. Letjen TNI Johny Lumintang (Gubernur Lemhanas, 1970)
5. Letjen TNI Djamari Chaniago (Wakil KSAD, 1971)
6. Mayjen TNI Suadi Marasabessy (Kasum TNI, 1971)
7. Mayjen TNI Djadja Suparman (Pangkostrad, 1972)
8. Mayjen TNI Ryamizard RC (Pangdam Jaya, 1974)
9. Mayjen TNI Sudi Silalahi (Pangdam V/Brawijaya, 1972)
10. Mayjen TNI Agus Wirahadikusumah (Pangdam VII/Wirabuana, 1973)
11. Mayjen TNI Purwadi (Asrenum Kasum TNI, 1971)
12. Mayjen TNI Slamet Supriadi (Pangdam III/Siliwangi, 1971)
13. Mayjen TNI Endriartono Sutarto (Dan Sesko TNI, 1971)
14. Mayjen TNI Adam Damiri (Asops Kasum TNI, 1972)
15. Mayjen TNI Kiki Syahnakri (Pangdam IX/Udayana, 1971)
16. Mayjen TNI Amir Sembiring (Asops KSAD. 1970)
17. Mayjen TNI A Gaffar (Dan Pussenif, 1972)
18. Mayjen TNI Albert Inkiriwang (Pangdam VIII/Trikora, 1972)
19. Kol Inf. Asril Hamzah Tanjung (Kasdam I/Bukit Barisan, 1973)

_______________
TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi prilaku TNI,
dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranya, pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang
dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya
agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama.


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke