Precedence: bulk


SENIMAN, PENGUNJUK RASA DAN POLITISI
-------------------------------------

Oleh JJ. KUSNI

Kejadian bahwa sekelompok seniman yang menggelarkan sebuah pertunjukan
tentang cacat fisik Gus Dur, setelah yang terakhir ini dipilih menjadi
presiden, disusul oleh unjuk rasa sejumlah anggota NU serta sikap Gus
Dur sendiri dalam menanggapi pertunjukkan tersebut, berikut sementara
pendapat dalam bentuk surat pembaca SiaR tentang hal yang sama, bagi
saya sungguh merupakan hal menarik. Boleh jadi awal permasalahan adalah
sesuatu yang sederhana yaitu bermula dari sebuah pementasan, disusul
oleh sebuah unjuk rasa lalu tanggapan Gus Dur sebagai pihak yang
bersangkutan, bukan sesuatu peristiwa besar dan teramat penting, tetapi
pertanyaannya: "Tidak adakah masalah-masalah prinsipil di balik kejadian
tersebut?". 

Kejadian di atas melibatkan tiga pihak, yaitu: (1). para seniman yang
menyelenggarakan pementasan; (2). para pengunjuk rasa dan yang terakhir
(3). Gus Dur baik sebagai individu maupun sebagai presiden. 

Untuk mengomentari pertanyaan di atas, saya memepertimbangkan kedudukan
ketiga pihak tersebut.

Posisi Sebagai Seniman:
-----------------------
Penggunaan karya seni dalam berbagai bentuk untuk mengetengahkan
pikiran, usulan, kritik, sindiran, pembelejedan bahkan makian dan
lain-lain, kiranya bukanlah barang baru baik bagi Indonesia maupun di
negeri mana saja yang masih tergolong negara demokratis. Negara-negara
demokratis membiarkan hal ini sedangkan yang diktatorial akan tanpa
ampun menindasnya. Di Indonesia pada zaman Jepang, untuk hanya mengambil
satu contoh, seorang seniman ludruk Surabaya mengomentari pendudukan
fasis Jepang dengan kata-kata: "pagupon omahe doro/melu Nipon tambah
sengsoro". Gara-gara komentar ini, sang seniman ludruk tersebut terpaksa
membayar pendapatnya itu dengan nyawanya sendiri. Dilihat dari sudut
pandang perlawanan terhadap penindasan, ketidak-adilan, pemasungan
pendapat maka bahasa plesetan yang umum di negeri ini, saya kira, bisa
dikategorikan ke dalam cara pengungkapan pikiran serta perasaan. Tentu
akan menjadi daftar sangat panjang jika contoh-contoh lain kita deretkan
di sini. Yang mau saya katakan dengan contoh ini bahwa sastra-seni umum
digunakan guna menyampaikan pikiran dan perasaan. Di bawah sistem
masyarakat demokratis hal demikian diperkenankan serta memperoleh tempat
berkembang sehingga para sastrawan-seniman tidak perlu kawatir oleh
ancaman represif dari pihak penguasa. Di Prancis dewasa ini misalnya
hampir tidak seorang politisi dan tokoh masyarakat tingkat nasional
manapun yang luput dari sindiran, kritik baik secara serius maupun
secara humorisitik. Kritik, sindiran dan pengemukaan pendapat, sekalipun
terhadap presiden bukanlah hal tabu dan terlarang. Dalam hal ini berbeda
dengan Indonesia pada zaman Orba di mana presiden dan keluarga tidak 
boleh dikritik, pantang dicela seakan-akan mereka manusia dari turunan
istimewa tidak mengenal cacat-cela walaupun jelas-jelas melakukan
rupa-rupa tindakan yang tingkatnya  melebihi takaran  kesalahan dan
kekeliruan. 

Masalah selanjutnya adalah apa yang dikritik dan disindir atau dimaki.
Di sini saya tidak mempertanyakan bagaimana cara mengajukan kritik,
pendapat dan sindiran atau makian, tetapi apa materinya. Bagi seorang
sastrawan atau seniman yang berprinsip dan tahu tata-krama,selayaknya
tidak memperolok-olokkan cacat fisik pribadi seseorang entah ia itu
seorang presiden ataupun seorang penduduk kampung yang tinggal jauh di
hulu sungai atau di puncak gunung. Tidak menyentuh cacat fisik pribadi
seseorang, kiranya,  merupakan takaran sopan-santun minimal di dalam
masyarakat beradab. Apalagi menertawakan cacat fisik tersebut atau
menjadikannya sebagai bahan lelucon atau dagelan sebab cacat fisik
bukanlah sesuatu yang lucu dan pantas ditertawakan. Melucu atau melawak
adalah satu soal, tetapi apa yang diangkat sebagai bahan dagelan itu
soal lain dari mana kita bisa mengukur taraf atau kwalitas pelawaknya
itu sendiri sebagai manusia dan seniman. Mengangkat tema cacat fisik
seseorang untuk menjadi bahan dagelan atau lelucon sesungguhnya yang
layak ditertawakan dan dikasihani itu justru pendagel atau pelawaknya
itu sendiri karena telah mempertontonkan diri sebagai pelawak rendahan
yang tidak tahu sopan-santun minimal bermasyarakat. Tidak mempunyai
wawasan politik dan budaya, seorang pelawak yang kosong isi kepalanya.
Ia hanya mempunyai ketrampilan tekhnis tapi tidak diiringi oleh isi otak
dan ketajaman melihat serta menganalisa masalah. Dunia seni memang
adalah republik sendiri. Tetapi tidak semua yang mengaku diri seniman
otomatis menjadi warga republik seniman. Untuk menjadi warga republik
seniman, si seniman selain memiliki ketrampilan teknhis juga memiliki
wawasan kemasyarakatan. Dengan wawasan ini, ia mengamat, membedah
masyarakat dan mengungkapkan pandangan-pandangannya termasuk lawakannya
melalui media seni.Jika hukum sudah tegak di negeri ini, bukan tidak
mungkin seniman jenis demikian bakal dibawa ke pengadilan sebagai
melakukan penghinaan pribadi di depan umum.

DARI PIHAK PENGUNJUK RASA
-------------------------

Ketidak senangan pihak pengunjuk rasa terhadap lawakan rendahan demikian
bisa saya pahami. Mengingat tingkat atau mutu lawakan demikian (setidak-
tidaknya dalam pilihan tema lawakan), maka boleh jadi unjuk rasa damai
sebagai salahsatu cara mengemukakan pendapat, ada baiknya sebagai
salahsatu bentuk sekolah di mana para seniman bisa belajar atau bentuk
pengobatan sentakan agar cepat sembuh. Apalagi masyarakat Indonesia oleh
32 tahun kekuasaan Orba telah dibuat sakit parah, termasuk mentalitas
manusia. Tetapi saya pun kawatir jangan-jangan (dan saya harapkan tidak
demikian) unjuk rasa itu dilakukan JUGA bertolak dari perasaan sebagai
partai pemenang (dalam artian bisa menduduki kursi orang pertama
Republik) dan berangkat dari pendapat bahwa pimpinan kami tidak boleh
dikritik, tidak boleh disindir, tidak boleh diguraui. Jika kekawatiran
saya ini memang terdapat, maka saya kira cara berpikir dan bersikap
demikian adalah salah dan berbahaya. Salah dan berbahaya karena Gus Dur
bukanlah manusia sempurna sehingga iapun perlu bantuan berupa kritik
termasuk sindiran (sebagai salah satu bentuk kritik).Menyayangi Gus Dur
bukan berarti memuja-mujinya saja, tetapi kesayangan dan sokongan
kepadanya justru yang paling berharga adalah berupa kritik, usulan dan
kerja keras serta menjadikan diri kita untuk terus berkembang menjadi
demokrat-demokrat atau kaum republiken entah ia beragama Islam,
Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Kaharingan, dan lain-lain. Jika atas
nama menyayangi Gus Dur lalu ia tidak boleh dikritik, lalu kita tidak
memperkenankan orang mengkritiknya maka sikap dan cara berpikir demikian
sama dengan mengembangkan kultus individu dan otoriterianisme. Dari apa
yang saya kenal, Gus Dur bukan orang jenis itu. Mudah-mudahan unjuk rasa
terhadap para seniman pementasan, tidak dilakukan berdasarkan dasar
pikiran terakhir itu, tetapi semata-mata oleh ketidak-puasan yang belum
menemukan cara pengungkapan lain yang lebih cocok.

DARI SISI GUS DUR:
------------------
Baik sebagai pribadi dan lebih-lebih dari posisinya sebagai seorang
presiden alias negarawan (walaupun tidak otomatis seorang presiden
adalah seorang negarawan), sikap Gus dalam menanggapi kejadian di atas
sungguh sangat Gus Durian. Betul-betul sebagai seorang demokrat. Apalagi
jika kita ingat undangan beliau untuk terus dan jangan berhenti
mengkritiknya. Sikap Gus Dur mengingatkan saya pada kata-kata seorang
pemimpin Asia: "Yang berkata tidak berdosa, yang mendengar patut
waspada".  Menemui sendiri para pengunjuk rasa di depan istana dan
melambaikan tangannya kepada mereka, sungguh merupakan pertemuan dan
lambaian tangan penuh makna. Saya seperti melihat Gus Dur sedang
melambaikan tangan kepada hari depan tanahair yang demokratis, lambaian
kepada semua sahabat serta ajakan untuk kerja keras menyongsong
haridepan itu. Tiga puluh dua tahun lebih, para demonstran, para
pengkritik dan rakyat kecil hanya menerima tikaman mata peluru, siksaan
demi siksaan dan dikirim ke ruang pengap penjara yang tidak manusiawi.
Lambaian tangan Gus Dur dan sikapnya menanggapi ledekan seniman lawak
itu, seperti juga mengatakan bahwa "massa dan hanya massa lah pahlawan
sejati". Benarkah demikian Gus?!


Paris, Oktober 1999.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke