Precedence: bulk CATATAN PERJALANAN KE BUMI LORO SA'E Dear Joko dan Riri, Sorry, Jok, aku belum memenuhi janjiku. Males aku menceritakan konsep otonomi luas itu. Tapi karena sudah terlanjur janji, pasti aku akan tulis untuk kamu. Suratku kali tentu juga masih cerita yang memedihkan hati, tapi kalian tetap harus menyimaknya. Kalian pun harus tahu beginilah tingkah laku dan perbuatan yang keji yang telah dilakukan oleh tentara maupun oleh milisi. Kenapa ya kita jadi sulit ngobrol seperti dulu? Mungkin karena masing-masing di antara kita dijerat kesibukan yang tak ada habis-habisnya, ya? Aku dengar dari Tito kalau Joko semakin sering bepergian ke luar kota setelah ia dipromosikan. Syukurlah. Aku percaya kamu pun akan meraih impianmu, Ri. Aku juga denger kalau Joko mau melamar pacarnya sebelum bulan puasa tiba. Kapan kamu menyusul? Jangan kalah dengan Joko, dong. Percayalah, aku tak akan mungkin melupakan kalian berdua. Meski aku sering ngilang, begitu istilah Joko, aku pasti akan sempatkan jika ada di antara kalian yang menikah. Ternyata aku tukang ngobrol, ya. Asyik juga menulis surat untuk kalian. Kali ini aku akan menceritakan laporan yang ditulis oleh forum komunikasi untuk perempuan Timor Lorosae, yang dikenal sebagai Fokupers. Mereka menulis tentang kekerasan terhadap perempuan. Apa itu fokupers, pasti kalian akan bertanya. Fokupers sebuah organisasi yang bekerja untuk hak asasi dan pemberdayaan perempuan, yang berbasis di Dili. Mereka telah mencatat peningkatan angka kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Perempuan yang ditinggalkan oleh anggota keluarga laki-laki yang bersembunyi atau dipaksa untuk masuk milisi, menanggung beban keluarga yang semakin berat. Dalam kondisi seperti itu, para perempuan tersebut juga menjadi semakin rentan terhadap kekerasan seksual. Pengungsi perempuan juga menjadi target kekerasan. Aktivis-aktivisnya juga mendampingi perempuan korban kekerasan yang kembali mengalami trauma dari meningkatnya ketegangan di lingkungannya. Penandatanganan Kesepakatan 5 Mei antara pemerintah Indonesia, Portugal dan PBB itu ternyata tak semulus di lapangan. Di Timor Lorosae justru muncul kelompok-kelompok milisi yang mulai melakukan aksi teror terhadap masyarakat. Rupanya sejak akhir 1998, paling sedikit terdapat 22 kelompok milisi baru yang dibentuk dan dipersenjatai dan itu menambah jumlah kelompok milisi yang telah ada sejak pertengahan tahun 80-an. Aktivitas mereka menyebabkan ketakutan di seluruh pelosok Timor Lorosae. Meskipun kehadiran PBB di Timor Lorosae telah memberi sedikit rasa aman di Dili, tapi hal yang sama tidak dapat dirasakan masyarakat di wilayah-wilayah lain di luar Dili, khususnya di sektor barat. Apa saja bentuk kekerasan terhadap perempuan? Fokupers telah mendokumentasikan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang jumlahnya tak sedikit. Situasi ini tidak dapat dipisahkan dari konteks politik yang berkembang, di mana kekerasan dilakukan oleh kelompok bersenjata dukungan pemerintah Indonesia terhadap masyarakat sipil yang dianggap berbeda pandangan politik. Meningkatnya kekerasan negara terhadap perempuan, baik oleh milisi maupun aparat keamanan, mencerminkan praktek pengabaian yang disengaja oleh negara dan ketidakpastian hukum, di mana kekerasan terhadap perempuan tidak dapat diproses secara hukum. Fokupers mengakui bahwa ada juga masalah kekerasan domestik. Namun, kasus-kasus seperti itu tidak dominan dalam beberapa bulan terakhir. Joko, dalam laporan ini ditampilkan sejumlah kasus yang polanya menggambarkan keseluruhan keadaan yang dihadapi perempuan di Timor Lorosae. Untuk menjaga kerahasiaan, nama-nama korban telah mereka samarkan. Jangan beranggapan bahwa kasus-kasus ini fiktif. Teman-teman di Fokupers telah mengkonfirmasikannya melalui pertemuan langsung dengan korban maupun saksi mata. Coba deh kalian simak penuturan mereka tentang penahanan sewenang-wenang dan penyiksaan oleh aparat militer. Dalam suasana konflik bersenjata seperti di Timor Lorosae, perempuan menempati posisi yang sangat sulit. Akibatnya, kerap kali perempuan dijadikan target teror dan intimidasi, bahkan kekerasan fisik yang bertujuan untuk melemahkan pihak lawan. Kehadiran militer di seluruh wilayah Timor Lorosae, keterlibatan mereka dalam semua aspek kehidupan rakyat, serta tidak adanya sanksi bagi aparat yang melakukan tindak pelanggaran hukum menyebabkan perempuan semakin rentan terhadap kekerasan oleh militer. Pada tanggal 9 November satu tahun lalu telah terjadi penyerangan terhadap markas Koramil Alas, Kabupaten Same. Karena takut akan ada penangkapan massal, Avina [22] dan Atina [20] melarikan diri ke kampung Barike, Desa Fahinihan. Pada tanggal 13 November 1998, Tentara 744 dan BTT 315 yang bertugas di Fahilekimau menangkap kedua korban dan dibawa ke kampung Daramata. Selama penahanan di Daramata, kedua korban telah mengalami penyiksaan. Pada tanggal 14 November 1998, kedua korban dipindahkan ke pos BTT 315 di Fahilekimau. Di sana korban diancam akan dibunuh. Keesokan harinya korban dibawa ke Kodim Same, kemudian dijemput oleh Polisi ke Polres Same dan kemudian mereka dibawa ke Polda Timor Lorosae. Selama korban ditangkap, korban disiksa, dipukul sampai menderita luka parah. Ini pengalaman Asinha, seorang ibu rumah tangga dari Desa Letefoho Kecamatan Letefoho Kabupaten Ermera. Pada 20 Desember 1998, ia dianiaya dan dicaci-maki oleh Antonio Dos Santos, seorang anggota Kodim Ermera yang merangkap Kepala Desa Letefoho, tanpa sebab-musabab. Seminggu kemudian Asinha didatangi salah seorang keluarga Antonio, Miguel Soares yang mengancam dia dan keluarganya dengan pistol. Akibatnya, Asinha dan keluarganya melarikan diri ke Dili. Kejadian yang menimpa Menia mengalami pelecehan seksual dan intimidasi oleh aparat keamanan desa, pada 10 Juni 1999, sekitar pukul 12.00 di Desa Mota Ulun, Kecamatan Bazartete, Kabupaten Liqui�a. Babinsa bernama Cipriano de Fatima mendatangi rumah Menia dan tanpa permisi langsung saja memeluk perempuan berusia 18 tahun itu. Cipriano kemudian berjanji akan membayar Rp 20.000 jika Menia mau melayani nafsu seksualnya. Karena Menia takut ia lalu melarikan diri ke rumah tantenya. Namun, aparat itu segera menyusul dan meninggalkan pesan bahwa ia akan kembali pada sore hari untuk bertemu dengan Menia. Saking takutnya ia segera melarikan diri ke Dili pada hari itu juga. Setelah gagal "merayu" Menia, Capriano mencari mangsa lain. Aparat itu mendatangi rumah Alma untuk maksud yang sama. Dengan paksa ia memeluk Alma seraya mengangsurkan selembar uang Rp. 5.000. Tapi, perempuan mana yang mau diperlakukan semena-mena? Karena sudah ngebet 'kali, ya, Capriano memaksa Alma agar menerima uang itu sambil mengancam akan menembak jika Alma menolak. Setelah itu Capriano segera meninggalkan Alma. Joko dan Riri, Fokupers telah menerima laporan tentang perempuan yang diambil secara paksa oleh milisi untuk diinterogasi, ditahan secara semena-mena, dipaksa melakukan pekerjaan rumah tangga, maupun mengalami kekerasan seksual. Masalah ini banyak ditemui terutama di daerah yang penguasanya adalah milisi. Para aktivis Fokupers telah menerima laporan tentang penculikan perempuan di Liqui�a, Same, dan Viqueque. "Sulit untuk memahami motivasi di belakang penculikan ini." Menyandera kaum perempuan untuk menekan para suami yang bersembunyi karena berbagai alasan. Pada tanggal 26 Februari 1999, Fina, 27, dari Desa Manutasi, Kab. Ainaro ditangkap bersama anaknya yang berusia dua tahun oleh sekelompok anggota Mahidi [Mati Hidup Demi Integrasi]. Fina dan anaknya disandera selama seminggu dan selama itu pula Fina mengalami penganiayaan. Percobaan perkosaan terjadi atas diri Arin [15]. Warga desa Ulmera Kecamatan Bazartete, Kabupaten Liqui�a mengalami peristiwa itu pada awal bulan Maret 1999, saat Arin mencari kayu bakar. Rupa-rupanya Jos� Soares, seorang anggota Kodim Liqui�a, telah membuntutinya. Ketika Arin selasai mengumpulkan kayu bakar dan hendak pulang ke rumah, Soares langsung menyergapnya. Tentara itu merobek baju Arin dan menarik roknya secara paksa kemudian Soares meremas-remas payudara dan kemaluan perempuan itu. Arin berusaha keras untuk mempertahankan diri dan mengancam akan melaporkannya istri Soares. Diancam begitu rupanya nyali Soares ciut, sehingga ia pergi meninggalkan Arin. Rupanya, pada sore harinya Soares mengunjungi orangtua Arin dengan membawa uang Rp. 100.000, sehelai sarung, dan sebotol tuak sebagai tanda minta maaf dan untuk memulihkan nama baik. Keluarga Arin menampik pemberian itu, tapi karena takut akhirnya mereka menerimanya. Namun, kejadian itu tetap dilaporkan kepada Kepala Desa Ulmera. Tapi, laporan ya tetap tinggal laporan. Tak ada upaya penyelesaian secara hukum. Asia [17], dari desa Ritabou-Moleana, pada 19 Maret 1999 sore mengalami penyerangan oleh milisi Halilintar. Hari itu Asia bersama keluarganya baru pulang dari sawah. Tepat pukul 18.00 rumah orangtua Asia diserang oleh milisi yang berpakaian ala ninja. Para milisi melepaskan tembakan secara membabi buta ke dalam rumah. Asia pun terkena tembakan dan mengalami luka parah di bagian dada dan tangan kirinya, sehingga harus dioperasi. Semua harta milik Asia, berupa uang Rp 75.000, tape recorder, delapan buah kaset dan pakaian dijarah oleh milisi Halilintar. Kejadian ini lain lagi.� Pada 6 April, 23 orang perempuan, masing-masing bernama Zinha [27], Ana, Tina [30], Lina [20], Dita [17], Mena [18], Ria [16], Mapha [18], Tabe [25], Rina [20], Ceia [23], Adina [18], Aluci [20], Aria [21], Mica [18], Ali [18], Ana [23], Ladina [20], Rosa [18], Meli [28], Osa [17], Ita [21], dan Neta [16] -- ditahan secara paksa oleh BMP di pos BMP di desa Gukleur. Selama mereka ditahan tanpa sebab itu keduapuluh tiga perempuan itu diperlakukan secara tidak manusiawi, termasuk dipaksa untuk memasak dan mencuci pakaian para milisi serta menjadi obyek pelecehan seksual. Anina [30] seorang ibu rumah tangga, Desa Letefoho Same, ditangkap oleh milisi ABLAI saat ia dan adik iparnya dalam perjalanan dari Dili ke Same, pada 21 Mei lalu kemudian ia dibawa ke Markas ABLAI untuk diinterogasi karena ia dituduh mengirim makanan untuk Falintil. Selama ditahan Anina disiksa, dicaci-maki, difitnah dan dipekerjakan sebagai tukang cuci pakaian dan memasak untuk team ABLAI. Ia pun diancam akan dibunuh jika suaminya tidak turun ke kota. Seminggu kemudian, ia dibebaskan oleh Bupati Same yang kebetulan berkunjung ke markas milisi "Aku Berjuang Lestarikan Amanat Integrasi itu. Ini kejadian di tempat lain. Pada 1 Juni 1999, Moris Terus [25], Desa Hospilat, Kecamatan Suai. Ia menjaga rumah oom-nya bersama kakak laki-laki dan istrinya karena pamannya itu terpaksa harus melarikan diri. Apa lagi kalau tidak diancam. Lalu, sekitar pukul delapan malam, rumah pamannya itu didatangi sekitar 20 orang anggota Laksaur yang bersenjata pisau, parang, granat, dan senjata api. Tanpa mengetuk pintu para anggota milisi itu masuk ke dalam rumah lalu memukul kakak laki-lakinya dan meminta mereka untuk menunjukkan di mana pamannya itu berada. Karena Moris dan keluarganya diam saja maka milisi mengancam akan bermalam di rumah itu. Setelah memaksa agar diberi makan, sang komandan Laksaur pun meminta Moris agar tidur bersamanya. Tentu saja Moris menolak. Akibatnya ia diancam karena menolak melayani sang komandan itu, "Kamu akan saya paksa untuk melayani semua anggota Laksaur jika tak mau melayani saya." Moris tetap diam seribu basa. Sang komandan pun tak mau menyerah. Dengan paksa ia menarik tangan Moris ke kamar tidur. Joko, tahu sendiri 'kan apa yang akan dialami Moris? Perempuan itu lalu dibanting ke atas tempat tidur dan diperkosa. Setelah puas sang komandan tetap mengancam Moris, "Jangan cerita pada siapa-siapa, kalau sampai ada yang tahu maka kamu akan saya bunuh." Kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan banyak dialami jika ada anggota keluarganya yang lelaki pergi meninggalkan rumah mereka. Kaum laki-laki itu terpaksa meninggalkan rumah karena mereka diserang oleh milisi dan laki-laki itu direkrut secara paksa untuk menjadi anggota milisi. Tak jarang di setiap rumah hanya dijaga oleh kaum perempuan. Kaum perempuan ini terutama yang masih belia akan menjadi sangat rentan terhadap kekerasan oleh aparat keamanan dan milisi yang bersenjata. "Mereka diintimidasi dan menjadi target para milisi karena mereka lah yang menjadi penghubung dengan anggota keluarga yang laki-laki." Gadis-gadis juga dipaksa untuk hadir pada setiap pesta yang diselenggarakan oleh milisi. Joko dan Riri, ini pengalaman lain dari perempuan di Timor Lorosae.� Pada 11 Februari 1999 tengah malam, Afati [29] yang bedomisili di Desa Vaviquina, Kecamatan Maubara-Liqui�a didatangi oleh seorang anggota BMP yang bernama Mariano Lacubau, karena suami Afati adalah juga anggota BMP yang tengah bertugas di pos milisi. Pelaku berkilah meminta minum, namun kemudian menyerang dan memperkosa korban. Afati tak bisa melawan karena diancam dengan samurai. Kalian tahu, pada pagi harinya ia bersama suaminya melaporkan kejadian itu ke pimpinan BMP Maubara, tapi mereka berdua malah disiksa dan dianiaya oleh pimpinan dan anggota BMP di pos mereka di Maubara. Setelah mereka dibebaskan, suami istri itu lalu melarikan diri ke Dili untuk melaporkan kejadian itu pada pihak yang berwewenang. Mereka mencari keselamatan di rumah Manuel Carrascalao, namun pada saat penyerangan oleh milisi pada tanggal 17 April 1999, suami Afati terbunuh. Seorang ibu rumahtangga bernama Amilia [36] berasal dari Dilor-Viqueque menerima surat kaleng dari milisi Makikit pada pertengahan Maret lalu, yang isinya apa lagi kalau bukan ancaman. Beberapa hari kemudian, suaminya meninggalkan rumah dan memilih tinggal bersama pamannya di desa lain, tapi pada malam itu juga para milisi yang didukung oleh Ratih [Rakyat Terlatih] dan anggota Koramil Dilor menghancurkan rumah mereka. Tak mungkin menyerah lah para milisi itu. Di i tempat pengungsian kemudian mereka menggiring Amilia ke Koramil Dilor. Dalam perjalanan, Amilia yang terus memeluk anaknya yang berumur enam tahun mengalami pelecehan seksual. Antara lain, jari dari seorang milisi itu dimasukkan secara paksa ke dalam vagina Amilia. Setibanya di Koramil Dilor, Amilia disiksa dan diancam akan dibunuh oleh aparat militer. Mau apa lagi mereka kalau tak menyelematkan diri. Amilia dan keluarganya kemudian memilih pergi ke Dili. Riri, aku sakit kepala ketika menulis surat ini. Meski saat ini rakyat Timor Lorosae tengah mempersiapkan pemerintahan atas kemerdekaan yang telah mereka raih tapi pengalaman dari kaum perempuan ini tentu tak akan mungkin mereka lupakan. Dan kalian mesti tahu bahwa ini hanya dilaporkan oleh sebagian kecil dari seluruh kaum perempuan di sana. Aku yakin, pasti ada yang tak mau menceritakan pengalaman buruk itu kepada siapa pun. Mereka memilih diam karena takut. Nanda seorang warga Desa Maumeta Kecamatan Bazartete, Liqui�a, menjadi korban intimidasi dan perkosaan. Rumah perempuan berusia 34 tahun itu terbakar saat milisi BMP membakari rumah-rumah penduduk pada 5 April lalu, sehingga ia harus menumpang di rumah sanak keluarnganya. Tapi, setiap malam selalu saja ada anggota BMP yang mengepung rumah itu untuk mencari suami Nanda. Tapi apa mau dikata kalau ia tak tahu di mana suaminya itu berada. Meski sudah dijawab kalau Nanda tak tahu di mana suaminya, para milisi itu tetap tak mau tahu. Tiga orang anggota Kodim Liqui�a: Tome, Afonso, Jacob dan seorang Wanra dari Polres Liqui�a malah merencanakan untuk membunuh korban. Untuk melaksanakan niatnya itu, Carlos Ki'ik, salah seorang anggota Wanra mendatangi rumah Nanda pada malam hari, tanggal 1 Mei 1999 dengan membawa pistol dan keris. Ketika ia diancam agar memenuhi hasrat seksual si Carlos tentu saja Nanda tak berdaya menolak. Selain takut Nanda juga mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya. Seorang anak perempuan Nanda yang berusia 13 tahun disuruh bersembunyi di bawah kolong tempat tigur agar tak terlihat oleh Carlos. Keesokan paginya Nanda melaporkan tindakan kasar Carlos itu pada pimpinan BMP. Eh, bukannya sang komandan itu menghukum Carlos malah beberapa hari kemudian Carlos bersama beberapa orang temannya mendatangi rumah Nanda dengan membawa uang Rp. 25.000, sekaleng beer, dan sebotol minuman lain sebagai tanda maaf. Tapi dasar milisi ya, ternyata mereka juga mengancam Nanda agar ia tak menceritakan kejadian itu pada siapa pun. Karena merasa semakin terancam Nanda akhirnya melarikan diri ke Dili bersama 6 anggota keluarganya, sebulan setelah kejadian yang tak mungkin ia lupakan itu. Eza seorang warga Desa Ulmera, Kecamatan Bazartete di Kabupaten Liqui�a telah ditinggal suami sejak tanggal 5 April 1999, saat penyerangan Gereja Liquica oleh milisi, untuk menyelamatkan diri dari kejaran milisi BMP. Pada 17 Mei 1999 Eza dijemput oleh tujuh anggota BMP, Victor dos Santos, Tomas, Miguel Barreto, Bento, Agusto Gin�alves, Napole�o, serta seorang lagi yang tak diketahui namanya, untuk dibawa ke kantor Desa Ulmera, dekat pos BMP. Eza ternyata tak sendirian. Di kantor desa itu ia bersama 10 perempuan lain yang juga ditinggal suami mereka. Mereka akan dibunuh kalau tidak bisa menemukan dan menyerahkan suami mereka pada BMP. Selama dalam tahanan, mereka dipaksa menjaga pos, memasak dan mencuci pakaian para anggota BMP. Beruntung akhirnya Eza berhasil melarikan diri, entah perempuan yang lain. Pada tanggal 5 April ketika BMP melakukan pembakaran dan penghancuran rumah-rumah penduduk di Liqui�a, rumah Lalita juga didatangi anggota BMP. Mereka mencari suami Lalita. Karena tak menemukan sang suami, para anggota BMP tersebut menghancurkan rumah dan memukul Lalita dan Judith, putrinya yang berusia 18 tahun, serta merobek-robek pakaian mereka hingga tinggal mengenakan pakaian dalam. Sedangkan putrinya tinggal mengenakan rok saja. Dalam keadaan demikian, para anggota BMP itu segera meninggalkan mereka. Karena rumahnya sudah dihancurkan, korban bersama anaknya menumpang di rumah sanak keluarganya. Dua hari kemudian, Judith diperkosa anggota BMP. Karena takut, mereka tidak melaporkan peristiwa itu kepada pihak berwenang. Selang sebulan, suami Lalita kembali. Dia juga disiksa secara sadis oleh BMP, bahkan diancam akan dibunuh. Ela (20 tahun) dan Ina (15 tahun), ditinggal lari oleh orangtuanya yang diancam oleh Laksaur di desa Holpilat, Kecamatan Suai. Pada saat orangtuanya melarikan diri, tanggal 6 April 1999 mereka sedang berada di sekolah, sehingga ketika mereka pulang langsung ditangkap dan ditahan oleh Laksaur selama tiga bulan. Mereka menerima ancaman, "Jika tidak mau menunjukkan di mana ayahnya bersembunyi, mereka akan dibunuh atau diperkosa." Memang, selama dalam tahanan mereka tidak disiksa maupun diperkosa. Akhirnya, mereka berhasil melarikan diri. Pada tanggal 19 Juni 1999, Nica 16 tahun, Cella 15 tahun, dan Adina 15 tahun asal Desa Hatukesi dipaksa oleh milisi BMP dari Maubara untuk menghadiri pesta di SMPK Liqui�a. Di sana para korban mengalami pelecehan seksual: tubuh mereka diraba-raba, dipeluk sambil di caci-maki. Tepat pukul 01.00 dini hari, beberapa korban perempuan lainnya diantar pulang ke rumah masing-masing sedangkan Cella dan Adina dibawa oleh anggota BMP bernama Momo dan Joao dari Desa Pukelara ke tempat yang gelap dan mereka diperkosa. Korban dan teman-temannya diancam untuk tidak membocorkan kelakuan BMP kepada orang lain, bila berani mengungkapkan maka korban dan teman-temannya itu akan di bunuh. Joko dan Riri, kalian tahu kan bahwa mengungsi itu bukan atas kemauan mereka. Mereka terpaksa meninggalkan rumah karena wilayahnya amat tidak aman. Nah, selama di barak yang ditempati para pengungsi itu kaum perempuan amat rentan terhadap kekerasan. Pengungsi internal termasuk kelompok yang paling menderita dalam konflik di Timor Lorosae. Fokupers telah bekerjasama dengan kelompok yang memberi bantuan pada pengungsi di Liqui�a, Sare, Atabae, dan Atambua. Beban yang dipikul pengungsi perempuan untuk memastikan kelangsungan hidup keluarganya sangat berat. Dengan risiko untuk menyelamatkan diri mereka terpaksa kembali ke wilayah asal untuk mencari makan. Teman-teman di Fokupers menerima laporan dari pengungsi tentang perempuan yang diperkosa selama mereka dalam pengungsian. Dalam sebuah laporan, pengungsi di Ermera mencantumkan nama dua-puluh tiga perempuan dari satu desa di Maubara yang telah diperkosa oleh Besi Merah Putih. Dalam sebuah laporan lain, pengungsi di Suai mencatat lima perempuan yang telah diperkosa oleh milisi. Rosa [30] diculik bersama Elda, anaknya yang berusia 7 tahun ditangkap BMP pada tanggal 17 Juni 1999 ketika mencoba kembali ke kampungnya di Maubara Lisa untuk berdoa di pusara orang-tuanya dan mengambil ubi. Rosa yang berasal dari Maubara Lisa harus melarikan diri ke Gariana pada bulan Februari lalu mengungsi lagi ke Faulara karena aksi kekerasan oleh BMP. Ia ditahan di Maubara selama 2 minggu. Waktu ia mendengar rencana Besi Merah Putih untuk membawa dirinya dan pengungsi lainnya ke Atambua untuk mendaftar, ia melarikan diri. Rosa dan anaknya berjalan kaki menyusuri hutan-hutan selama 2 hari untuk bertemu kembali dengan keluarganya di Faulara. Pada tanggal 18 Juni 1999, Ela [25] seorang warga Desa Licadila, Kecamatan Maubara yang telah mengungsi ke Atabae akibat teror dan ancaman dari BMP. Ketika di Atabae, ia mendengar bahwa BMP telah membongkar rumah-rumah penduduk dan gereja Licadila, dan meletakkan patung Bunda Maria di luar gereja. Mendengar berita itu, ia bersama tiga keponakannya ke Licadila untuk mengamankan patung Bunda Maria itu. Setibanya di gereja mereka didatangi sekelompok orang sambil melepaskan tembakan ke arah Ela. Akibat tembakan tersebut, ia mengalami luka parah dibagian paha, kedua buah dada, bahu kanan, perut, pipi dan hidung. Ela sempat melarikan diri ke Puskesmas setempat tapi di sana ia tidak bisa ditangani, kemudian ia dibawa ke RSU Toko Baru, di Dili. Sedangkan Rita [18] asal Desa Gui�o yang tinggal di Faulara diculik dan diperkosa oleh tiga milisi Besi Merah Putih, bernama Saturnino, Laurentino, dan Laurindo serta enam anggota TNI, yang tak teridentifikasi nama maupun kesatuannya. Perkosaan yang terjadi pada 20 Juni itu disaksikan oleh bapak korban. Sejak itu ia tak diketahui keberadaannya. Riri, kamu tahu ancaman kekerasan juga dialami oleh perempuan pekerja hak asasi dan kemanusiaan. Perempuan pekerja LSM dan gereja telah menerima ancaman karena pekerjaan kemanusiaan yang dilakukannya. Pada saat penyerangan konvoi kemanusiaan di Liqui�a, pada 4 Juli 1999, aktivis perempuan dikejar dengan parang dan senjata api. Seorang pekerja kemanusiaan perempuan harus bersembunyi di Liqui�a, sebelum ia bisa kembali ke Dili dengan menumpang kendaraan umum keesokan paginya. Aluina [24] bidan di Desa Labarai, Kecamatan Suai kota diancam oleh milisi Laksaur akan dibunuh gara-gara ia terlibat dalam kepanitiaan untuk menangani pengungsi yang berada di Suai Kota. Korban melarikan diri ke rumah temannya tapi ia dipaksa oleh kepala desa Labarai untuk melaporkan diri ke Koramil Suai kota. Tapi korban menolak. Saking takutnya ia melarikan diri ke Dili pada 31 Mei lalu. Fokupers melihat meningkatnya stres dan ketakutan perempuan yang pernah menjadi korban kekerasan. Sebelum dan sesudah penyerangan milisi di Dili pada tanggal 17 April 1999, perempuan mantan tapol/napol merasa dirinya terancam. Beredar isu ada sejumlah nama yang dijadikan target oleh milisi, termasuk perempuan mantan tapol/napol. Trauma ulang itu mengakibatkan gangguan mental yang serius bagi perempuan yang pernah menjadi korban kekerasan. Misalnya, dialami juga oleh Dina [41] asal Viqueque yang menjadi korban perkosaan pada tahun 80-an oleh aparat militer Indonesia yang berbeda-beda, sehingga korban mempunyai beberapa anak. Sejak milisi Mahidi menjadi beringas pada awal tahun ini, ia mengalami stres berat. Oleh keluarganya ia malah dipasung. Akhirnya ia dibawa ke Dili untuk menjalani perawatan. Dalam suasana konflik, persoalan pelanggaran terhadap hak perempuan menjadi semakin kompleks. Ketimpangan hubungan yang sudah ada semakin diperparah oleh pandangan yang menjadikan perempuan sebagai sandera politik. Tindak kekerasan terhadap perempuan dijadikan sebagai faktor penekan untuk melemahkan pihak yang dianggap berlawanan secara politik. Di tengah keadaan tersebut, Fokupers melihat situasi ketidakpastian hukum di Timor Lorosae. Aksi-aksi kriminal terhadap perempuan tidak dapat diproses secara hukum. Dalam banyak kasus, aparat penegak hukum seolah-olah tidak mempedulikan pelanggaran hukum yang terjadi. Meskipun terdapat kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga yang tidak dilaporkan dan tidak terungkap karena hambatan budaya, Fokupers mencatat bahwa angka tindak kekerasan terhadap perempuan dilakukan oleh Milisi pro-Integrasi semakin meningkat. Perempuan pengungsi dan perempuan yang ditinggalkan oleh keluarga laki-lakinya menjadi sangat rentan terhadap kekerasan. Itulah sekilas tentang kekerasan yang dialami perempuan di sana. Kalian pun pasti ingin tahu apa yang terjadi di Timor Lorosae setelah tentara meninggalkan Timor Lorosae, ya? Joko dan Riri, aku mengerti betul kenapa rakyat di sana mencaci-maki tentara sebelum mereka meninggalkan Dili. Aku pun pasti ikut memaki-maki mereka. Bukan karena aku diusir oleh mereka pada awal September lalu tapi aku tahu bagaimana tentara itu memperlakukan rakyat Timor Lorosae selama ini, hampir 24 tahun. Itu saja kabar dari aku kali ini. Jakarta, 10 November 1999 Peluk dan cium, Pratiwi ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
