Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 41/II/14-20 Nopember 99
------------------------------

TENTARA TERPECAH BELAH

(PERISTIWA): Angkatan Darat terpecah belah akibat ulah Jendral TNI Wiranto.
Angkatan Udara tersinggung karena tak dapat jatah di jajaran pimpinan TNI.
Ketegangan siap meledak.

Tempo hari, mutasi di tubuh TNI membuat orang terkejut. Panglima TNI
terlepas dari tangan Angkatan Darat dan jatuh ke tangan Angkatan Laut.
Apakah Angkatan Darat bisa menerima kenyataan ini? 

Di kalangan Angkatan Darat beredar kabar, naiknya Laksamana TNI Widodo
menjadi Panglima TNI, tak lain adalah "ulah" Jendral TNI Wiranto, yang
menginginkan dukungan para pensiunan perwira Angkatan Laut di PDI-P, sebagai
wakil presiden. Wiranto memang berulah, karena menurut sumber Xpos, kubu
PDI-P sendiri, melalui Megawati Soekarnoputri, mengajukan nama Letjen TNI
Agum Gumelar untuk menggantikan Wiranto. Agum, bagi Megawati adalah kawan,
karena dialah, ketika menjadi Kepala Badan Intelijen ABRI, meloloskan
Megawati menjadi Ketua Umum PDI di Surabaya, 1995. Padahal, order yang
diterima dari Soeharto waktu itu, Megawati harus digagalkan menjadi ketua.
Adapun Gus Dur menginginkan Agum jadi Menteri Pertahanan dan Keamanan.

Tapi Wiranto mem-veto. Ia menyodorkan usulan ke Presiden Abdurrahman Wahid,
agar Agum dilangsir dari rel TNI. Ia mengajukan nama Agum sebagai Menteri
Transmigrasi dan tetap mengajukan nama Laksamana Widodo jadi Panglima TNI.
Gus Dur manggut-manggut saja dan menempatkan Agum di posisi Menteri
Perhubungan. Veto Wiranto itu, membuat hubungan dua jendral ini tegang.
Cita-cita Agum jadi Panglima TNI kandas.

Kalangan Angkatan Darat sebenarnya juga tak suka, Letjen TNI Susilo Bambang
Yudhoyono dicopot dari TNI dan "dikaryakan" di Departemen Pertambangan dan
Energi. Bintang Susilo seharusnya bisa tambah satu jika ia tetap ngotot dan
merebut jabatan Wakil Panglima TNI atau menggusur Jendral TNI Subagyo di
kursi KSAD. Mengapa Bambang "disipilkan" tidak jelas benar. Kabarnya, ini
kehendak Gus Dur sendiri, agar menantu mendiang Letjen Sarwo Edi itu tidak
membangun kekuatannya sendiri di Angkatan Darat.

Nah, bibit-bibit perpecahan di kalangan Angkatan Darat muncul lagi setelah
Wiranto menyusun jajaran pimpinan TNI di bawah Panglima TNI. Wiranto
menyingkirkan atau menghambat laju jendral-jendral cemerlang, seperti Letjen
TNI Johny Lumintang (Wakil KSAD), Letjen TNI Luhut Panjaitan dan Letjen TNI
Tyasno Sudarto (Kepala BIA). Jendral-jendral ini memang jendral yang tak
terlalu dekat dengan Wiranto. Nah, kelompok jendral ini tampaknya di
waktu-waktu mendatang akan berhadapan dengan jendral-jendral, yang disebut
oleh kalangan perwira TNI sendiri sebagai jendral-jendral "taleban", karena
dekat dengan kelompok-kelompok Islam garis keras. Lihatlah Letjen TNI
Fachrul Razi (yang sebentar lagi akan jadi jendral penuh karena sekarang
jadi Wakil Panglima TNI), Mayjen TNI Suadi Marassabessy (yang sempat dituduh
ikut memperuncing pertikaian antar pemeluk Islam dan Kristen di Maluku) dan
Mayjen Djaja Suparman (Pangkostrad) yang dekat dengan organisasi-organisasi
milisi berbendera agama seperti Gerakan Pemuda Kaabah, Front Pembela Islam
Indonesia dan sebagainya. 

Mengapa para jendral yang di kalangan TNI bermasalah yang sudah masuk kotak
itu diloloskan Wiranto memimpin TNI? Jawabnya, Wiranto ingin punya konsesi
dari mereka. Pertolongan Wiranto kepada Fachrul dan kawan-kawannya tentu tak
gratis. Suatu saat mereka harus membalas budi baik sang juru selamat mereka itu.

Bibit-bibit perpecahan juga ditabur di tubuh TNI. Angkatan Udara merasa
terpukul dengan susunan pimpinan TNI kali ini. Tak satupun, perwira TNI-AU
yang masuk dalam jajaran pimpinan TNI yang baru umumkan. Dalam susunan
pimpinan TNI  terakhir, dominasi Angkatan Darat masih sangat kentara. 

Sebenarnya bibit perpecahan antar angkatan sudah terasa sejak Soeharto,
jenderal Angkatan Darat itu jatuh. Misalnya, di hari ulang tahun TNI-AU
April lalu, mantan KSAU Laksamana Omar Dhani  diundang oleh KSAU Marsekal
Hanafie Asnan. Foto Omar, yang dihukum mati oleh Soeharto, karena dituduh
berkomplot dengan PKI membunuh tujuh jendral Angkatan Darat pada 1965,
dipasang di deretan foto mantan-mantan KSAU. Memang, Omar Dhani tidak bisa
hadir kala itu, karena sudah sakit-sakitan.

TNI-AU selama lebih dari 30 tahun ini dituduh oleh para penguasa TNI AD ikut
terlibat dalam pembantaian para jendral Angkatan Darat di Lubang Buaya tahun
1965, yang menurut Jendral Soeharto, Omar berada di wilayah Halim
Perdanakusuma. 

Tak terima tuduhan tersebut, para purnawirawan TNI-AU menyusun buku yang
diterbitkan Sinar Harapan. Judulnya: "Menyibak Kabut Halim 1965". Buku ini
diluncurkan pekan lalu di Ardhya Garini, Halim dengan dihadiri sejumlah
petinggi TNI-AU. Buku itu berisi fakta-fakta TNI-AU tak terlibat dalam
pembantaian para jendral itu, apalagi ingin mengkudeta Bung Karno, presiden
yang dihormati di kalangan TNI-AU. Taruhlah misalnya, Lubang Buaya yang
dipakai untuk membunuh dan mengubur para jendral itu ternyata di luar
wilayah Halim.

Kini, TNI AU merasa kecewa lagi. Angkatan Darat menyingkirkan mereka di
jajaran pimpinan TNI. Tampaknya, ketegangan akan makin terasa di hari-hari
mendatang, dan jangan kaget, jika suatu ketika terjadi bentrokan-bentrokan
fisik antar angkatan. Beberapa waktu lalu, ini sempat terjadi. Misalnya
ketika pesawat-pesawat tempur Angkatan Udara "menteror" Markas Kopassus,
Kandang Menjangan, Kartosuro, Jawa Tengah, karena para anggota Kopassus
menganiaya orang-orang Angkatan Udara di Solo. Bentrokkan juga sempat
terjadi berulangkali antara pasukan Marinir Angkatan Laut dengan Angkatan
Darat dalam menghadapi gerakan mahasiswa.

Kita tunggu bentrokan yang lebih besar lagi? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke