Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 41/II/14-20 Nopember 99 ------------------------------ SIAPA TAKUT (LUGAS): Setelah melikuidasi Deppen, Gus Dur tampak ingin membuktikan bahwa dialog dengan rakyat bisa jadi lebih efektif. Berbagai kebijakannya, dijelaskan sendiri, dari pembentukan kabinet, rencana pembukaan hubungan dagang dengan Israel, hingga pembicaraan dengan para pemimpin ASEAN baru-baru ini. Termasuk, keputusan kontroversialnya mengangkat Subiakto Tjakrawerdaja sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional. Kecuali soal DEN, Gus Dur selalu berusaha menerima masukan dari berbagai pihak yang berdialog dengannya. Tentunya, jika masukan itu dianggapnya bernilai. Sebab, tak jarang pula ia mengecam orang-orang yang menyampaikan atau menanyakan hal-hal 'bodoh'. Tawarannya berdialog dengan semua pihak yang terkait dalam soal Aceh -termasuk GAM-, kendati disampaikan dalam situasi sudah sangat terlambat, patut didukung. Semoga ini menjadi tanda awal kedewasaan bangsa kita berdemokrasi. Setelah bertahun-tahun berada di bawah rezim represif, kepala batu dan anti-dialog, kehausan masyarakat untuk bersuara memang harus dibiarkan. Kadang mereka akan berteriak keras. Tapi biarlah, anggap saja itu terapi khatarsis yang harus dilalui masyarakat yang depresif. Yang sakit namun sedang menuju penyembuhan. Karena itu, sungguh disesalkan banyak suara sebagian elit politik, termasuk Akbar Tanjung dan Kapuspen TNI Mayjen Sudrajat, yang belum-belum sudah alergi dengan kata 'referendum'. Kekecewaan rakyat Aceh pada pemerintah sudah begitu besar -walaupun kita semua tahu ini adalah dosa warisan rezim lama. Demikian pula sikap apatinya. Terlalu pagi menolak seruan referendum, sama saja dengan mempertebal image pemerintah yang bagi mereka sudah sangat arogan. Mau tak mau, untuk meyakinkan rakyat Aceh bahwa pemerintah Indonesia masih bisa dipercaya, Jakarta harus menerima kemungkinan diadakannya referendum -pada saat berdialog dengan para tokoh masyarakat Aceh. Apapun hasilnya nanti, tentu tergantung rakyat Aceh. Tapi, itu masih lebih baik, sebab masih membuka peluang mereka untuk tetap bersatu di bawah merah-putih. Menolak begitu saja referendum, sama artinya dengan memandang sama mereka "pro merdeka" dan " pro Indonesia" -padahal keduanya inginkan referendum. Ini berarti pula menjadikan diri pemerintah sebagai musuh bersama mereka. Tak ada baiknya sikap seperti ini. Kalau GAM tak ingin berdialog dan hanya ingin merdeka, tentu kita tak sama bodoh dengan mereka. Buktikan bahwa Indonesia lebih matang. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
