Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 41/II/14-20 Nopember 99
------------------------------

PARA JENDERAL LAYAK GEMETAR

(POLITIK): Sebuah kuburan massal ditemukan di bekas markas TNI di Dili.
Seorang Komandan Koramil terlibat langsung pembantaian di gereja Katolik
Suai Timor Timur. Para jenderal di Jakarta pun gemetaran menunggu nasib.

Tanggal 3 Nopember 1999, kantor berita Assosiated Press (AP) melansir sebuah
foto Interfet sedang melakukan penggalian kuburan massal di bekas markas TNI
di Dilli. Sedangkan The Age, sebuah harian ternama di Australia Jumat 5
Nopember 1999 memuat sebuah artikel yang berjudul "Man behind Timor Massacre
Named". Artikel tersebut memaparkan kesaksian saksi mata tentang pembantaian
di dalam sebuah gereja di Kota Sui 8 September 1999 oleh milisi dan tentara.
Ia melihat Danramil Suai terlibat langsung dalam peristiwa tersebut.

Saksi mata yang lolos dari peristiwa pembantaian di gereja Suai itu
menceritakan bahwa dua hari setelah pengumuman hasil jajak pendapat Timtim
itu (6 September), telah terjadi pembantaian terhadap pengungsi di area
Gereja Katolik Sui -di tempat ini ditampung ratusan pengungsi. Saksi mata
menyebutkan bahwa dirinya melihat dengan kepala sendiri keterlibatan
Danramil Suai, Letnan Sugito Karman. Sugito inilah yang menurut saksi
"memberikan order" pembantaian di gereja Suai yang menewaskan, tiga pastor,
pembakaran gereja dan penyiksaan ratusan pengungsi itu. Saksi melihat Sugito
yang memberi aba-aba penembakan ke atas, sebelum akhirnya para pernyerbu
yang terdiri dari milisi, tentara dan Brimob (polisi) masuk ke area gereja.
Diperkirakan, dalam peristiwa tersebut meninggal sekitar 100-200 orang.
Termasuk Pastor Hilario Madeira Pr dan Romo Tarsisius Dewanto SJ.

"Saya melihat pastur Hilario dibunuh. Dia sedang berada di beranda di luar
ruangannya. Milisi menembaknya dalam jarak 10 meter dengan dua tembakan
menggunakan senapan G3 (Getmi) dan pastur Hilario tersungkur ke tanah," kata
saksi mata seperti dikutip The Age. Para korban yang tewas tersebut langsung
dimasukkan ke atas truk dan dibawa pergi oleh milisi, termasuk para korban
yang luka-luka. 

Sementara itu, Interfet juga menerima laporan bahwa di Ambeno, Kab. Oekussi,
telah terjadi pembantaian massal terhadap pro kemerdekaan. Pembantaian
selama dua pekan itu konon menewaskan 150 orang dan dilakukan oleh tentara
dan milisi Sakunar. Sampai saat ini, lokasi yang diduga keras sebagai
kuburan massal itu sudah diamankan pihak Interfet, menunggu tim penyelidik
PBB beraksi.

Yang sudah jelas terdapat bukti dan saksi adalah pembunuhan terhadap
sedikitnya 10 orang pro kemerdekaan di Tasitolu, Dili. Sebuah mobil Toyota
Kijang pick up ditemukan teronggok di tepi jalan dalam kondisi bekas
dibakar. Wartawan kantor berita Reuters yang sempat mengabadikan fakta
tersebut (29/9) melihat sekitar 10 mayat baik yang ada di dalam bak mobil
maupun di kuburan dekat bekas mobil itu. 

Sepuluh hari sebelumnya, tanggal 19 September, Agus Muliawan seorang
wartawan televisi Jepang setelah turun dari hutan menuju Baucau bersama 1
pastor 2 pembantu pastor, 2 suster beserta 3 orang lainnya diberondong oleh
tembakan gencar yang diduga keras dilakukan TNI di Los Palos.  Tembakan itu
mengakibatkan mereka tewas.

Sedangkan pada pertengahan Oktober lalu, (19/10) penyelidik internasional di
Timor Timur menerima laporan dari masyarakat di daerah itu tentang kuburan
massal. Setelah dicek ditemukan sebuah kuburan massal. Di tempat yang tidak
jauh dari kota Liquica itu diperkirakan dikubur  sekitar 25 orang dalam satu
lubang.  Di wilayah yang sama pasukan Interfet menemukan lagi 19 lokasi
kuburan massal namun belum dihitung serta belum dilakukan penggalian,
menunggu Komisi Pencari Fakta (KPF) PBB.

Selain di Liquica, di Balibo Interfet juga diterima laporan tentang
penggorokan mahasiswa yang terjadi beberapa hari sesudah pengumuman hasil
jajak pendapat. Sebelas orang mahasiswa pro kemerdekaan diburu. Mayat mereka
dibawa ke kota Batugade dan dilemparkan ke laut. 

Selama ini, menurut catatan Xpos, sudah lebih 100 mayat ditemukan.

Adapun Komisi Penyelidikan Pelanggaran HAM di Timtim menemukan sejumlah
fakta bahwa ratusan ribu pengungsi di Kupang di bawah kontrol milisi. 

"Telah terjadi bentuk-bentuk pelanggaran HAM secara sistematis dan
terorganisir yang dilakukan oleh para milisi di kawasan NTT (penghilangan
secara paksa, bebas dari rasa takut, penahanan sewenang-wenang dan kekerasan
terhadap perempuan). Keleluasaan operasi milisi telah menimbulkan rasa takut
yang luas dan  mendalam di kalangan pengungsi. Pembiaran operasi milisi
memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara milisi dengan aparat
keamanan," demikian kesimpulan Komisi.

Dari sejumlah fakta, kesaksian dan juga penemuan Komisi Penyelidik
Pelanggaran HAM Indonesia itu tampaknya pengadilan internasional terhadap
penjahat perang di Timtim akan menjadi kenyataan. Karena itulah, maka
wajarlah jika sebagian tentara berbintang di Jakarta saat ini sedang
gemetaran menunggu perkembangan lebih lanjut. Pengingkaran Kapuspen TNI
Mayjen TNI Sudrajat bahwa yang bertanggung jawab atas kasus-kasus di Aceh,
Timtim dan daerah lain adalah para para prajurit, merupakan ujud kepanikan
pimpinan TNI. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke