Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 41/II/14-20 Nopember 99
------------------------------

KUDETA SENSUAL ALA SOEHARTO

(POLITIK): Kup Soeharto bermodus seksualitas. Cerita penyayatan penis
sengaja dieksposnya untuk bangkitkan 'dendam' laki-laki. Akibatnya ratusan
ribu orang tewas mengenaskan.

Kurun waktu 1965-1966. Harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha kencang
melempar berita perilaku tak senonoh aktivis Gerwani terhadap tujuh perwira
pada peristiwa 1 Oktober 1965. Dikabarkan para perempuan Gerwani menyayat
silet penis mereka sambil melenggang tarian "Harum Bunga". Selepas itu
hubungan seks bebas dilakukan massal di lapangan terbuka Lobang Buaya.
Benarkah? Kemana patut dilayangkan ucap kejut: astaga?

Pukul 10.30 waktu Amsterdam, tanggal 6 Oktober 1995. Sebuah desertasi
berhasil dipertahankan di hadapan komisi bentukan dewan para dekan
Universitas Amsterdam dengan Rektor Magnifikus Prof Dr PWM de Meijer.
Desertasi bertitel "The Politization of Gender Relations in Indonesia. The
Indonesian Women's Movement and Gerwani Until the New Order State" itu
ditulis oleh seorang feminis, peneliti dan dosen International Social
Studies (ISS) Den Haag, Saskia Eleonora Wieringa. Berangkat dari
keprihatinan menghadapi realita bahwa sejarah lisan dan tulisan melempar
jauh perempuan dari tinta dan ujaran.

Melalui desertasinya, Wieringa lebih dari sekedar menggugat
'dikembalikannya' perempuan sebagai subyek sejarah. Ia pun mencoba menulis
ulang bagaimana proses perebutan kekuasaan politik di Indonesia menyertakan
seksualitas sebagai pilihan strategi. Tugas Wieringa karenanya tidak lain
memerankan fungsi penulis secara semestinya. Peran seperti dituturkan
Pramoedya Ananta Toer dalam paragraf cerita pendek Buah Kawin. "Kau harus
cerita tentang hancurnya pengharapan. Orang harus berani merasakan
penderitaan orang lain. Kesenangan? Kesenangan adalah tanda bahwa kematian
mulai meraba jiwa manusia."

Maka seusai rangkaian studi pustaka dan ratusan wawancara di Indonesia,
Belanda, Amerika dan Suriname, Wieringa menghabiskan beratus-ratus lembar
kertas membantah "kebenaran" selama ini bahwa Gerwani melakukan
kegiatan-kegiatan amoral dan asusila di Lobang Buaya. Toh kentara, ia tidak
bermaksud mengidealisir peran politik Gerwani. Wieringa justru banyak
melakukan kritik terhadap strategi Gerwani. "Terutama kecenderungan Gerwani
yang sesuai dengan garis PKI berpantang mengkritik sikap Soekarno dalam
masalah perkawinan," papar Prof WF Wertheim pada kesempatan di bulan
September 1998.

"Kultur patriarki yang kental di masyarakat Indonesia sebetulnya menjadi
faktor utama mengapa kampanye AD pimpinan Soeharto dimamah secara sangat
gampang," ujar Myra Diarsi berbicara pada peluncuran buku Wieringa ini di
Jakarta, 10 Nopember. (Versi Indonesia yang diterbitkan Kalyanamitra dan
Garba Budaya diberi judul "Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia").
Hubungan sosial politis terentang pada simbol-simbol kelelakian yang
mensubordinasi perempuan. "Maka ketika penis yang menjadi dignity laki-laki
diberitakan disayat-sayat, muncul kesadaran untuk melakukan balasan," lanjut
Myra.

Dengan kata lain, kampanye TNI AD disasarkan kepada sentimen patriarki.
Tragisnya, Gerwani yang dituduh melakukan kegiatan asusila secara seksual
justru kemudian mengalami peristiwa-peristiwa seksual yang mengerikan. Tidak
ada tempat aman bagi mereka. Aliansi perburuan perempuan Gerwani antara
beberapa kelompok masyarakat dukungan TNI AD menoreh kisah tersendiri. Tidak
terhitung banyak perempuan mati mengenaskan dengan tubuh dan alat kelamin
tidak utuh. Bahkan di penjara mereka tidak luput dari perlakuan serupa.

"Waktu di kamp kerja paksa Plantungan, Jawa Tengah, kami sering diperkosa
petugas. Malah dua perempuan sampai melahirkan anak," tutur Mujiati yang
dipenjara 14 tahun tanpa pengadilan pada kesempatan peluncuran buku
tersebut. Sekujur tubuhnya bergetar kencang.

Soeharto oleh Wieringa tegas ditunjuk bertanggung jawab atas semua kampanye
media massa dan dukungan langsung personil TNI AD, khususnya Resimen Para
Komando AD (RPKAD). Peneliti LIPI Asvi Marwan Adam mengutip paragraf
Wieringa untuk menunjukkan tujuan siasat Soeharto menggunakan seksualitas.

"Soeharto bertindak dengan cepat dan tegas. Ia pasti menyadari bahwa yang
diperlukannya bukan sekedar pameran kekuatan militer. Adanya para perempuan
di Lobang Buaya itulah yang digunakan sebagai amunisi oleh Soeharto, demi
transisi mental yang diangankannya. Dengan itu bukan hanya perempuan yang
berhimpun di sana akan dimusnahkan dengan segala daya, tetapi juga kaum
komunis dapat dijatuhkannya sama sekali. Sementara Soekarno . dapat
dipertontonkan sebagai pemimpin yang tidak becus."

Itulah 'kup kedua' menurut Wieringa. Lalu kup pertama juga didalangi
Soeharto? Ia lebih setuju pada salah satu kesimpulan mengenai posisi wait
and ready Soeharto. "Soeharto sudah tahu sebelumnya akan terjadi kup, tetapi
ia memilih menunggu sambil melihat apa yang akan terjadi dan pada saatnya
mempecundangi baik Soekarno maupun Nasution."

Akibat ambisi keji sebuah gerakan perempuan yang cukup militan dihancurkan.
Toh, sajak Sugiarti penyair Lekra tetap dapat dijadikan manifesto:
Kami bukan lagi/bunga pajangan/yang layu dalam jambangan/
Cantik dalam menurut/indah dalam menyerah/molek tidak menentang/ke neraka
mesti mengikut/ke sorga hanya menumpang/
Kami bukan juga/bunga tercampak/dalam hidup terinjak-injak/
Penjual keringat murah/buruh separo harga/tiada perlindungan/tiada
persamaan,/sarat dimuati beban/
Kami telah berseru/dari balik dinding pingitan/dari dendam pemaduan/dari
perdagangan di lorong malam/dari kesumat kawin paksaan:/
'Kami manusia'. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke