Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 41/II/14-20 Nopember 99
------------------------------

SUBSIDI MINYAK UNTUK SIAPA?

(POLITIK): Ternyata, kebijakan subsidi pemerintah terhadap bahan bakar
minyak selama ini tidak memenuhi sasaran. Para penikmat subsidi ini bukan
hanya rakyat kecil, tetapi orang luar negeri pun menerima subsidi pemerintah
Indonesia.

Data Pertamina menyebutkan, selama anggaran 1999/2000 kebutuhan impor BBM
untuk konsumsi dalam negeri 31.707.000 barel. Dengan asumsi harga minyak
mentah US$10,50 per barel dan nilai tukar Rp7.500/US$, maka subsidi BBM
selama tahun anggaran 1999/2000 sebesar Rp9,98 triliun.

Jika dengan harga jual minyak mentah Indonesia yang mencapai US$20,00 per
barel, maka subsidi BBM diperkirakan mencapai Rp30,35 triliun. Dengan harga
minyak mentah US$20 per barel, hasil penjualan BBM yang diperoleh negara
Rp22,56 triliun. Sementara jumlah biaya BBM Rp52,91 triliun. Jumlah biaya
ini berasal dari jumlah kuantitas produk BBM yang diimpor dikalikan harga
produk sesuai pasar, ditambah biaya angkutan laut dan asuransi. Dengan
demikian, subsidi BBM sekitar Rp30,35 triliun, dengan asumsi harga minyak
mentah US$20,00 per barel.

Murahnya harga BBM di dalam negeri ternyata juga dimanfaatkan oleh para
pengusaha untuk menekan ongkos produksi mereka. Banyak industri yang
sebelumnya memakai gas sebagai bahan bakar mesin beralih ke BBM yang
harganya lebih murah. Bahkan ada pula, pengusaha yang terang-terangan
memperdagangkan BBM yang dibeli di pasaran dalam negeri dijual ke pasaran
luar negeri yang harganya tiga kali lipat harga di pasar Indonesia.

Perlu diketahui harga solar yang berlaku sekarang (seusai Keppres No.
10/1998 tentang harga BBM) Rp550 per liter. Sedangkan harga minyak diesel
Rp500 per liter. Sementara biaya produksi minyak solar Pertamina saat ini
Rp1.179 per liter. Itu berarti, subsidi pemerintah setiap liter solar Rp629
per liter. Sedangkan biaya produksi minyak diesel, tercatat Rp1.083 per
liter atau selisih harga jual dan biaya produksi sebesar Rp583 per liter.

Menurut data di Pertamina, selama 1997/1998, total pemakaian minyak solar di
Indonesia tercatat 22,2 juta kilo liter atau naik 14,9% dibanding periode
tahun sebelumnya (19,3 juta kilo liter). Sedangkan pemakaian minyak diesel
hanya 1,3 juta kilo liter atau menurun 0,26% dibanding pemakaian periode
tahun sebelumnya (1,4 juta kilo liter).

Sementara itu kalangan DPR melihat, sebenarnya pemerintah dapat menghemat
subsidi bahan bakar minyak (BBM) dalam APBN sampai 30%-50% jika Pertamina
dikelola secara efisien. Menurut Hatta Rajasa, anggota Komisi VIII DPR yang
membidangi Migas, mengatakan jika pemerintah dapat melakukan reformasi di
tubuh Pertamina untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya produksi
minyak perbarel, dalam dua tahun ke depan subsidi Migas dalam APBN dapat
berkurang sampai 50%.

Jika biaya produksi minyak dapat ditekan sampai US$2-3/barel, maka akan
dapat ditekan biaya subsidi sampai 50%.

Dalam APBN 1999/2000, pemerintah mengalokasikan subsidi minyak sekitar Rp20
triliun, sehingga jika asumsi itu dapat terpenuhi, maka pengurangan subsidi
sebesar 50% dapat menghemat anggaran Rp10 triliun. Tergantung perkembangan
kurs rupiah.

Karena itu, Hatta berpendapat, pemerintah perlu lebih berkonsentrasi pada
pengelolaan gas yang berpotensi menyumbang penerimaan relatif besar.
Kebijakan Migas, kata dia, perlu difokuskan kepada pengelolaan gas untuk
meningkatkan cadangan devisa dan sebagai salah satu cara diversifikasi energi.

Hatta juga mengusulkan agar Pertamina berfungsi sebagai holding sedang
unit-unit usaha di bawahnya seperti eksplorasi, produksi, pengilangan dan
sebagainya menjadi unit usaha tersendiri. 

Buktinya, ketika ada usaha peningkatan efisiensi operasi dan kinerja riil,
antara lain melalui pemutusan mata rantai operasi dengan direct purchasing,
menghilangkan mark up dan memutuskan kerja sama pihak ketiga yang dianggap
KKN serta optimalisasi sumber minyak, terjadi pengurangan biaya produksi di
Unit II dan III Pertamina dari sekitar US$6/barel menjadi sekitar US$3/barel.

"Itu yang menyebabkan cost/barel turun, lalu tinggal bagaimana di
pengilangan. Kalau sudah turun cost-nya, maka subsidi pemerintah turun
juga," kata Hatta.

Dan yang lebih penting lagi, mekanisme pemberian subsidi dalam anggaran
perlu diubah. Subsidi seperti saat ini yang diberikan langsung kepada
Pertamina atau pabrik pupuk harus diubah menjadi diberikan secara langsung
kepada pengguna akhir. Contoh, untuk subsidi pupuk sebaiknya langsung ke
petani sedang subsidi minyak langsung ke anak sekolah atau angkutan massal.
Sehingga subsidi itu benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang benar-benar
membutuhkan. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke