Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 41/II/14-20 Nopember 99 ------------------------------ SANDAL PAK KYAI UNTUK SANG ADIDAYA (POLITIK): Politik luar negeri Gus Dur mulai tinggalkan kiblat AS. Ini bisa berarti peluang jadi negara besar, atau terulangnya kejatuhan Soekarno. Ceritanya Dubes Robert Gelbard ingin mencitrakan Indonesia di bawah Gus Dur adalah "sahabat AS". Karena itu, hari pertama Gus Dur jadi presiden (22/10), ia langsung sowan ke Wisma Negara. Gus Dur menyambutnya dan menerima ucapan selamat Bill Clinton yang disampaikan Gelbard. Namun, seperti terlihat di harian The Jakarta Post, Gus Dur ketika itu, menggunakan sandal 'kyai'-nya dengan satu kaki bersilang. Berita tentang sandal itu tak marak di media massa, keesokan harinya. Namun, soal itu, ramai dibicarakan orang. Disengaja atau tidak, sikap Gus Dur itu, tak ada yang tahu -dan percuma mencari tahu. Namun, sebagian orang mulai mereka-reka: Indonesia kini mulai berpaling dari AS? Ingatan pun melayang jauh, teringat pada pidato berapi-api Bung Karno di tahun 60-an, go to hell with your aid! Mungkinkah begitu? Konteks persoalannya tentu berbeda. Bagaimanapun, dengan usainya perang dingin antara blok kapitalis dan sosialis, sebagian besar dunia praktis telah menerima "pasar bebas". Terlebih Indonesia, yang di Orde Baru amat bergantung pada utang luar negeri, termasuk dari AS. Total utang sekitar US$135 milyar adalah realitas tak terelakkan. Gawatnya, untuk menyelesaikan pembayarannya, mau tak mau, harus melobi AS. Merekalah donatur terbesar di IMF dan Bank Dunia. Karenanya, hampir mustahil politik luar negeri Indonesia meniru model Soekarno. Kendati begitu, Gus Dur agaknya tak mau begitu saja didikte AS. Secara mengejutkan, Gus Dur malah menyatakan bakal mengunjungi Cina sebagai tujuan pertama lawatan resminya ke luar negeri. Kunjungannya ke negara-negara ASEAN baru-baru ini, hanya sekedar roadshow untuk memperkenalkan diri pada tetangga. Pilihan kunjungan ke Cina ini jelas tak menyenangkan AS. Gus Dur pasti sadar hal ini. Seperti diketahui, kendati AS telah 'berbaikan' dengan Cina, perbedaan politik keduanya sering berujung pada ketegangan. Sebagai negara sosialis terbesar yang masih bertahan, Cina tak selalu setuju dengan AS, terutama menyangkut berbagai kebijakan untuk melakukan agresi militer. Anehnya, Gus Dur tak terlalu peduli dengan perasaan AS. Saat ditanya wartawan, mengapa memilih ke Cina, ia menjawab singkat, "Cina kan negara besar." Dalam hitung-hitungan ekonomi, pilihan ke Cina ini memang menguntungkan. Pertama, ketika krisis ekonomi melanda negara-negara Asia, dan berdampak pada perekonomian negara-negara maju, termasuk Jepang, Cina sanggup meloloskan diri. Negaranya yang luas, adalah potensi pasar yang besar bagi produk-produk Indonesia. Kedua, bukan rahasia lagi, kalau banyak pemilik modal di Asia adalah orang-orang keturunan Cina yang memiliki keterikatan batin dengan leluhurnya. Mereka pulalah yang ramai-ramai membawa keluar modalnya dari Indonesia ketika terjadi kerusuhan di bulan Mei tahun lalu. Berbaikan dengan Cina, tentu akan membawa dampak positif pada kebangkitan ekonomi Indonesia. Itu pula sebabnya, ia meminta Lee Kuan Yew, mantan perdana menteri Singapura yang kabarnya selalu memberi masukan pada perekonomian Cina, untuk juga menjadi penasihat ekonomi Indonesia. Melihat pilihan yang diambil Gus Dur, yang terkesan jelas adalah, ia ingin menghindari ketergantungan pada AS. Selama ini, meskipun AS amat menentukan bagi perekonomian Indonesia. Namun, hubungan yang terjadi lebih banyak menguntungkan AS. Sedangkan di dalam negeri, hanya para kolaborator yang diuntungkan. Itu sebabnya, selain memperhatikan Cina, Gus Dur tak meninggalkan negara-negara Arab yang dikenal kaya minyak. Kuwait misalnya, telah merencanakan proyek perminyakan senilai US$6 milyar di Pulau Batam dan Selayar. Gus Dur amat mengejutkan ketika berniat membuka hubungan dagang dengan Israel. Langkah ini dinilai sangat strategis oleh banyak pihak. Bukan karena pasar Israel -yang sebetulnya tak terlalu besar. Tapi karena the Jews Community (komunitas yahudi) yang selama ini mendukung Israel, amat besar pengaruhnya dalam lobi ekonomi internasional. Tanpa harus melalui AS misalnya, fund manager terkemuka George Soros serta Henry Kissinger telah memberi sinyal untuk membicarakan niatan Indonesia ini dengan Menlu Alwi Shihab. Hubungan dengan AS sebetulnya tak ditinggalkan sama sekali. Terbukti, setelah lawatannya ke negara-negara ASEAN, Gus Dur menyempatkan untuk mengunjungi Clinton di Washington -walaupun menurutnya, tujuan utamanya ke AS adalah untuk "ngambil kaca mata." Kini, seperti diungkapkan The Washington Post (3/10), setelah Gus Dur memilih kunjungan kenegaraannya ke Cina, sebagian pihak di AS menjadi cemas. Mereka khawatir, Indonesia negara demokrasi ketiga terbesar di dunia (baca: sangat strategis) telah mulai berpaling dari AS. Ini bisa berarti menguntungkan Indonesia, bila Gus Dur mampu terus memainkan posisinya yang netral dan bebas. "Ia bisa jadi tokoh besar dunia," ujar seorang pengamat (ada yang curiga, ini merupakan ambisi Gus Dur). Namun, ini bisa pula merugikan, jika AS bereaksi negatif pada Indonesia. Bukan rahasia lagi, Soekarno dijatuhkan dengan bantuan CIA, karena sikapnya yang ogah tunduk pada AS. Sikap waspada kiranya perlu. Kabarnya Robert Gelbard, dubes AS yang baru, sedang bertugas di Yugoslavia ketika negara itu tercerai-berai. Ia pun berada di Cina ketika demonstrasi besar-besaran terjadi di Tiananmen. Berharaplah tidak ada kekacauan selagi ia di sini -apalagi ia pasti ingat betul bentuk sandal Pak Kyai itu. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
