Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 41/II/14-20 Nopember 99
------------------------------

DARI DIALOG KAUM SEPARATIS

(POLITIK): Bertemu para pemimpin separatis, Gus Dur janjikan realisasi opsi
federasi 5 hingga 10 tahun mendatang. Pertimbangan terbesar: butuh waktu
demiliterisasi total.

Sebelum melawat ke negara-negara ASEAN, Presiden Abdurrahman Wahid
menyatakan niatan bertemu dengan Hasan Tiro kepada 16 LSM di Wisma Negara.
Selain Tiro beberapa tokoh GAM lain bakal diminta hadir. Konfirmasi sudah
dilakukan. "Akan saya sempatkan dalam salah satu perjalanan saya ke tujuh
negara nanti," demikian keterangan Gus Dur menjawab pertanyaan pimpinan LSM
waktu itu. Akhirnya, Malaysia dipilih menjadi tempat pertemuan. Tepatnya di
salah sebuah hotel di Langkawi (7/11).

Toh, sewaktu melakukan konferensi pers di Hotel Renaissance, Kuala Lumpur
kabar tersebut malah disanggah. Menurut Gus Dur perkara teknis menyebabkan
pertemuan dimaksud urung. Tokoh-tokoh yang menghubunginya via telepon
kemungkinan besar terpentok juru protokol di bawah pimpinan Kepala Rumah
Tangga Istana (Karumga) Kepresidenan, Kemal Munawar SH serta Dirjen Protokol
dan Konsuler Departemen Luar Negeri, Rahmat Ranudiwijaya. Padahal para
wartawan Indonesia dan mancanegara justru beroleh cerita lain.

Diperoleh kabar bahwa sejumlah pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM),
Organisasi Papua Merdeka (OPM), Republik Maluku Selatan (RMS), Permesta dan
Riau Merdeka (RM) telah bertemu Gus Dur dan berdialog mengenai ujung
penyelesaian permasalahan mereka. Sulit diperoleh kepastian menyangkut
nama-nama perwakilan masing-masing kelompok. Kecuali terdapat informasi
bahwa RMS diwakili salah seorang pimpinannya yang lama berdiam di Belanda.

Dalam pertemuan yang berlangsung kurang dari satu jam tersebut, Gus Dur
mengajukan sebuah opsi: Federasi Indonesia. Tawaran Gus Dur serta merta
memancing perdebatan terutama dari wakil-wakil GAM. Mereka menampik dan
bersikukuh untuk memperjuangkan kemerdekaan Aceh lepas dari wilayah kesatuan
RI. Bentuk negara federasi hanya menarik bagi tokoh-tokoh gerakan lainnya
terlebih Riau dan Permesta. 

Penolakan terhadap usul federalisme memperkuat sinyalemen Gus Dur bahwa
Hasan Tiro berambisi serius mendirikan kembali kerajaan trah Cik Di Tiro.
Berlawanan dengan kebanyakan aktivis dan rakyat Aceh yang menginginkan suatu
republik demokrasi. Bisa jadi benar, sebab tawaran federasi ala Presiden Gus
Dur mempersilahkan pengaturan "supra otonom". "Silahkan saja Aceh menegakkan
syariat Islam sebagai landasan sosial."

Di samping setuju proses pencapaian federasi dilalui lewat jajak pendapat
publik, persiapan kepada 'Republik Uni Indonesia' kira Gus Dur membutuhkan
rentang waktu paling kurang 5 tahun. Mengapa begitu?  Setelah Gus Dur
bersuara pro referendum, kontan suara kecaman merebak. Sumber suara
terkencang mudah ditebak, datang dari Mabs TNI Cilangkap. Pagi-pagi,
Kapuspen TNI Mayjen Sudrajat menuduh tuntutan referendum sebagai "tidak
realistik." Di mata Sudrajat, "Referendum itu sah jika diadakan hanya untuk
masyarakat berstatus non governing territory. Lha, rakyat Aceh kan kita tahu
punya pemerintahan."

Bak saling sambung ketidaksetujuan TNI ditimpali oleh Ketua DPR Akbar
Tanjung. Secara keras ia menilai presiden telah mengeluarkan pernyataan di
luar kewenangannya. "Keputusan referendum ada pada MPR dan DPR, bukan
presiden," tandas Tanjung. Sudrajat dan Akbar Tanjung lebih setuju jika
diadakan pertemuan satu meja antara wakil kelompok berkepentingan dengan
pemerintah. Keduanya menyambut baik kepergian Menteri Urusan HAM Hasballah M
Saad ke Aceh yang bakal dilanjuti dengan presiden dan wapres. "Asal tidak
bicara referendum," tandas mereka senada. "Apalagi ngomongin itu."

"Pikirkan dulu kemungkinan penerapan otonomi seluas-luasnya," timpal Ketua
Komisi Pemilihan Umum, Rudini. Mantan KSAD dan Mendagri ini menilai
federalisme adalah reaksi dari pemikiran kesusu.

Uniknya, suara Sudrajat dan Tanjung berlawanan dengan organisasi mereka
masing-masing. Sebelumnya Panglima TNI Laksamana Widodo AS telah menyerahkan
penuh penyelesaian kasus Aceh kepada kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid.
TNI bersedia mengambil posisi di belakang presiden. Tensi pembicaraan di
Golkar, organisasi asal Akbar Tanjung, sendiri sudah sampai ke perdebatan
soal federalisme.

Segaris dengan opsi tawaran Gus Dur. Malah Marwah Daud Ibrahim pernah
mencoba menggelindingkan bola isu waktu pemilihan wapres di SU MPR. Meski
muatan kepentingan politis taktis kala itu lebih sarat. Tapi kenapa terjadi
beda-beda suara di dua organisasi kekuatan politik yang dikenal disiplin dan
solid? Tidak perlu terburu-buru memberi analisa spekulatif.

Menarik justru mencari tahu alasan Presiden mengeluarkan space time 5 sampai
10 tahun. "Salah satu alasan lantaran sikap seperti ditunjukkan Kapuspen
TNI," kata anggota F-PP Prof Dr Tengku Baihaqi AK. Maksudnya, militerisme
masih jadi batu sandung gagasan penyelesaian konflik ala sipil. Militerisme
yang bukan cuma kokoh di tubuh tentara, melainkan laris di beberapa elit
sipil. Perkiraan Gus Dur salah satunya turut mempertimbangkan kekuatan
kepala batu namun bersenjata ini. Apalagi mengingat salah satu isi
kesepakatan Ciganjur: bahwa dwifungsi TNI pupus tapi tidak secara serta merta.

Selama waktu itulah demiliterisasi dan sosialisasi ide federasi dilakukan.
Mau lebih cepat? Percepat pula 'barakisasi' militer. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke