Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/II/21-27 Nopember 99
------------------------------

ASAL BEDA

(LUGAS): (Mantan) Sekjen Departemen Penerangan, IGK Manila lupa sedang
memimpin demonstrasi. Kamis siang itu (18/11), seperti terlihat dalam
wawancara dengan SCTV ia mengaku terkesima melihat adegan dialog Gus Dur
dengan para wakil rakyat. Sampai-sampai, ia tak bisa menjawab ketika ditanya
komentarnya soal jawaban Gus Dur yang bersikukuh membubarkan Deppen. Ia
terus memuji fenomena yang baru dilihatnya.

Apa yang terjadi di ruang sidang paripurna DPR itu memang tontonan menarik
yang puluhan tahun hilang dari panggung politik nusantara. Inilah pertama
kalinya, seorang kepala negara beradu argumen keras dengan para wakil
rakyat. Sebagian penonton khawatir perdebatan itu berakhir dengan saling
lempar kursi.

Syukurlah tak ada yang cedera seperti biasa terlihat di parlemen Taiwan.

Sulit menilai, apakah memang demikianlah seharusnya pola interaksi antara
eksekutif dengan legislatif. Bagaimanapun, dimulainya sebuah budaya
keterbukaan politik baru antara presiden dan para wakil rakyat ini harus
diberi acungan jempol. Tanpa basa-basi formalitas, kedua belah pihak saling
angkat bicara secara leluasa.

Hanya saja, ibarat kran air yang terbuka setelah selama ini tersumbat, yang
juga ikut muncul adalah kebablasan dalam berbicara. Gus Dur menyamakan
sebagian anggota DPR yang dianggapnya "tak berpikir serius" sebelum bicara,
dengan murid "TK". Sebaliknya, sebagian anggota DPR juga bicara "asal beda"
dengan pemerintah. Kematangan berinteraksi dan memfokuskan pembicaraan pada
hal-hal substansial belum terlihat.

Namanya juga awal, tak ada yang sempurna. Demokrasi adalah proses belajar
yang tak pernah selesai, maka semoga saja ini akan berkembang jadi makin matang.

Ini juga perlu jadi pelajaran bagi para pakar politik, yang setelah era
reformasi, asal bicara keras di sana-sini. Saling berbeda, tapi tak pernah
'berbenturan' pemikiran. Contoh paling jelas adalah soal federalisme. Amien
Rais bilang setuju ide negara federal. Wiranto bilang, harus berpikir
puluhan kali. Semua bicara sendiri-sendiri, impulsif dan ogah duduk di satu
meja yang sama. Masyarakat bingung.

Kalau hendak mencapai kematangan berdemokrasi, sikap no action talk only
(Nato) ini sudah saatnya dihentikan. Dialog mesti berlangsung di semua
lapisan, termasuk melibatkan masyarakat. Jangan sampai terulang, belum lagi
bicara dengan rakyat Aceh sudah mengancam: referendum mesti dalam bingkai
negara kesatuan. Jelas, ini bukan sikap seorang demokrat. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke