Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 42/II/21-27 Nopember 99
------------------------------

SETOR DANA BUMN GAYA TANRI ABENG

(POLITIK): Alih-alih untuk mengelola pendidikan dan pelatihan pimpinan BUMN,
Tanri Abeng memeras setiap perseroan terbatas. Untuk apa?

Sebuah surat dilayangkan kepada Menteri Negara (Meneg) Pendayagunaan Badan
Usaha Milik Negara (PBUMN), yang baru Ir.  Laksamana Sukardi, awal November
lalu. Pengirimnya Indonesian Corruption Watch (ICW). Penandatangannya, siapa
lagi, kalau bukan   Koordinator Badan Pekerja ICW Teten Masduki. 

Terang saja, surat bernomor 129/SK/ICW/XI/199, tertanggal 9  November 1999,
membuat kaget anggota kabinet Persatuan Nasional, yang sebelumnya dikenal
sebagai aktifis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu. Maklum
saja, Pak Menteri, yang pernah menjadi orang bankir di Lippo Bank itu,
tengah konsentrasi menyelesaikan dan menyisir kemungkinan terjadinya
penyalahgunaan jabatan dan kekuasan yang dilakukan Meneg PBUMN sebelumnya,
yaitu Ir. Tanri Abeng.

Memang, laporan ICW itu menambah pekerjaan setumpuk Laksamana Sukardi. Pak
Menteri itu memang baru memulai. "Saya akan melakukan peninjauan ulang
terhadap semua perjanjian BUMN selama ini. Jadi, butuh waktu," jelasnya. 

Surat yang dikirim ICW memang tidak tanggung-tanggung mengejutkannya. Surat
yang berperihal Yayasan Pengembangan Kepemimpinan BUMN (YPK-BUMN) itu, pada
intinya mempertanyakan menteri baru soal adanya laporan masyarakat mengenai
pembentukan YPK-BUMN oleh Tanri Abeng, Meneg sebelumnya. Yang jadi soal,
disitu adalah menyangkut pengelolaan dana penyelenggaraan pendidikan dan
latihan di tiap BUMN, yang akan dikelola oleh Tanri Abeng.

Pada 11 Desember 1998, Tanri Abeng mengeluarkan surat keputusan No.
Kep-093A/M-PBUMN/1998 tentang Komite Persiapan Pembentukan YPK BUMN.
Disebutkan di situ, salah satu tujuannya adalah berdirinya Institut
Pengembangan Korporasi.

Kemudian 12 Pebruari 1999, Tanri Abeng mengeluarkan surat berikutnya tentang
persetujuan Pemegang Saham untuk mendirikan dan melakukan penyetoran uang
pangkal pada YPK-BUMN sebesar 10 persen dari anggaran pendidikan dan latihan
tahun anggaran 1999 masing-masing dari perseroan terbatas sebanayak 107 buah. 

Hal yang sama dikeluarkan pula oleh Tanri Abeng pada tanggal 25 Pebruari 199
dengan surat bernomor S-90/M-PBUMN/1999. "Ini memperkuat surat yang pertama,
agar diindahkan oleh PT-PT di bawah BUMN," tambah sumber Xpos tersebut.

Pada 15 Maret 1999, YPK-BUMN kembali mengeluarkan surat, yang pada intinya
berisikan permintaan kepada seluruh pimpinan BUMN untuk menyetorkan dana
kontribusi BUMN kepada YPK-BUMN melalui rekening No. 017.000421808.001 di
BNI cabang Kramat, Jakarta. "Ini rekening atas nama Tanri Abeng," jelas
sumber tersebut.

Dengan surat tersebut, akibatnya PT Garuda Indonsia, ketakutan. Robby
Djohan, selaku komisaris PT Garuda Indonesia, yang harus berterima kasih
pada Tanri Abeng karena penunjukkanya sebagai komisaris, pada tanggal 15
Pebruari 1999, segera ACC. Ia mengeluarkan surat No. 019/Dekom/Keu-06/ii/99
yang menyetujui penyetoran modal PT Garuda Indonesia kepada YPK-BUMN sebesar
Rp1 milyar.

"Kalau 107 perusahaan tersebut menyetor dana minimal 10% dari anggaran
pendidikan dan latihannya atau sebanyak-banyaknya Rp1 milyar, jumlah
seluruhnya bisa mencapai Rp300 milyar. Itu bukan jumlah yang sedikit
kalaupun masih jauh dibandingkan nilai Bank Bali," jelas Teten yang ditemui
Xpos.

Jadi, dengan jumlah dana sebesar itu, Teten mempertanyakan sejauhmana Meneg
PBUMN yang baru tahu. "Saya mohon klarifikasi atas pengelolaan dan
penggunaan dana tersebut. Kami sangat khawatir pembentukan yayasan itu hanya
kamuflase dan modus pemerintah Orde Baru untuk mengalihkan dana negara ke
badan partikelir yang jauh dari kontrol dan pengawasan negara. Yayasan itu
sendiri menurut kami adalah sesuatu yang tidak perlu. Bukankah setiap
perusahaan di bawah BUMN  sudah biasa dan mempunyai lembaga pendidikan dan
latihannya sendiri-sendiri. Mengapa mesti dikoordinir lagi oleh BUMN? "
Teten bertanya.

Sebuah sumber di lingkungan Meneg PBUMN mensiyalir, bahwa dana-dana itu
kemungkinan besar digunakan untuk mendukung Tim Sukses BJ Habibie waktu itu. 

Namun, Asisten Menteri (Asmen) bidang Komunikasi dan Pengembangan Sumber
Daya Manusia pada kantor Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik
Negara (Meneg PBUMN) Sofyan A Djalil membantah besarnya dana senilai Rp300
milyar yang dikumpulkan YPK-BUMN diperuntukkan untuk kepentingan lainnya,
seperti kelompok BJ Habibie. 

"Dana itu justru digunakan sebagai dana abadi bagi biaya pendidikan dan
pengembangan kemampuan profesional dan manajerial kepemimpinan BUMN. Jadi,
tak benar kalau pengumpulan dana itu untuk kepentingan lainnya. Pengumpulan
dana itu justru untuk mendidik dan mengembangkan para direktur dan senior
manager di lingkungan BUMN di kantor Menteri Negara Pendayagunaan BUMN,"
ujarnya sebagaimana dikutip di Kompas (17/11), lalu. 

Menyangkut dana yang dikumpulkan YPK BUMN senilai Rp300 milyar itu juga
dibantahnya. Menurutnya, yang benar Rp9,6 milyar dari 90 PT di lingkungan
BUMN. "Memang semuanya berjumlah 107 PT, tetapi sebagian lainnya menolak
mentah-mentah, seperti PT Telkom," tambahnya. YPK BUMN, tambah Djalil,
memang dibentuk oleh Meneg PBUMN Tanri Abeng berdasarkan Surat keputusan
pada 11 Desember tahun lalu. 

Jabatan yang dipegang Meneg PBUMN Tanri Abeng waktu itu adalah sebagai Badan
Pendiri dan sekaligus Ketua Badan Pembina. Namun, katanya, sifatnya ex
officio, yang artinya apabila yang bersangkutan meninggal atau diganti,
jabatannya pun akan berganti. 

Menurut Djalil, pendirian YPK BUMN sebetulnya mempunyai maksud dan tujuan
yang baik, yaitu mencetak direktur dan manager yang profesional dan
mempunyai kepemimpinan yang baik dan kuat. 

Tapi, sesederhana itukah bantahannya. Yang jelas, Laksamana Sukardi tengah
menyelidiki soal ini juga. "Pak Menteri nanti akan membeberkan dana YPK BUMN
dengan Tim Sukses Habibie," jelasnya.  

Kita tunggu saja. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke