Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 04/III/6-12 Pebruari 2000
------------------------------

NEKAD

(LUGAS): Perseteruan Gus Dur-Wiranto kian memanas. Banyak pihak kini
mengkhawatirkan hal ini akan "berdampak buruk pada persatuan bangsa."
Memang, meskipun tidak secara transparan dikemukakan di berbagai media
massa, namun sudah menjadi pembicaraan umum bahwa Wiranto memiliki kendali
pada sekelompok aparat militer yang dianggap sering menjadi provokator
kerusuhan di berbagai daerah. Asumsinya, bila koflik Wiranto-Gus Dur
memuncak, Wiranto akan menggerakkan orang-orang suruhannya dan membuat
persoalan stabilitas di negeri ini kian kacau-balau.

Bisa jadi demikian. Namun, bila ini terjadi, maka semakin jelaslah bahwa ia
selama ini memang tidak berada dalam kubu kaum reformis. Semula banyak yang
menduga Wiranto telah berubah haluan semenjak Soeharto lengser dua tahun
silam. Gus Dur sendiri pernah mengatakan bahwa Wiranto adalah jenderal
reformis. Wiranto juga terbukti bukanlah jenderal berkepala dingin yang ahli
memainkan strategi.

Seorang yang berkepala dingin tidak akan bertindak reaktif saat dituduh
bertanggung jawab terhadap pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur.
Sebab, dengan melakukan 'gerilya', ia sendiri justru mementahkan usaha Gus
Dur yang hendak menyelamatkannya dari mahkamah internasional. Bagaimanapun
Gus Dur takkan lupa sikap Wiranto yang memberi jalan padanya di saat
pemilihan presiden tahun lalu. Itu sebabnya, Gus Dur sempat melobi Cina agar
menentang usaha barat mengadili para jenderal di tribunal internasional. Dan
Gus Dur berhasil meyakinkan negara yang punya hak veto di tingkat Dewan
Keamanan PBB itu. Andai Wiranto tak reaktif, Gus Dur kemungkinan akan tetap
melindungi Wiranto di dalam negeri. Toh, pengadilan terhadap para jenderal
itu belum juga berlangsung.

Sekarang, sudah terlambat. Tak ada lagi kompromi. Banyak orang mungkin heran
dengan sikap yang diambil Gus Dur. Namun, ia bukan tak punya hitungan. Para
petinggi TNI tidak sepenuhnya loyal pada Wiranto. Meskipun didukung
Pangkostrad Djadja Suparman, sejumlah perwira tinggi termasuk penanggung
jawab keamanan ibukota, Pangdam Jaya Ryamizard Ryacudu lebih mendengar Gus
Dur. Baru-baru ini Gus Dur pun telah meraih perhatian Kopassus yang selama
ini dijadikan alat oleh Wiranto namun "tak pernah nasibnya diperhatikan."
Kalaupun itu semua masih kurang, dua dedengkot NATO, Inggris dan AS sudah
menyatakan diri berada di belakang Gus Dur.

Secara matematis, sulit terjadi kudeta. "Kecuali, kalau Wiranto sudah
benar-benar nekad," ujar seorang wartawan senior. Semoga tidak. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke