Kamis, 1 Juni 2006
Prestasi dan Humanis

Singkawang,-  BERPRESTASI dan humanis. Demikian motto yang langsung terbaca ketika kita memasuki SMA Santo Ignasius Singkawang. Sekolah ini pada akreditasi tahun 2005 dinyatakan sebagai peraih nilai tertinggi dengan peringkat amat baik (A) dari 56 sekolah. Peringkat ini dinilai oleh Badan Akreditasi Sekolah (BAS) Kalbar. Lantas, apa rahasia sukses sekolah ini dalam membina siswanya?

"Kebetulan saja kita mendapat nilai tertinggi. Lagipula banyak sekolah yang tak mengikuti akrediatasi itu lantaran masih berlaku akreditasi sebelumnya," ucap merendah Kepala Sekolah SMA Santo Ignasius, Lusiana Lidwina kepada Pontianak Post. Padahal tak mudah memetik nilai tinggi dari 185 indikator penilaian. Komponen yang dinilai dalam pemberian akreditasi tersebut antara lain melingkupi kurikulum dan proses pembelajaran, administrasi dan manajemen sekolah, organisasi serta kelembagaan sekolah. Juga sarana dan prasarana, ketenagaan, pembiayaan, peserta didik, peran serta masyarakat, lingkungan dan budaya sekolah.

Satu hal utama yang membedakan SMA Santo Igansius dengan sekolah pada umumnya terletak pada sistem penerimaan siswa baru. Sekolah yang terletak di Jalan SM Tsafioeddin tersebut, ternyata tak memberlakukan Nilai Ebtanas Murni (NEM) sebagai penyaringnya. Melainkan kepriabadian siswa lewat tes wawancara dan nilai raport selama duduk di bangku SMP.

"Kita lebih menekankan pada potensi sang anak. Dari wawancara dan raportnya bisa dilihat apakah dia memiliki semangat untuk belajar," papar Lusi. Pintar secara akademik saja tak menjadi jaminan apabila siswa itu nantinya malah malas belajar. Artinya tak memiliki kesungguhan dalam mengembangkan potensinya. Menurut Lusi, ada juga beberapa orang yang protes atas kebijakan tersebut. Namun pihaknya sering kali menjelaskan bahwa tak akan mengubah sistem penerimaan.

"Anak pintar bisa saja diciptakan jika tekun menimba ilmu. Tapi kalau semasa SMP saja bisa bolos sampai sebulan, rasanya agak sulit membinanya," tambah dia. Meski, lanjut Lusi, dengan sistem penerimaan ini kemampuan siswa amat beragam. Jadi perlu ditempuh upaya pembinaan lebih intensif. Salah satunya dengan membagi siswa ke kelas berdasar kemampuan. Sesama siswa berkemampuan akdemik tinggi dijadikan sekelas.

Demikian pula dengan siswa dengan kemampuan sedang dan kurang. Disamping itu sekolah juga lebih memacu siswa di bidang pengembangan potensi. Melalui kegiatan ekstra kurikuler seperti bengkel sastra, band, paduan suara, dan berbagai cabang olahraga. Bahkan sekolah ini terhitung sudah sebelas kali menggelar turnamen basket se-Kota Singkawang. Beragam penghargaan olahraga basket pun berhasil diboyong siswa SMA Santo Ignasius.

"Membentuk pribadi yang kuat bisa dilakukan dengan pengembangan potensi anak di berbagai bidang yang digemarinya. Bukan berarti akademik tak penting, tapi keberhasilan pendidikan tidak hanya dipandang dari sisi akademik semata," kata Lusi. Makanya ektra kurikuler di sekolah yang sudah berdiri sejak tahun 1969 itu sangat didorong agar tumbuh kembang. Seiring dengan prestasi akademik, torehan prestasi di ektra kurikuler tak kalah sukses.

Tentunya tak mudah mempertahankan ataupun meningkatkan keberhasilan ini. Makanya pihak sekolah sudah merancang beberapa rencana ke depan. Salah satunya dengan mendatangkan guru Bahasa Mandarin dari Beijing pada tahun depan. "Bahasa Mandarin sngat potensial untuk dikembangkan. Apalagi sekarang ini kebutuhan dunia kerja terhadap kemampuan Bahasa Mandarin amat besar," sambungnya. (dee)

 



=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [www.singkawang.us]
=====================================================




SPONSORED LINKS
Bali indonesia Indonesia hotel


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke