Selasa, 30 Mei 2006
Menampung dan Mendidik Anak Tidak Mampu
Melihat Lebih Dekat Pesantren Nurul Iman

Singkawang,-  Pesantren, konsep pendidikan agama dimana para siswa tinggal dan belajar bersama, banyak digunakan oleh umat Islam untuk memperdalam pengetahuan agama mereka. Demikian halnya Pondok Pesantren Nurul Iman, di Desa Parung, Bogor yang didirikan oleh Habib Saggaf bin Syekh Abubakar pada tahun 1999. Ada sesuatu yang berbeda dibalik pendirian pondok pesantren ini. Habib membangun pesantren ini terutama untuk menampung dan mendidikan anak-anak yang tidak mampu. Pesantren ini pun mendapat bantuan dari Yayasan Budha Tzu Chi.

Karenanya semua santri/wati disini, diterima untuk tinggal dan belajar cuma-cuma maka dalam beberapa tahun, jumlah santri/wati yang mendaftar terus meningkat dari semula hanya 12 santri kini berlipat menjadi 8000-an santri/wati.

Pembangunan sekolah ini dibantu oleh Yayasan Buddha Tzu Chi yang juga memberi bantuan 60 ton beras per bulan sejak Mei 2004. Proses pembangunan sekolah selesai dalam waktu kurang dari satu tahun. Memiliki dua lantai dengan 24 ruang kelas, dua ruang guru, 32 kamar mandi dan 20 toilet. Bangunan ini mengakomodasi pendidikan untuk tingkat tsanawiyah,aliyah juga universitas.

Salah seorang relawan Tzu Chi asal Singkawang, Maya Satrini mengatakan bahwa konsep yang patut ditiru dalam karya sosial di pesantren itu adalah "trust" atau kepercayaan.

Adanya kepercayaan itulah, kata dia, yang membuat pondok pesantren Nurul Iman yang dibantu Yayasan Budha Tzu Chi dapat memberikan bantuan lebih banyak demi kemajuan pendidikan bagi generasi penerus bangsa.

Menurut Maya, kehadiran Yayasan Budha Tzu Chi untuk "berkarya" di pondok pesantren Nurul Iman itu sama sekali tidak ikut campur atau masuk lebih jauh ke dalam sistem ibadah atau masalah aqidah umat muslim. Pasalnya, kata Maya, pondok pesantren kendati mendapat bantuan dari Yayasan Budha Tzu Chi, tetap menjalankan kegiatannya sebagaimana sebuah pondok pesantren.

"Tzu Chi masuk lebih karena dorongan kemanusiaan. Habib Saggaf memiliki kepedulian tinggi terhadap generasi bangsa terutama di bidang pendidikan, itu sejalan dengan visi misi Yayasan Budha Tzu Chi," katanya.

Dari hal itu juga, Maya mengatakan tidak ada langkah untuk "budhanisasi" terhadap pondok pesantren tersebut. Yayasan Budha Tzu Chi, tegas Maya, hanya menjalankan misi kemanusiaan di pondok pesantren tersebut. Pertengahan Juli 2005, para santri yang semula belajar berdesakan di ruang-ruang sempit, akhirnya dapat menikmati kenyamanan dalam belajar sejak mereka pindah ke sekolah yang baru. Sekolah baru ini diresmikan 17 Juli 2005 lalu. (bersambung)

 

Rabu, 31 Mei 2006
Mengajarkan Pendidikan Cinta Kasih Kepada Sesama
Melihat Pondok Pesantren Nurul Iman (bagian 2)

Singkawang,-  Bersekolah di pesantren memang berbeda dari sekolah umum. Misalnya saja pemberian pelajaran yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar utama. Dan juga sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Pelajaran agama memegang porsi terbesar dari pelajaran yang diberikan meskipun juga terdapat pelajaran pengetahuan umum. Tak lupa, ajaran dan pendidikan cinta kasih bagi para penghuninya.

Sebagian para ustadz yang mengajar adalah santri yang sudah mondok selama lima sampai enam tahun. Mereka mengajar sambil melanjutkan kuliah. Habib Saggaf dengan tegas menerapkan pendidikan dengan kasih sayang. Ustadz dilarang memberi hukum fisik, jangankan memukul, menjewer telinga pun tidak boleh. Ajaran cinta kasih seperti itulah yang sesuai pula dengan visi misi Yayasan Budha Tzu Chi dalam menyebarkan cinta kasih kepada sesama.

Menurut Maya Satrini, salah seorang relawan Tzu Chi Singkawang saat berkunjung ke Pondok Pesantren Nurul Iman, lembaga pendidikan tersebut sangat berkeinginan agar tidak terjadi "lost generation" di negara ini. Terutama berkenaan dengan kemajuan bangsa di masa mendatang.

"Ini sejalan juga dengan visi misi dari Yayasan Tu Chi yang memiliki pemikiran untuk masa depan bangsa ini," katanya.

Maya juga menilai bahwa dengan dibantunya pondok pesantren itu oleh Yayasan Tzu Chi, ada keinginan dari dua lembaga tersebut untuk menciptakan para ahli yang memiliki latarbelakang iman yang kuat. Sekaligus menciptakan generasi bangsa yang lebih bermoral kemudian dapat saling menghargai antarumat manusia.

Memang tinggal dalam pesantren, para santri harus hidup teratur mengikuti jadwal yang telah ditetapkan mulai dari bangun, sholat, bersih diri, belajar, makan dan tidur. Sejak dini mereka sudah belajar berdisiplin karena semua harus dikerjakan sendiri, seperti mencuci pakaian dan merapikan tempat tidur. Tidak ada orangtua yang akan melakukan hal-hal tersebut untuk mereka. Ini juga harus dilakukan oleh beberapa orang santri yang tergolong masih sangat muda. "Para santri/wati diajarkan untuk menjalani hidup dengan tabah dan sabar," katanya.

Pengajaran dengan kasih sayang yang dianut oleh Habib seperti juga cinta kasih yang menjadi landasan Yayasan Tzu Chi, tetap memiliki tujuan mulia untuk membentuk generasi muda yang berakhlak.

Di pondok pesantren itu kegiatan sekolah dijalankan dalam dua sesi yang pertama dimulai pukul 07.00 sampai pukul 11.00 WIB. Pada sesi pagi ini, para santri mendapat pelajaran yang berkaitan dengan agama Islam seperti bahasa Arab, Fiqh, Tauhid dan sebagainya. Sedangkan sesi siang dilakukan setelah sholat Luhur dan makan, persisnya pukul 14.00-15.00 WIB. Di sesi tersebut diajarkan pelajaran umum seperti sekolah-sekolah lainnya. Ini berlangsung dari Senin sampai Sabtu, sedangkan hari Minggu digunakan untuk pendalaman bahasa Inggris.(habis)




 
 


=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [www.singkawang.us]
=====================================================




SPONSORED LINKS
Bali indonesia Indonesia hotel


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke