Selasa, 10 Oktober 2006
Penyiar Islam Pertama di Nusantara
Oleh: Hasan Karman

BUKU Sejarah Indonesia sejak SD mengajarkan, bahwa penyebar agama Islam di Indonesia adalah bangsawan dari Gujarat (India). Sampai selesai kuliah pun Penulis masih percaya demikian. Setelah Orde Baru runtuh dan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) menjadi Presiden, muncullah "pengakuan" cucu pendiri NU ini bahwa dirinya masih berdarah Tionghoa. Dia memiliki silsilah marga Tan (Chen). Sebelumnya jarang atau hampir tidak ditemukan literatur Indonesia yang menyingkapkan bahwa Wali Songo berasal dari etnis Tionghoa.

Pada tahun 1407, di Sambas terdapat Komunitas Tionghoa Muslim di bawah pimpinan Haji Gan Eng Tju alias Arya Teja bermazhab Hanafi. Tahun 1463, Laksamana Cheng Ho, seorang Hui dari Yunan, atas perintah Kaisar Cheng Tsu alias Jung Lo (kaisar ke-4 dinasti Ming) selama tujuh kali memimpin ekspedisi pelayaran ke Nanyang (Asia Tenggara). Beberapa anak buahnya ada yang kemudian menetap di Kalimantan Barat dan membaur dengan penduduk setempat. Mereka juga membawa ajaran Islam yang mereka anut.



Kerajaan Islam Pertama

Dekade terakhir abad ke-15, berdiri Kerajaan Demak yang berlangsung dari tahun 1475 sampai 1568. Pendiri Kerajaan Demak ini adalah putera dari Haji Chen Xuanlong (Tan Swan Liong) dari Palembang (Sumatera Selatan), yang pada masa itu merupakan daerah permukiman komunitas Tionghoa yang besar dan mayoritas beragama Islam. Nama putera Haji Tan Swan Liong adalah Chen Jinwen alias Panembahan Tan Jin Bun atau Raden Patah/Arya (Cu-Cu) Sumangsang atau Prabu Anom. Portugis menunjuknya sebagai Pate Rodin Senior. Menurut Tome Pires, seorang penjelajah Portugis, Panembahan Tan Jin Bun yang lebih dikenal sebagai Raden Patah (Fatah) ini adalah seorang "persona de grande syso" (seorang tokoh yang sangat bijak), seorang "cavaleiro" (bangsawan/ksatria terhormat). Prof. Slamet Mulyana menjelaskan makna Jinwen atau Jin Bun adalah "orang kuat".

Elit penguasa Kerajaan Demak mayoritas adalah keturunan Tionghoa. Sebelum kedatangan dan terjadinya kolonisasi oleh bangsa Eropa, perkawinan campur antara etnis Tionghoa dan Jawa adalah hal yang biasa terjadi. Dr Pigeaud dan Dr De Graaf melukiskan keadaan abad ke-16 sebagai berikut: Di kota-kota pelabuhan Pulau Jawa, elit penguasa mayoritas terdiri atas keluarga Tionghoa, dimana di antara anggota keluarga yang pria mengambil wanita Jawa sebagai isteri mereka.

Berbagai sumber sejarah Jawa juga mengungkapkan bahwa pada abad ke-16 banyak sekali orang Tionghoa yang tinggal di kota-kota sepanjang pesisir pantai utara Pulau Jawa. Di luar daerah Demak, orang Tionghoa banyak yang sudah menetap di Cirebon, Lasem, Tuban, Gresik (Shi Cun), dan Surabaya (Shi Shui). Kebanyakan Tionghoa Muslim ini juga memiliki nama Arab atau nama Islam.

Salah seorang cucu Raden Patah (Tan Jin Bun/Chen Jinwen) memiliki ambisi menyamai Sultan Ottoman dari Kerajaan Turki. Menurut de Graaf dan Pigeaud, Sultan terakhir dari Kerajaan Demak, Tan Muk Ming/Chen Mumin alias Sunan Prawata, berkata kepada Manuel Pinto, bahwa dirinya sedang berjuang keras untuk menjadi "o segundo Turco" (Sultan Turki kedua) setara dengan kebesaran Sultan Sulaiman I dari Ottoman. Terbukti bahwa selain naik haji, ia juga mengunjungi Turki.



Penyebar Islam Masa Lalu

Sejumlah sumber informasi Jawa menekankan bahwa sultan-sultan Demak adalah keturunan Tionghoa. Terlalu panjang untuk menyebutkan satu persatu nama tokoh bersejarah Tionghoa di Kerajaan Islam Jawa, karena jumlahnya sangat banyak. Namun yang terpenting di antaranya adalah Raden Hussein (Pang Jinshan/Bong Kin San, sepupu Raden Patah atau Chen Jinwen); Sunan Bonang (An Wen'an/An Bun Ang); Sunan Drajat (Pang Dajing/Bong Tak Keng, putera Sunan Ampel alias Rahmat Pang Suihe/Bong Swie Ho); Sunan Kalijaga (Gan Xichang/ Gan Si Chang); Sunan Kudus (Jaffar Zha Dexu/Ja Tik Su); Haji Maulana Ifdil Hanafi alias Chen Yinghua/Tan Eng Hoat, Indrasena komandan terakhir Pasukan Bersenjata Sunan Giri; Pangeran Hadiri alias Sunan Mantingan yang merupakan suami Ratu Kalinyamat; Ki Rakim; Nyi Gede Pinatih (Shi Taining/Sie Tay Nio), ibu Raden Paku dan puteri dari Laksamana Shi Jinqing/Sie Chin Ching, yang dipertuan masyarakat Tionghoa di Palembang. Demikian juga Puteri Chen Wangtian/Tan Ong Tien, yakni puteri Haji Chen Yinghua isteri dari Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah Du Anbo/Toh A Bo), pendiri Kesultanan Cirebon; Cekong Mas (dari keluarga Han), makamnya terdapat di mesjid Prajekan dekat Situbondo, Jawa Timur, dan dianggap sebagai tempat ziarah yang suci; Adipati Astrawijaya, yang diangkat sebagai wedana oleh Kompeni Hindia Belanda, namun berpihak kepada para pemberontak Tionghoa di Semarang yang melawan Belanda pada tahun 1741, dan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Secodiningrat (Chen Jinxing/Tan Jin Seng). Menurut Prof. Slamet Mulyana, dari garis keturunan patrilinealnya, Sunan Giri merupakan cucu dari Rahmat Wang Suihe, seorang Muslim Tionghoa dari Propinsi Yunnan, Tiongkok, yang menjabat sebagai gubernur Champa (kini Vietnam), sebelum bermigrasi ke Jawa dimana ia menjadi kepala koordinator masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara.

Pengaruh arsitektur Tiongkok tampak jelas dalam desain masjid-masjid di Jawa. Muslim Mazhab Hanafiyah-lah yang pertama kali mendarat di Sumatera Selatan dan Jawa dari daratan Tiongkok pada masa Dinasti Yuan dan Ming. Prof. Mulyana berpendapat bahwa jika Islam di Pantai Utara Jawa berasal dari Malaka atau Sumatera Timur, maka pasti mereka merupakan Mazhab Syafii atau Shiah. Namun kenyataannya tidak demikian. Ia menekankan, sampai abad ke-13 hanya ada Mazhab Hanafi di Asia Tengah, Tiongkok, India Utara, bagian-bagian tertentu di Timur Tengah/Maghreb (Islam Afrika Utara) dan Turki.

Gelombang emigrasi besar-besaran dari Tiongkok ke Sumatera Selatan, Jawa dan wilayah lain Asia Tenggara terjadi sejak 1385, 17 tahun setelah kekuasaan Dinasti Ming. Jauh sebelumnya, Champa telah dikuasai Nasaruddin, seorang jenderal Muslim yang berasal dari pasukan Kublai Khan. Jenderal Nasaruddin diperkirakan telah menyebarkan Islam ke Cochin China. Terdapat sejumlah pusat Tionghoa-Muslim di Champa, Palembang dan Jawa Timur.

Tahun 1413 ketika Laksamana Cheng Ho (Zheng He) dan Laksamana Muhammad Ma Huan bersama armadanya tiba di Jawa, ia mencatat bahwa kebanyakan penduduk Tionghoa di sana beragama Islam seperti juga orang Dashi (Arab). Pada masa itu di sana belum ada orang Jawa yang memeluk agama Islam. Antara tahun 1513-1514, Tome Pires melukiskan Gresik di Jawa Timur sebagai sebuah kota makmur yang dikuasai orang Tionghoa. Pada tahun 1451, Ngampel Denta didirikan Rahmat Wang Suihe alias Sunan Ampel untuk menyebarkan Islam ke penduduk setempat. Sebelum itu, ia telah menyiapkan sebuah pusat Tionghoa-Muslim di Bangil (Jawa Timur).



Sebutan Kyai dan Sunan

Sangat menarik untuk dicatat bahwa setidak-tidaknya sampai masa pendudukan Jepang (1942-1945), di kota Malang, Jawa Timur, penduduk setempat masih menyebut orang Tionghoa yang baru datang sebagai "Kyai". Kyai berarti pengajar agama Islam (Islamic religious teacher). Sementara kebanyakan orang Tionghoa yang kemudian datang ke Asia Tenggara sudah bukan merupakan Muslim. Kebiasaan ini berasal dari masa lalu ketika kebanyakan para penduduk/pendatang Tionghoa di Jawa adalah Muslim. Gelar Sunan berasal dari dialek Hokkien (Fujian): "Suhu". Delapan dari Wali Songo menggunakan gelar Sunan, salah satunya menggunakan gelar Syekh yang berasal dari bahasa Arab; ke-9 Wali tersebut merupakan Tionghoa-Muslim dari Mazhab Hanafi. Kesimpulan logis dari catatan ini adalah bahwa para penyebar Islam dari Mazhab Hanafi tersebut adalah orang Tionghoa.**



*) Penulis adalah mahasiswa Program Doktoral Universitas Negeri Jakarta dan Pengamat Sosial, email; [EMAIL PROTECTED]

__._,_.___

=====================================================
~~~~~~~~~~ Selamat Menunaikan Ibadah Puasa ~~~~~~~~~~
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply
United Singkawang - [http://www.singkawang.us]
Friendster - [http://www.friendster.com/singkawang]
=====================================================





SPONSORED LINKS
Pontianak hotel indonesia Pontianak indonesia hotel

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke