Senin, 20 November 2006
Semua Tiket Nyaris Tak Berporporasi 
Pengembangan Wisata Singkawang


Singkawang,-  Hampir seluruh tiket masuk objek wisata di Kota Singkawang tidak 
berporporasi (legalitas). Padahal porporasi tersebut sangat penting agar ada 
kejelasan pengelolaan pendapatan yang dihasilkan dari objek wisata tersebut. 

Tidak adanya porporasi di tiket masuk, bisa dilihat dari tiket-tiket yang 
diberikan petugas objek wisata kepada para pengunjung. Di tiket-tiket itu, 
hanya ada penomoran tiket. Baik untuk tiket wisata bahari seperti Pasir Panjang 
dan Teluk Karang maupun wisata lainnya di tengah-tengah Kota Singkawang. 

"Bagaimana untuk menaikkan status tiket tersebut pada tingkat security jika 
untuk saat ini saja porporasi dari pemerintah itu tidak ada pada tiket objek 
wisata," kata Iskandar, S.PdI Wakil Ketua DPD KNPI Provinsi Kalbar. 

Perlu dingat kata Iskandar, keberadaan porporasi sangat penting, selain untuk 
kejelasan pemasukan yang diperoleh juga agar tidak mudah digandakan. Sebab 
bentuk porporasi yang ada pada tiket tidak bisa dibuat sembarangan. 

Sejauh ini menurut pengamatan Iskandar, porporasi tiket tersebut tidak pernah 
diperhatikan oleh Pemerintah Kota Singkawang, khususnya dinas terkait. Mereka 
seakan tidak mau tahu tentang hal tersebut. Yang ada hanya memperhatikan 
bagaimana cara agar objek wisata tersebut memberikan kontribusi untuk 
pemerintah tanpa mengutamakan peraturan yang semestinya harus dijalankan. 

"Yang penting ada uang masuk. Entah berapa persen banyaknya, asalkan 
menghasilkan. Itulah yang terjadi saat ini," kata Is. 

Senada disampaikan Ketua LSM Peduli Bangsa, Joko BS. Menurut dia, selain tidak 
jelas arah pemasukan objek wisata tersebut, tidak adanya porporasi juga akan 
membawa dampak negatif bagi perkembangan objek wisata itu ke depannya. Sebab, 
hal itu akan menjadikan pemerintah setempat seolah-olah tidak bertanggungjawab 
atas keberadaan objek wisata yang berdiri di tengah-tengah Kota Singkawang. 

Ingat ungkapnya, pemerintah mengakui, Singkawang sebagai kota wisata bahkan 
sebagai tamannya Kalbar. Akan menjadi sesuatu yang lucu bila tiket masuk menuju 
objek wisata tidak ada porporasinya. "Jangan mimpi untuk menjadikan kota ini 
kota yang kaya wisata jika aturan untuk porporasi itu saja diabaikan," kata 
Joko yang juga aktif di media ini kemarin. Joko berharap, saatnya pemerintah 
memperhatikan hal-hal seperti itu. Bukanlah sesuatu yang sulit kata dia untuk 
pemerintah melakukan porporasi di tiket masuk setiap objek wisata yang ada. 
Sebab semua itu sudah ada pedomannya. (vie) 



Kirim email ke