http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=13375\ 2 <http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=1337\ 52>
Jumat, 2 Maret 2007 'Bahasa Ibu', Jadi Kendala Sosialisasikan Program Gerakan Seribu Akseptor Tionghoa di Singkawang (Bagian-2) [KB : Peserta tampak antusias mengikuti dialog membahas pelaksanaan KB di lingkungan etnis Tionghoa. MELLA/PONTIANAKPOST ] Singkawang,- BUKANNYA warga miskin Tionghoa tak mau ber-KB. Mereka sebenarnya mau, hanya saja kendala bahasa membuat mereka kurang mengerti tentang manfaat yang bisa diperoleh dengan mengikuti program pemerintah ini. Alih-alih, mereka justru 'termakan' oleh banyaknya rumor tentang dampak negatif ber-KB. Tak dipungkiri, bahasa menjadi salah satu 'senjata' agar program KB bisa diterima dan tepat sasaran. Mella Danisari, Singkawang Pencanangan Gerakan Seribu Akseptor Tionghoa yang digagas oleh MABT Singkawang, sejalan dengan upaya pemerintah untuk kembali menggalakkan program Keluarga Berencana, guna lebih meningkatkan kualitas kesejahteraan keluarga. Program ini kembali ditempuh untuk mengentaskan kelompok keluarga berpendapatan rendah dari kemiskinan. Dan salah satunya warga miskin Tionghoa di Singkawang, yang selama ini dalam realitanya, masih ditemui keluarga yang beranak banyak, bahkan hingga 16 orang anak. Padahal, banyaknya anak sudah jelas akan berpengaruh terhadap kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi keluarga. "Bagaimana mungkin keluarga dengan banyak anak dapat memenuhi kebutuhan keluarga lahir dan batin, sementara pendapatannya tidak memadai. Jika kita tidak dapat memenuhi kebutuhan itu, sebaiknya kita membentuk keluarga kecil, sedikit anak, namun kehidupannya lebih terjamin," begitu ungkap keprihatinan yang dilontarkan oleh Walikota Singkawang, Awang Ishak tentang sebagian warganya yang enggan menjalani program KB. Bagi Awang, tentang pameo banyak anak banyak rezeki sudah tidak tepat lagi diterapkan saat ini. "Masyarakat tidak perlu lagi membuat keluarga besar dengan banyak anak sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Lebih-lebih bagi keluarga miskin," jelasnya. Awang sendiri mengaku sangat menyambut positif pencanangan Gerakan Seribu Akseptor Tionghoa ini. Dan dengan tegas Ia mengatakan, Pemkot siap memberikan fasilitas, sama halnya seperti fasilitas yang diberikan terhadap KB-Kes yang dilakukan TNI, PKK dan Bhayangkari. "Kita tidak membedakan etnis. Saya pakai MABT untuk pendekatan ke kalangan Tionghoa," tukasnya. Untuk tempat pelayanan, Awang telah menyiapkan Puskesmas yang tersebar di tiap kelurahan yang siap melayani siapapun warga yang ingin ber-KB. Tak terkecuali bagi warga Tionghoa. "Kita berharap kepedulian dari semua warga Tionghoa yang kaya untuk membantu warganya yang miskin, sehingga program seribu akseptor ini bisa terlaksana," katanya. Disadari atau tidak, bahasa memang menjadi penghambat. Dan hal itu dibenarkan oleh Ketua MABT Singkawang, Wijaya Kurniawan. "Selama ini sosialisasi KB dianggap kurang mengena karena selain keterbatasan perekonomian dan minimnya pendidikan, masyarakat yang kurang mengerti bahasa pengantar yang dipakai, membuat program KB tak bisa diterima seutuhnya oleh nalar mereka," bebernya. Maya dari Pekerja Sosial Masyarakat Kota Singkawang juga mengungkap kondisi real yang terjadi di lapangan, selama ia bertugas menjadi salah satu kader KB di lingkungan warga miskin Tionghoa. "Sebenarnya mereka banyak yang ingin ber-KB, tapi karena mereka kurang mengerti, akibatnya sering terjadi miss communication," urainya. Ujung-ujungnya, program KB tak mengena ke sasaran. Karenanya, Maya menyambut positif upaya MABT membuka diri sebagai jembatan untuk memfasilitasi warganya ikut ber-KB. Ia berpendapat, sudah saatnya ada petugas KB yang bisa menguasai bahasa Tionghoa, termasuklah perlunya keberadaan klinik KB khusus untuk warga Tionghoa. "Bukannya bermaksud rasialis, tapi ini adalah cara efektif merangkul saudara-saudara kita dengan pemahaman yang bisa mereka terima. Dan untuk klinik KB itu, juga bisa melayani semua warga, cuma memang ada petugas dari etnis Tionghoa yang standby disitu," sarannya. Kembali ia mengingatkan agar program Gerakan Seribu Akseptor Tionghoa ini jangan hanya sekedar dicanangkan tanpa adanya kepastian. Diperlukan dukungan pemerintah dan semua pihak terkait, termasuklah dalam pengadaan obat-obatan dan kontrasepsi. "Saya optimis program ini berhasil karena selama ini kami sudah punya link yang bagus, apalagi adanya tenaga medis dari etnis Tionghoa yang siap bekerjasama, asalkan mereka difasilitasi," katanya. Budiman selaku Ketua Foket Singkawang juga mengaku setuju dengan program ini. "Agar program berhasil, perlu dididik tenaga komunikasi informasi KB yang etnis Tionghoa. Tujuannya agar pesan bisa mengena dan diterima. Perlu pula diberikan dampak yang timbul dari ber-KB. Isu-isu negatif harus dieliminir sehingga program bisa berjalan," pintanya saat menjadi salah satu penanya dalam acara Community Program membahas permasalahan KB di lingkungan etnis Tionghoa, yang disiarkan langsung RRI Pontianak dari Kantor Pemkot Singkawang, Februari kemarin. Di kesempatan yang sama, Rio, salah satu tokoh pemuda Tionghoa yang pernah menerima penghargaan dari Presiden SBY sebagai bentuk kepeduliannya terhadap program KB, secara blak-blakkan mengatakan kalau kesan yang muncul selama ini, program KB bukan untuk warga Tionghoa. Karenanya tak heranlah bila rata-rata keluarga miskin, anaknya diatas 5 - 6 orang. "Mereka sebenarnya ingin ber-KB, tapi tak tahu persis apa manfaat dari KB. Dan yang terjadi kehidupan mereka miskin, anak pun banyak," ujarnya. Sama seperti lainnya, Ia berharap bisa kiranya pemerintah untuk mencetak kader-kader dari warga Tionghoa untuk turut memperjuangkan program ini. Kepala BKKBN Provinsi Kalbar, Faozan Alfikri menegaskan tidak semua warga Tionghoa tak mau ikut program KB. Karena tak sedikit pula yang dengan kesadaran sendiri, mau berpartisipasi dan ikut menyukseskan program KB. Buktinya ada pasangan KB Lestari dari Singkawang yang belum lama ini memperoleh penghargaan dari Presiden SBY. "Ini bukti bahwa ada juga warga Tionghoa yang mengerti dan mau ber-KB. Mudah-mudahan ini bisa jadi contoh bagi lainnya," begitu harapan yang dilontarkan Faozan. Tak heranlah bila peserta KB Lestari disebut juga sebagai pahlawan pembangunan. "Dengan kesediaan mereka ikut program ini, berarti mereka ikut pula menyukseskan program pembangunan pemerintah," timpalnya. (*/habis)
