Begitulah Jung, jangankan di Indonesia, dimana2 aja g kira jg suka mengikuti
"arah angin" dlm masalah apapun, palagi kalo masalah politik
hehehhehehehehe......
Jadi.......gak usah heran, Jung.....
yg gak bisa ngikuti 'arah angin' maka pasti terpelanting oleh
hempasannya......
take care
cu
Alang, HK
JUNG THAT LIAU <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
ananta darma <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya kira wajar saja orang Tionghoa sekarang merayakan Imlek. Dulu situasi
politik yang membuat mereka tidak bisa merayakan tahun baru China itu. Orde
Baru yang rasialis dan deskriminatif, adalah jawabannya. Nah, kalau Walubi yg
dulunya mengedarkan surat larangan merayakan Imlek, mungkin perlu kita
pertanyakan sikapnya. Tapi itulah politik, mudah berbalik arah tegantung angin
bertiup.
Akhir-akhir ini banyak orang yang memperebutkan imlek. Vihara-vihara mengadakan
sembahyang, gereja-gereja ngadain misa dan kebaktian imlek dengan nuansa merah,
sekalian dengan barongsai dan angpao. Di tv-tv, para bikhuni/bante mengucapkan
selamat imlek sebagai iklan narik simpati. Para pendeta, pasteur gak
ketinggalan. Itu berbeda dengan keadaan 10-20 tahun yang lalu, semua ngumpet.
Pas hari raya imlek disekolah-sekolah katolik dan kristen langsung mengadakan
ulangan, dan murid-murid yang tidak masuk pada saat tahun baru imlek dapat
hukuman atau langsung dikasih merah nilainya karena tidak ikut imlek. Memang
manusia kadang cepat berubah. Kadang jadi orang Tionghua Indonesia malu juga,
karena kadang agak kurang rasa malunya. Salah satu contoh menyolok adalah
edaran dari Walubi yang dulu melarang merayakan imlek, tapi sekarang malah
ngotot berbalik arah. Kasihan umat Khonghucu yang bertahan, pada saat angin
perubahan,
orang-orang enggak rela imlek menjadi perayaan agamanya.
Maka semua berlomba menjadikan imlek perayaan kebudayaan. Menyedihkan...
-------------------------------
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
with my best regard..
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com