Teman2 se milis.

Untuk berapa lama seseorang harus menjadi dermawan sebelum dia itu bersyarat 
utk mencalonkan diri sebagai calon wali kota?
Kalo kita pegang pada prinsip yg sedemikian, apakah ada yg bersyarat didunia 
ini. Sebaliknya, para dermawan malahan tidak sudi menjadi "public servant".

Sebagai pemberi suara, apakah kita memberi suara dengan hati tulus, tidak 
berharap calon tersebut nanti kalo udah terpilih akan membawa keungtungan utk 
kita. Jadi apa bedanya sih antara berdua. Dua belah pihak saling mengharapkan 
imbalan.

Wali kota itu milik masyarakat Pemkot Singkawang. Jangan kara2 jalan di Kopisan 
belum beraspal atau belum ada sambungan telepon, lalu kita cap si walikota itu 
tidak becus. Seorang wali kota itu harus mem prioritas kan proyek2 berdasarkan 
besarnya anggaran yg tersedia. Belum tentu proyek2 yg di idam kan oleh kita 
jatuh dibawa jurisdiction Pemkot.

Teman2 lain yg mengerti soal jalan, listrik, air dan telepon harap bisa 
membantu menjelaskan proses nya agar Lydia Pei dan lain2 nya tidak kecewa terus.

Komentar "politikus hanya mengincar keuntungan dengan posisi yang tinggi dulu 
baru berpikir utk masyarakat" rasanya kurang bijaksana. Impresi saya, Pak Hasan 
itu bukan orang yg demikian. Calon2 yg lain, gak/belum tahu.

Apa yg dimaksudkan dengan "berpikir utk masyarakat"? "Bench mark" nya apa?
Bukankah semua kemajuan2 kota Skw yg dapat kita liat itu adalah hasil dari 
"berpikir utk masyarakat".

Sekian dulu agar tidak terlalu panjang karna masih ingin memberi tanggapan 
tentang "membeli kuicng dalam karung" dan "lip service" .

Li

Albert <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  teman-teman,
 saya juga setuju dengan pendapat saudari Lidya ,
 "Pak Hasan kenapa harus menunggu di vote dulu barumembantu, kenapa 
 bukan dengan hati tulus aja bantu mereka yg membutuhkan, otomatis 
 mereka melihat Pak Hasan tulus akan memvote penuh"
 
 para pemain politik di daerah kita kebanyakan memang lip service saja. 
 saya tidak melihat adanya perubahan yang signifikan dalam perkembangan 
 singkawang dr yang saya amatasi sejak 2-3 tahun yang lalu, masi 
 begitu2 saja. 

 
 Para politikus hanya mengincar keuntungan dengan posisi yang tinggi 
 dulu baru berpikir utk masyarakat. sebenarnya seorang pemimpin yang 
 bijaksana dan baik adalah pemimpin yang bisa memikirkan kepentingan 
 publik di atas kepentingan pribadinya
 
 





       
---------------------------------
Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. 

Kirim email ke