http://www.equator-news.com/berita/index.asp?berita=ProOtonomi&id=61146


Selasa, 22 Mei 2007
Manuver P3 Singkawang(Pertaruhan Citra Partai)
Equatorial

Suhu politik menjelang pemilihan walikota dan wakil walikota Singkawang
sudah mulai terasa. Bukan saja aktivitas para calon kandidatnya yang
terus menggencarkan sosialisasi agar dikenal calon pemilih. Tetapi juga
kalangan partai politik (Parpol) yang sudah menghitung kekuatannya
masing-masing.
Tak ada gunanya para calon kandidat memperkenalkan diri jika mengabaikan
peran Parpol. Sebab dalam Pilkada tersebut tak mengenal calon independen
sehingga mutlak diusung oleh Parpol yang memiliki 15 persen perolehan
kursi maupun suara dalam Pemilu 2004 lalu. Parpol besar atau yang
menempatkan legislator cukup banyak, tentu saja santai menyikapi ini.

PDIP dan Partai Golkar Kota Singkawang, masing-masing Parpol tersebut
tak perlu bingung lagi lantaran telah cukup dan memenuhi syarat untuk
mengajukan satu pasangan calon. Kalaupun tak melamar, maka akan dilamar
oleh para calon kandidat. Berbeda dengan Parpol kecil yang tak memiliki
kadernya di DPRD, diharuskan untuk berkoalisi.

Sedangkan PAN memiliki dua kursi di DPRD Singkawang seperti halnya PPP.
Kedua Parpol itu pada awalnya tergabung dalam Koalisi Pembangunan yang
secara lengkap terdiri dari PPP (4,09%), PAN (4,83%), PNBK (1,58%), PPD
(2, 18%), PSI (1,25%), PPDI (0,85%), dan PBR (2,42%).

Di luar dugaan, PPP menarik dukungan yang diperkuat melalui pengeluaran
surat keputusan (SK) sehingga total persentase sebesar 17, 29%

berkurang. Koalisi Pembangunan pun hanya mengantongi 13,11%. Artinya,
tak cukup untuk mencalonkan satu pasangan Awang Ishak-Raymundus Sailan.
Untuk melengkapinya tentu saja perlu mengajak Parpol kecil yang tercecer
saat Pemilu lalu.

Fenomena menarik sebetulnya terletak pada manuver PPP yang menarik
dukungan. Secara tidak langsung, tak bisa ditutupi karena PPP beralasan
masih memperhatikan imej dan citra Parpol demi kepentingan yang lebih
besar yakni Pemilu 2009.

Hal itu lantaran kehadiran Awang Ishak tak terpisahkan dari masa lalunya
yang disorot publik karena affair yang menghebohkan. PPP patut mendapat
apresiasi dan dengan sendirinya publik akan memberikan nilai plus.
Eksistensi PPP tak bisa digadaikan dan keterwakilannya pada Pemilu 2009
bisa saja semakin signifikan.***






Kirim email ke