http://www.equator-news.com/berita/index.asp?berita=Box&id=61166

Rabu, 23 Mei 2007
Awal Negara dalam Negara
Lan Fang, Republik Pemula Asia dan Indonesia (3)

Harry Purwanto dalam disertasinya di Universitas Indonesia, dihimpun
dalam buku berjudul `Orang Tionghoa Khek dari Singkawang',
membahas kehidupan kebudayaan kelompok Hakka (Ke Jia atau Khek) di
Indonesia. Khususnya di Singkawang, Kalbar.




Orang Tionghoa di Indonesia pada umumnya sejak abad 18 datang dari dua
propinsi yaitu Fujian dan Guangdong. Kelompok terbesar yang ada di
Indonesia adalah Hokkian (Fujian) yang menurut sensus oleh Kerajaan
Belanda pada tahun 1930 berjumlah 550.000 jiwa. Mereka tersebar di Jawa,
Madura, Sumatera (kecuali Bengkalis—Riau), Indonesia bagian Timur
dan sedikit di Kalbar. Kelompok lainnya yaitu Hakka yang berasal dari
barat daya provinsi Fujian dan menurut sensus 1930 berjumlah 200.000
jiwa. Kelompok ini banyak terdapat di Kalbar.

Orang Tionghoa Singkawang selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai
orang Ch'in, tanpa memiliki anggapan istilah itu mengandung konotasi
merendahkan atau menghina. Tidak jarang pula mereka mengidentifikasikan
diri sebagai orang Tong Nyin atau orang dari Dinasti Tang (618-907 M)
yang dominan dari orang Manchu.

Hasil ketekunan Harry Purwanto selama 15 tahun meneliti, antara lain
pembahasan mengenai perjanjian dwi kewarganegaraan di zaman pemerintahan
Soekarno, awal kontak antara orang `China' dengan penduduk asli
Kalbar, asal usul nama kota Singkawang yang berasal dari bahasa Hakka,
San Kheu Yong (Shan; gunung, Kou; mulut sungai, dan Yang; lautan).

Kelompok orang Khek ini ternyata selalu dianggap "tamu" oleh
sesama orang Tionghoa sediri, baik di Fujian, Guangdong (semuanya di
Tiongkok) maupun di luar negeri. Pada abad ke-10, mereka pindah dari
Henan ke Shantung kemudian pada abad ke-13 pindah ke Fujian. Mereka
didesak ke barat oleh penduduk Fujian dan Guangdong, ke daerah
perbukitan yang kurang subur di perbatasan Fujian dan Guangdong.

Pengalaman berpindah-pindah dan berjuang untuk hidup dalam kehidupan
yang keras inilah yang menyebabkan perseteruan dengan kelompok lain.
Mereka menjadi lebih ulet, gigih, keras ketika harus pindah lagi ke luar
negerinya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di tempat baru,
seperti di Kalimantan, adaptasi mereka ternyata cukup tinggi meskipun
mereka dianggap kurang ramah.

Tahun 1760 mereka datang dalam jumlah yang besar ke Kalimantan.
Mula-mula didatangkan dan dipekerjakan di tambang emas oleh Sultan
Sambas sejak tahun 1740-an. Sebelumnya, hanya orang Dayak dan Melayu
yang menjadi penambang tetapi ternyata hasil yang diperoleh sedikit.

Sementara orang Khek lebih berpengalaman dan unggul dalam teknologi
penambangan sehingga dapat memproduksi emas lebih banyak. Orang Khek
pada saat itu juga memiliki organisasi untuk mendatangkan buruh
`Tionghoa' dari daratan Tiongkok dan menguasai buruh sehingga
pertambangan dapat terus berlangsung.

Lama kelamaan, karena alasan-alasan seperti ingin bagian yang lebih
besar dan tidak puas pada Sultan, karena mereka merasa diperas, maka
mereka tidak menyerahkan emasnya kepada Sultan Sambas tetapi untuk diri
mereka sendiri dan mendirikan kongsi. Kongsi pertama menurut Victor
Purcell dalam The Chinese in Southeast Asia adalah Lan Fang didirikan di
Mandor oleh Lo-Fong Pak yang berasal dari suku Hakka. Ia tiba di Borneo
pada 1772 dengan 100 orang anggota keluarga.

Pada awalnya mereka bergerak di bidang pertanian dan tidak ada
hubungannya dengan pertambangan. Sementara itu dua kongsi besar lainnya
adalah Ta-kang dan San-t'iao-kou. Keberadaan kongsi-kongsi ini tidak
disukai pemerintah Hindia Belanda karena mereka menganggap seperti
`negara dalam negara'. Alasannya ada beberapa kongsi besar dan
kecil memiliki pasukan sendiri, seperti Kongsi Lan Fang memiliki 6.000
prajurit, Ta-kang 10.000 prajurit dan San-t'iao-kou 5.000 prajurit.

Akhir abad ke-18, kongsi-kongsi ini tidak lagi `mengakui'
kekuasaan Sultan Sambas. Kemudian mereka memberontak dan berusaha
mengambil alih usaha tambang emas tersebut. Orang Khek juga pernah
bersengketa dengan orang Dayak. Penyebabnya karena masalah tanah ketika
orang Khek mulai membuka hutan untuk ditanami lada dan sayuran.
(mah/bersambung)



Kirim email ke