http://www.equator-news.com/berita/index.asp?Berita=Box&id=61151

Selasa, 22 Mei 2007
He Soon Himpunan 14 Kongsi
Lan Fang, Republik Pemula Asia dan Indonesia (2)

Data Kerajaan Belanda memperkirakan, hanya beberapa puluh saja jumlah
orang Tionghoa yang hidup di Kalbar pada tahun 1740. Tetapi 30 tahun
kemudian pada 1770, jumlah orang Tionghoa mencapai 20 ribu orang.




Mereka berdatangan berdasarkan pertalian darah maupun saudara, sekampung
halaman, atau sesama kumpulan. Kelompok Tionghoa ini membentuk kongsi
(perusahaan) untuk melindungi mereka. Kemudian Lo Fang Pak diangkat
menjadi ketua, karena dianggap orang bijak daripada yang lainnya.

Pada tahun 1776, 14 kongsi disatukan dengan membentuk He Soon. Guna
menjaga kesatuan dari ancaman persengketaan antar kumpulan, daerah asal
dan darah. Pada saat itu, Lo Fang Pak mendirkan Lan Fang Kongsi.
Kemudian menyatukan semua orang golongan Haka di daerah yang dinamakan
San Shin Cing Fu (danau gunung berhati emas). Selanjutnya mendirikan
kota Mem-Tau-Er sebagai markas besar group perusahaan.

Pada masa itu Khin Tian (nama lain Pontianak) yang berlokasi di hilir
Sungai Kapuas, merupakan daerah perdagangan yang penting dan dikuasai
Kesultanan Kadriah dengan Sultan Abdulrahman sebagai pendiri. Daerah
hulu sungai dikuasai oleh orang Dayak.

Sedangkan usaha Kesultanan Mempawah yang bertetangga dengan Kesultanan
Pontianak, ingin membangun sebuah istana di hulu sungai menyebabkan
pertikaian antarkedua sultan tersebut. Terjadilah perang antarkedua
negeri itu.

Sultan Abdulrahman meminta bantuan Lo Fang Pak, karena bangunan istana
yang diributkan berdekatan dengan Lan Fang Kongsi. Lo Fang Pak akhirnya
memutuskan untuk membantu Sultan Pontianak dan berhasil mengalahkan
Kesultanan Mempawah.

Sultan Mempawah bergabung dengan Dayak melakukan serangan balasan. Namun
Lo Fang Pak berhasil menghalau serangan balasan tersebut. Sultan
Mempawah sendiri mengungsi ke arah utara, yaitu Singkawang, di mana Ia
dan Sultan Sambas menandatangani perjanjian damai dengan Lo Fang Pak.
Peristiwa itu secara tak langsung melambungkan nama Lo Fang Pak.
Peristiwa perjanjian segitiga tersebut, Lo Fang Pak menginjak usia
senja, sekitar 57 tahun.

Pun demikian bagi keluarga yang turut bertempur, khususnya dari Mempawah
ada yang menaruh dendam terhadap milisi Lo Fang Pak. Sehingga ada yang
enggan membeli barang dari etnik Tionghoa di kekuasaan Mempawah, dengan
berbagai isu. Walaupun etnik Tionghoa ada yang Muslim, juga turut
merasakan perang urat syaraf usai perang, kala itu.

Sejak saat itu, orang-orang Tionghoa dan penduduk setempat mulai mencari
dan mempercayakan perlindungan kepada Lo Fang Pak. Dengan permintaan
tersebut, kekuatan dan prestige Lo Fang Pak makin meningkat.

Ia kemudian mendirikan pemerintahan dengan mengambil nama dari kongsi
yang didirikannya. Sehingga nama kongsinya menjadi nama Republik Lan
Fang pada tahun 1777, atau sepuluh tahun lebih awal berdirinya republik
unitarian federalis, Amerika Serikat dengan George Washington sebagai
presiden pertama pada tahun 1787.

Masyarakat yang dipimpinnya supaya Lo Fang Pak menggunakan gelar sultan,
akan tetapi ditolaknya, dengan memilih sistem pemerintahan kepresidenan.
Khas pemerintahan republik, maksudnya re (kembali) publik (masyarakat
umum), maka pemimpin pemerintahan dipegang dari kalangan masyarakat
sendiri dengan diadakan pilihan raya. Sistem pemerintahan presidential
pernah digagas cendekiawan Yunani, Plato dan Aristoteles. Sebuah
pemikiran sistem pemerintahan yang lain dari sistem kerajaan berdasarkan
keturunan, dalam menentukan kepala pemerintahan.

Republik Lan Fang merupakan sistem pemerintahan republik yang cukup
sedikit di zamannya, karena masih dominan sistem kerajaan. Seorang
pejabat yang membantu militer Belanda untuk mengetahui kekuatan Republik
Lan Fang sebelum diserang, de Groot pernah mengulas, jika pemerintahan
Republik Lan Fang menggunakan sistem demokrasi.

Dalam pemilihan umum pertama, kharisma Lo Fang Pak tak tertandingi dan
menjadi presiden pertama Republik Lan Fang. Lo Fang Pak kemudian diberi
gelar dalam bahasa Mandarin `Ta Tang Chung Chang' sebuah nama
lain untuk sebutan presiden.

Konstitusi dari Republik Lan Fang menyebutkan, posisi presiden dan wakil
presiden harus dijabat orang yang dapat berbahasa Hakka. Alasannya
mayoritas penduduk menggunakan bahasa Hakka.

Ibukota dari Republik Lan Fang berada di Tung Ban Lut
(Mandor—Kabupaten Bengkayang). Bendera Republik Lan Fang berbentuk
persegi empat berwarna kuning, dengan tulisan mandarin Lan Fang Ta Tong
Chi. Sedangkan panji kebesaran presidennya berbentuk segitiga dengan
tulisan `Chuao' yang artinya jenderal.

Pejabat tingginya memakai pakaian tradisional bergaya Tiongkok.
Sedangkan pejabat yang lebih rendah menggunakan pakain bergaya Eropa.
Republik Lan Fang mencapai masa keemasan saat dipimpin Lo Fang Pak
sekitar 19 tahun pemerintahan. (mah/bersambung)





Kirim email ke