http://www.equator-news.com/berita/index.asp?berita=Mempawah&id=62181

Sabtu, 16 Juni 2007
Singkawang Juara PEDA KTNA VII

Kontingen Kota Singkawang yang menampilkan stan dengan perpaduan etnik
Tionghoa, Melayu dan Dayak berhasil menjadi juara pada Pekan Daerah
Kontak Tani Nelayan Andalan (PEDA KTNA) VII se-Kalbar di Kota Mempawah.
Juara kedua direbut tuan rumah, sedangkan juara ketiga disematkan kepada
kontingen Sambas. Perhelatan akbar kaum teni-nelayan ini ditutup Bupati
Drs H Agus Salim, didampingi Asisten III Sekda Pemprov Kalbar Drs
Kamaruzaman, Kadistanpangan Kalbar Ir Hazairin MS dan lain-lain.
Diantara beberapa klausul dari pelaksanaan PEDA KTNA VII tersebut, di
antaranya Perhimpunan tani diharapkan dapat menjembatani dalam
penyampaian aspirasi penyuluh pertanian kepada pemerintah, sehingga
penyuluh pertanian mempunyai posisi yang penting dalam meningkatkan
kesejahteraan petani. Membangun etos kerja penyuluh pertanian didasarkan
pada ajaran agama bahwa menyampaikan ilmu yang dapat megubah perilaku
kearah lebih baik adalah pekerjaan yang mulia dan merupakan ibadah yang
harus dilakukan secara sungguh-sungguh.

Kelembagaan penyuluh pertanian yang ideal mangacu pada fungsi yang
berbeda antara pengaturan pelayanan dan penyuluhan. Oleh karena itu,
kelembagaan penyuluh pertanian harus terpisah dari kelembagaan
pengaturan dan pelayannan. Kelembagaan Balai Penyuluh Pertanian (BPP)
merupakan kelembagaan terdepan yang harus bersifat indenpenden dan tidak
tersekat oleh perbedaan komoditas. Fungsi dan peran BPP perlu
ditingkatkan sejalan dengan perkembangan usaha agribisnis. Secara
structural dukungan sarana prasarana bagi penyuluh pertanian berupa
fasilitas dan insentif karja perlu mendapat perhatian serius dari
pemerintah.

Disarankan agar penyuluh pertanian di BPP dapat diberikan lahan usaha
sebagai pilot project dan sekaligus lahan usaha produktif yang
menghasilkan untuk kesejahteraan penyuluh Pemerintah diharapkan tidak
hanya menghasilkan konsep dan kebijakkan penyuluhan yang pada umumnya
sudah dipahami oleh penyuluh, akan tetapi dapat dijadikan pedoman dan
implementasikan secara konkrit di lapangan. Adanya keinginan dari
peserta rembug, dikembalikan pengelolaan penyuluhan pertanian ke tingkat
pusat sebagai akibat ketidak berdayaan pemerintah daerah dalam mengelola
penyuluhan pertanian secara baik, sehingga terjadinya kemandekan dalam
penyelenggaraan penyuluh pertanian.

Kondisi penyuluh pertanian di Indonesia saat ini masih diwarnai
banyaknya kendala-kendala baik bersifat cultural maupun structural
antara lain disebabkan beragamnya kelembagaan penyuluh pertanian
diberbagai tingkatan, persepsi dan pengertian yang masih bias,
menurunnya profesionalisme penyuluh serta kurangnya political will
pemerintah.

Sedangkan Bupati Agus Salim optimis jika pelaksanaan PEDA KTNA VII ini
akan dapat membawa kemanfaatan. "Beberapa solusi, rekomendasi dan
lain-lain dari pelaksanaan kegiatan ini, pemerintah berusaha memberikan
respon yang baik, demi peningkatan kesejahteraan tenaga penyuluh maupun
petani daerah kita pada umumnya, demikian juga pemberdayaan kaum nelayan
kita," kata Agus Salim. (mah)





Kirim email ke