Dear Rudi Dustika Teja,


Betul sekali bahwa besar kemungkinannya bahwa abrasi pantai disepanjang 
Pontianak - Singkawang - Pemangkat
adalah disebabkan gelombang yang terbentuk dari tiupan angin, dan hal ini 
secara berkesinambungan berlangsung tahun ke tahun.


Memang benar pemanasan global adalah juga salah satu faktor penyebabnya namun 
hempasan jenis gelombang yang terbentuk oleh tiupan angin inilah yang lebih 
dominan terjadinya abrasi pantai demikian juga dengan gelombang pasang yang 
melanda pantai
selatan Jawa minggu lalu (18-19 May 2007) merupakan gejala alam yang disebabkan
oleh gerakan-gerakan benda-benda langit luar angkasa bersamaan dengan kondisi
meteorologi yang mendukung. Gaya-gaya Astronomi ini terutama disebabkan oleh
matahari dan bulan. Bulan merupakan benda langit yang paling dekat dengan bumi
yang menyebabkan hampir 70% efek pasang surut. Sedangkan matahari memiliki
pengaruh sebesar 30%.


semoga penjelasan ini tidak njelimet yach 
kata Pa' Dhe kalo menjelaskan kepada To Le tentang fenomena alam, sebaiknya 
dengan gaya bahasa yang mengajak To Le ikut membuat kesimpulan. dengan demikian 
si To Le ikut belajar mencintai alam. 


Terimakasih,
HB


----- Pesan Asli ----
Dari: Rudi Dustika Teja <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sabtu, 30 Juni, 2007 10:50:16
Topik: Re: [Singkawang] Abrasi Pantai Sepanjang Pontianak - Singkawang - 
Pemangkat.









  


    
            
Dear Pak Dayat,
   
  setelah membaca , menelaah dan memahami pelan-pelan penjelasan dari Pak Dayat 
, tampaknya abrasi pantai di sini lebih disebabkan oleh gelombang angin ya. .
   
  Pemandangan abrasi pantai ini sering saya perhatikan ketika dalam perjalanan 
pulang dari Pontianak ke Singkawang, yang tak jarang juga membuat saya teringat 
akan masa kecil saya yang kala itu berkunjung ke rumah seseorang di Pemangkat. 
Waktu itu saya  masih duduk di bangku SD, dan ketika ikut keluarga bertamu ke 
rumah kolega di sana, sang tuan rumah sempat mengajak kita ke halaman rumahnya 
. Saya ingat ada tumpukan-tumpukan karung pasir yang ditumpuk dalam jarak 
tertentu di depan halamannya. Sang tuan rumah waktu itu menunjuk ke sebuah 
patokan yang cukup jauh dan bercerita bahwa dulu garis pantai berada di sana. 
Namun pelan-pelan
 menggerogoti sehingga semakin mendekati rumahnya.
  
Topik pemanasan global sering memberikan sorotan tentang mencairnya es di kutub 
serta berbagai fenomena alam lainnya di dunia. Namun sebagai wong cilik dengan 
wawasan yang terbatas ini saya belum sanggup berpikir skala dunia, eh..malah 
teringat dengan kampung halaman sendiri he..he..  . Mohon maklum ya Pak.
   
  Yang pasti dengan penjelasan dari Pak Dayat tersebut, saya tetap nggak berani 
loh berspekulasi kalau abrasi sama sekali tidak dipengaruhi oleh pemanasan 
global. Hehehe....
  Akhir kata, terima kasih ya Pak Dayat sudah bela-belain cari info sampai 
nanya ke Pak Dhe . . 
   
   
  Salam,
   
  Rudi.
 
  
   
   
  
Hidayat Boesran <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:
          Dear Rudi Dustika Teja,

Abrasi di sepanjang pantai Pontianak - Singkawang - Pemangkat ?
Saya coba menjawab dengan keterbatasan wawasan saya 
kalo ada kesulitan menjawabnya
 saya harus nanya dengan Pa' Dhe lho 
Semoga Pa' Dhe bisa bantu saya karena setahu saya Pa' Dhe sering bergelut 
dengan tanah (geologi)
bukan bergelut dengan gelombang 

Ya, memang benar abrasi pantai sudah sedemikian lama menggeruti pantai sepanjang
Pontianak - Singkawang - Pemangkat
Setahu saya kerusakan pantai tsb. telah ditangani oleh pemda dengan pemasangan 
triangle pemecah gelombang
disekitar pantai Mempawah & Sie. Duri namun seberapa efektivkah usaha ini ? 
saya tidak tau persis.
Namun perlu untuk dicermati bahwa pantai2 disepanjang Pontianak - Singkawang - 
Pemangkat adalah pantai
yang terbuka, hanya terdapat sedikit pulau2 kecil yang dapat menghambat 
gelombang tsb.

Gelombang dipengaruhi oleh banyak faktor :     Angin :     Kecepatan angin  
Panjang/jarak hembusan angin  Waktu (lamanya) hembusan angin  Geometri laut 
(topografi atau profil laut dan bentuk pantai)  Gempa (apabila terjadi tsunami) 
- sangat kecil/minor  Terlihat diatas bahwa pada kenyataan gelombang laut lebih 
banyak dipengaruhi oleh faktor kondisi atmosfer. Kondisi angin in tentusaja 
salah satu-nya cuaca yaitu kondisi sesaat dari atmosfer meliputi : suhu, 
tekanan (angin), uap air (awan) dan hujan.
  
  

  1 = Arah angin
2 = Puncak gelombang (peak)
3  = Lembah gelombang (trough)
  Bentuk gelombang akan berubah sesuai dengan kedalaman dasar laut.
  Pada lokasi B bentuk perputaran gelombang berupa elips, semakin dangkal maka 
semakin elips. Apabila tinggi gelombang masih cukup tinggi maka gelombang akan 
pecah di pantai.
  Pada gelobang laut ini air hanya naik turun, namun tidak ada pergerakan atau 
aliran. Sedangkan pada gelombang tsunami, karena gelombangnya cukup panjang 
(jarak titik titik puncak (”2 ke 2 berikutnya”) cukup panjang maka ketika 
sampai di pinggir pantai akan semakin tinggi yang menyebabkan gelombang tsunami 
ini akan terkesan menyapu pantai.
    Pada gelombang tsunami akan terlihat tinggi gelombang semakin besar di 
pantai. Nah karena yang dirasakan merusak serta yang teramati pada gelombang 
tsunami ini sepertinya memiliki tinggi
 gelombang yang besar juga di tengah samodra. Padahal kalau ada kapal ditengah 
laut, maka kapal itu hanya merasakan sedikit sekali gejala gelombang tsunami 
yang berupa gelombang yang miliki jarak antar puncaknya cukup panjang.
  Jadi gempa tidak banyak mempengaruhi besarnya gelombang laut pada umumnya.
Karena :
- Hanya gempa besar yang menyebabkan tsunami.
- Akan lebih dirasakan akibatnya di pinggir pantai.

  Memang tidak aneh kalau ada yang bertanya-tanya “apakah mungkin besarnya 
gelombang laut dipengaruhi oleh gempa ? Bukankah tsunami yang diakibatkan gempa 
dua tahun kemarin gelombangnya sangat besar menyapu kota-kota besar di Sumatra 
Utara ? Juga di Pangandaran ?”
  Jawaban sederhana saya begini : Gelombang laut itu lebih dipengaruhi proses 
atmospheric ketimbang proses dari geologic. Artinya proses-proses serta kondisi 
udara lebih berpengaruh terhadap kondisi gelombang ketimbang proses dasar laut.
  
  

  Tetapi kenapa gelombang tsunami bisa jauh lebih merusak ketimbang gelombang 
laut ?
  Gelombang tsunami digambarkan sebagai gelombang yang menjalar sedangkan 
gelombang laut biasa adalah gelombang naik-turun biasa, lihat gambar
 disebelah.
  Gelombang laut tidak akan bergerak kesamping seperti gelombang tsunami. 
Sehingga daya rusak gelombang tsunami akan maksimum pada pinggir pantai. Di 
laut gelombang tsunami tidak akan dirasakan oleh kapal laut. Karena kemarin 
kita menyaksikan bagaimana gelombang tsunami yang diakibatkan oleh gempa besar 
(skala diatas 6.8 MI) yang sangat merusak, tentunya secara intuisi kita melihat 
bahwa akan ada gelombang besar ketika ada gempa besar.
  Ketika gelombang mencapai pantai, seringkali diikuti dengan peningkatan 
ketinggian gelombang karena laut semakin dangkal sedangkan volume air yang 
mengalir dalam jumlah yang sama. Ketinggian “tembok gelombang tsunami” 
(tsunamic wave wall) ini yang terlihat atau yang diamati di pantai, namun bukan 
berarti bahwa
 tinggi gelombang di tengah laut juga setinggi itu. Hal inilah yang sering 
mengecoh perkiraan tinggi gelombang tsunami di tengah laut.
Yang pasti gelombang laut yang disebabkan stunami tidak pernah terjadi di 
sepanjang pantai Pontianak - Singkawang - Pemangkat.
Jadi jangan takut yachh.

Untung aja si Tole sedang tidur . . . . 
Kalo ngga tidur . . . . wah pasti ikut nimbrung nanya. 
Turu sing nyenyak yo Le . . . .  (tidur yang nyenyak ya To Le)

Salam Hormat,
HB




  .
 
 




  

 
 
      
Luggage? GPS? Comic books? 

Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.

    
  

    
    




<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->








      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke