Pa' Dhe pernah minta tolong sama Om Rachmat Fajar Lubis ya untuk bagaimana cara 
mencari air tanah ?

Iya betul To Le, Pa' Dhe kan ngga pernah mengecap pendidikan tinggi, apa lagi 
tentang Geologi.

Pa' Dhe hanya tau cara nyari air pake tumpukan garam saja seperti yang 
dilakukan orang dulu.

Oleh karena itu Pa' Dhe ada nulis di millis :

Tulisan tetangga Pa' Dhe njelimet !

Ya To Le, itu tulisan untuk kalangan sendiri di IAGI.

Pa' Dhe pikir mungkin bermanfaat untuk orang laen, makanya Pa' Dhe sertakan 
tulisan itu.



Pa' Dhe ada minta ijin ngga sama Om Rahmat Fajar Lubis untuk masukin tilisan 
beliau di millis.

Om Fajar bilang, kalo tulisan itu bermanfaat silahkan saja di masukin ke millis.

Memang banyak orang yang nanya setelah membaca tentang tulisan itu langsung ke 
Om Fajar.

(ada 39 email yang masuk ke Bp. Rahmat Fajar Lubis, seandainya ada yang
berkenan membaca jawaban Mas Fajar atas 39 pertanyaan tsb,   Pa' Dhe dapat 
mengirimkannya ke email anda)

Sedikit Pa' Dhe sertakan pertanyaan itu :







ini
kelihatannya utk cari air buat industri besar, lha kalo buat keperluan mck
dirumah piye? kalo musti lakukan survey geolistrik atau metoda lain sebelum
ngebor biayanya terlalu mahal, lagi pula pilihan lokasi titik bor disekitar
rumah kita kan terbatas.sdh given dari real estate, no choice at all tapi yg
pasti harus away dari septic tank. Nah ada kiatnya enggak? atau pasrah sama
tukang bor saja. Dirumahku yg baru aku punya 2 reservoir(akifer) -22 m dan -
45m, yang dangkal jernih tapi baru 4 bulan sdh depleted, yang dalam butek dan
perlu difilter habis2an. tetangga sebelah sumurnya 60 m dgn debit dan kwalitas
yang baik, tapi ada drilling enginneer yg tinggal 500m dibelakang rumah dgn
letak topografi +/- 5 m lebih tinggi dari rumahku ketemu akifer pada -12m
dengan debit dan kwalitas yg baik. Wah ini bener2 stratigraphic. Lain kali kalo
mau bor lagi aku musti jadi wellsite geologistnya.



Jawab :





Saya coba
bantu jawab ya..



Kalau
sudah skala rumah seperti itu maka teknik yang paling murah adalah
mengkalibrasi dengan kondisi pemakaian airtanah disekitarnya. Kalau memang
hanya air dengan kualitas yang kurang baik yang didapat.. ya mau tidak mau kita
beralih berbicara mengenai teknologi peningkatan kualitas air baku :p



Sayang Pak
Witan tidak menceritakan apa yang ada diantara 22-45 meter di sumurnya. Kalau
diantara itu adalah batuan impermeabel maka ada 2 sistem disini. Yang 22 meter,
mungkin sudah tereksploitasi oleh tetangga yang di topografi lebih tinggi itu.
;p



Kemudian
geologi umum lokasi ini akan sangat membantu, sebagai contoh untuk daerah multi
akifer (endapan sungai, danau dan vulkanik) pengalaman saya, pemasangan screen
pada lokasi yang berdekatan dengan sedikit perbedaan (yang satu 40-60 meter dan
satunya 55-60 meter) ternyata memberikan hasil kualitas air yang sangat
berbeda.



            Salam,
            Fajar





apa benar
penggunaan jetpump sedalam 30-an meter akan mengganggu debit air sumur gali
disebelahnya? 



Saya punya
kasus begini. Sumur gali rumah saya kedalaman 10 meter. Letaknya sekitar 30
meter dai pinggir sungai cliwung, daerah bojong gede, bogor. Di dalam sumur,
sewaktu penggalian ulang tanggal 18 Agustus 2006, karena airnya kering,
ditemukan bongkahan batu (kali?) sebesar kepala orang dewasa. Batu2 berjumlah
puluhan itu bercampur dengan pasir (sungai?) warna kehitaman. Warnanya ketika
diangkat kepermukaan dan terkena sinar matahari berwarna putih, mirip batu
kapur, tetapi setelah dipecah dalamnya warna abu-abu, seperti batu biasa.



Setelah
digali 2 meteran, dibawah 2 batu besar yang tak dapat diangkat ke permukaan,
terdapat mata air yang cukup bagus debitnya di musim kemarau ini. Setelah
disedot dengan mesin pompa kecil (kekuatan 125 watt) selama 1 jam 45 menit
airnya tidak tekor hingga tulisan ini saya buat.



Tetangga
sebelah yang berjarak 2 rumah (sekitar 15 meter) bermaksud membuat sumur bor,
menggunakan mesin hidrolik, untuk mencari air dalam (air tanah tertekan?).
Alasannya karena sumur gali di rumahnya tak mengeluarkan air lagi setelah
digali. Namun penggalian itu belum menemukan kumpulan batu2 seperti di sumur
gali rumah saya.



Pertanyaannya.
Apakah pembuatan sumur bor itu, dengan menggunakan pompa jetpump dapat
mempengaruhi debit air permukaan di dalam sumur saya? Dan apakah itu juga
berpengaruh terhadap sumur gali lainnya yang berada di sekitarnya?



Bila
mempengaruhi apa penyebabnya? Bagaimana cara mengantisipasinya?

Bila tidak terpengaruh apa sebabnya?



Mohon
dijelaskan panjang lebar karena informasi ini sangat saya butuhkan untuk
memberikan informasi yang benar kepada warga sekitar dan masyarakat umumnya.



Terima
kasih.

Salam,

Nugroho Adhi





               

bicara
tentang air tanah, gw pernah punya pengalaman tentang pencarian air tanah
secara supranatural?? ah barangkali ada penjelasan teknis tentang itu : itu lho
biasanya dilakukan oleh orang2 belanda, menggunakan ranting segi tiga dan
berjalan di permukaan tanah, klo ranting “jatuh” si londo yakin ada airnya
(begitulah)



tapi dari
seorang teman ahli gali sumur bilang, bahwa kemampuan mencari air itu harus
dengan puasa dulu (filosofinya adalah bahwa mencari air itu ibarat mencari
urat2 di tubih kita) misal saja kita menojos kulit kit dengan jarum pas di urat
darah kita (urat darah segar) tentu darah akan muncrat!!! well itulah yg dia
cari di bawah permukaan bumi kita…



barangkali
ada penjelasan ilmiah berkaitan dg itu, mungkn juga air memberi gelombang2 yg
bisa di tangkap oleh “ranting” atau pendulu m sekalipun?



menarik….
da yg bisa memberi penjelasan??




            Jawab :

            

Saya coba
bantu jawab ya..



Pemompaan
airtanah yang bersamaan tentu saja dapat mempengaruhi debit secara keseluruhan.

Sayang pak Adhi tidak menyebutkan pada saat melakukan uji pompa selama 1 jam 45
menit, berapa kapasitas debit yang digunakan.



Uji pompa
(ini istilah dalam pencarian airtanah) dilakukan salahsatunya untuk mengetahui
kemampuan airtanah tersebut untuk kembali ke tinggi permukaannya semula (dalam
hidrogeologi/ilmu mengenai airtanah dikenal dengan istilah uji kambuh atau
recovery test)



Karenanya
sangat disarankan untuk menampung terlebih dahulu airtanah yang telah dipompa.
Sebagai catatan bak penampung dengan ukutan 1×1x1 meter (1 meter kubik) sudah
cukup untuk bertahan selama 1 bulan untuk ukuran keluarga kecil.



Mengenai
urusan dukun :p



Pengalaman
saya mencari bersama-sama dukun. Kelihatannya pada prinsipnya mereka
memanfaatkan gelombang elektromagnetik yang akan mengalami penguatan apabila
melewati media yang bisa menguatkannya (bersifat konduktor) misalnya air.



Hanya
permasalahannya adalah seberapa kuat penetrasi gelombang alami ini? Ranting dan
pendulum digunakan untuk semakin memusatkan kemampuan mendeteksi gelombang ini.
Kalau puasa..mungkin supaya lebih konsentrasi :p. 



Pengalaman
saya mereka akan sangat akurat untuk mencari airtanah di daerah yang memiliki
kandungan batupasir didalamnya, dengan muka airtanahnya berada hingga kedalaman
20 meteran (sayang saya tidak punya data yang akurat untuk hal ini..jadi
kalimat ini bisa dianggap sebagai gosip saja dulu ;p)



Satu hal
lagi… kalau dukun gagal, kesalahannya agak sulit untuk dievaluasi, sebaliknya
kalau kegagalan ini terjadi pada ahli hidrogeologi…





            

pak,

saya mohon informasi dari para pemerhati air nih.

Saat ini di lokasi kerja saya, di perumahan di Sumedang,

saya menemui kasus seperti berikut:

masing-masing unit rumah menggunakan sumber air dari sumur bor 12-20 meter.
Beberapa unit rumah mendapat air yang bersih, tapi ada juga unit rumah lainnya
yang bersebelahan dengannya mendapat air yang kalau baru keluar bening, tapi
setelah teroksidasi (kontak dengan udara) warna berubah menjadi kuning (keruh)
dan air tersebut berbau.

Perubahan warna (kondisi fisik) air tersebut semakin cepat bila di kocok (dalam
botol).

Kira-kira apa yang menyebabkan perolehan air yang berbeda walau hanya berjarak
beberapa meter?



Ada
beberapa info bahwa kondisi air perolehan tersebut akan berubah setelah
dilakukan pengurasan (dijalankan/ dibuang dalam jangka waktu tertentu, karena
sumuran akan membentuk kantung air di bawah tanah, apakah hal ini memang benar?

Ada juga yang bilang harus dicari (dibor) ke lapisan yang lebih dalam untuk
mendapat air yang lebih baik?



Terima
kasih sebelumnya

Charly



                

Satu lagi
pertanyaan saya,

mengnai istilah waterlost,

pada saat mencoba melakukan pengeboran ke lapisan air yang lebih dalam,
tiba-tiba air yang digunakan untuk melakukan pengeboran habis(pengeboran
dilakukan dengan sistem bor yang dibarengi penyemburan air ke dalam sumur).
Sepertinya jalur pengeboran sumur menemui suatu rongga. Apakah hal ini normal?

Apakah hal ini dapat mempengaruhi sumur-sumur lainnya? (tercemar, surut dsb)





            Jawab :

            

Dear
Charly

Daerah sumedang barangkali lapisan airtanahnya tidak homogen. Hal ini sangat
wajar untuk daerah yg memang sejak dahulunya berupa tanah bergelombang. Tanah
bergelombang ini menyebabkan sedimentasi satu tempat dengan tempat yang lain
sangat berbeda.

Kalau di Jakarta bagian utara relatif seragam karena sejak lama daerah itu
berupa rawa. Namun ada juga yang berbeda tempat yg berbeda seperti dirumah saya
di gebang, ternyata daerah itu tempat urugan, yg tentunya sedikit berbeda.



“Pengurasan”
bisa saja menciptakan tempat yg seolah-olah rongga pengumpulan, namun juga akan
terjadi “penyaringan alami”. Sehingga akan terasa semakin lama airnya semakin
jernih. Namun kalau lama didiamkan tidak dipakai bisa keruh lagi.



Air tanah
(terutama air tanah dangkal) itu juga terpengaruh musim. Kalau dulu di Jogja
aku diberi singkatan bulan dengan kondisi air bulan Januari = Hujan
sehari-hari, Maret = hujannya prat-pret, April = hujannya pral-pril … desember
itu pertanda “gede-gedenya sumber” (saat sumber air paling bagus). Septemeber =
kasep-kaspee sumber (airnya habis) dst …

Ooo Pa' Dhe menyertakan tulisannya Om Fajar saja ya.
Iya To Le, semoga saja bermanfaat tulisannya Om Fajar itu.
Terus . . . tentang tulisan berani melempar tentu harus berani memapar ?
Ooo tulisan itu berkenaan dengan penistaan tentang kalender yang ditulis di 
millis beberapa bulan lalu, yang isinya tuduhan2 tanpa menyertakan bukti dana 
pembuatan kalender 600 juta.
Coba To Le urutkan tulisan2 di millis ttg kalender sampai dengan 
cintasingkawang.
Akhir . . . kemelutnya bye bye charlie, terus nyanyi deh dengan syair lagu.

Salam Hormat,
HB.




      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke