Yth. Rekan-Rekan Milis,
Salam Sejahtera,
Dalam rangka mengenang makna Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik
Indonesia ke-62, saya semar samiaji manusia bodoh berbagi tentang apa
yang ada di hati kepada rekan-rekan milis sekalian.
Saya menyadari dengan sepenuh hati apalah artinya saya di tengah-tengah
bentuk kehidupan yang ada di tanah tercinta ini. Saya hanyalah rakyat biasa
yang memberanikan diri untuk berbagi dari lubuk hati yang paling dalam tentang
apa yang bisa dicerna dan dipahami atas bentuk kehidupan, baik yang sebelumnya
pernah ada, sedang berlangsung, atau pun akan berlangsung di kemudian hari.
Tentunya, seiring rasa syukur terhaturkan kepada KANJENG GUSTI atas rahmat dan
kodrat-NYA sehingga menjadikan tanah tercinta meraih kemerdekaannya pada
tanggal 17 Agustus 1945. Di hari itu merupakan momentum dan kebahagiaan sebagai
bangsa yang merdeka dan inilah KARYA TERTINGGI para leluhur bangsa Indonesia
membuka pintu gerbang dalam rangka menuju KEMERDEKAAN SEJATI. Para leluhur
bangsa telah mengorbankan apa yang mereka bisa berikan bagi Tanah Nusantara
tercinta. Mereka titipkan PANCASILA dan UNDANG-UNDANG DASAR 1945 kepada
generasi penerus bangsa sebagai bentuk kesepakatan hidup berbangsa untuk
menempuh perjalanan bangsa menuju cita-citanya. Inilah manifestasi tertinggi
yang ditancapkan para leluhur bangsa sebagai barometer bentuk kehidupan yang
mulia dan berdaulat Bangsa Indonesia dalam mengarungi bahtera kehidupan
bernegara dan berbangsa di tengah-tengah panas dan hujan yang dialami oleh
Indonesia sampai dengan saat ini.
Undang-Undang Dasar 1945 pun menjamin kebebasan untuk menyampaikan pendapat
atau pemikiran atau pun gagasan bagi setiap warga negaranya. Dan untuk ini,
saya akan memanfaatkannya dengan rasa tanggung jawab yang semoga berkenan di
hati rekan-rekan milis, Saudara-Saudara sebangsa, dan juga pemerhati kehidupan
di Indonesia. Rujukan yang akan saya gunakan adalah MAKNA PANCASILA menurut
apa yang manusia bodoh pahami dan kaji sejauh ini, dengan latar belakang
sebagai berikut:
Pertama, Negara Kesatuan Republik Indonesia telah menerima warisan atau pun
amanah dari pendahulu-pendahulu bangsa, baik dalam era Nusantara mau pun era
Kemerdekaan 1945, dalam bentuk Pancasila. Tidak perlu diperdebatkan lebih jauh
atau pun melakukan penyangkalan Pancasila sebagai falsafah hidup Bangsa
Indonesia dan sebagai generasi penerus tinggal mengisi kehidupan berbangsa
dengan pancaran kesaktian Pancasila melalui pengkajian dan pengejawantahan
kehidupan pribadi, masyarakat, bernegara, dan antar negara.
Kedua, Pancasila merupakan KRISTALISASI BUDAYA LUHUR Bangsa Indonesia yang
terujud setelah melalui berbagai bentuk kehidupan manusia yang berakar dari
TATA LAKU DAN TATA SOSIAL di tengah derasnya arus budaya dari luar wilayah
Nusantara/Indonesia, baik dalam bentuk keyakinan kepada Tuhan atau pun bahasa.
Sehingga Pancasila juga bisa disebutkan sebagai PENYELARAS BUDAYA, BAIK YANG
MURNI BERASAL DARI TANAH NUSANTARA MAU PUN PENDATANG sejak adanya Nusantara
sampai dengan dinyatakannya kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketiga, dengan merujuk kedua hal di atas dan dilandasi dengan falsafah budaya
NYUCRUK GALUR MAPAYTAPAK saya yang hidup dalam jaman ini, akan selalu berupaya
untuk memberi makna kehidupan dengan warna budaya luhur Bangsa Indonesia yang
telah terkristalisasi dalam Pancasila.
Rekan-Rekan yang terhormat,
Salah satu kalimat yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah
KEMERDEKAAN ITU IALAH HAK SEGALA BANGSA DAN OLEH SEBAB ITU, MAKA SEGALA BENTUK
PENJAJAHAN HARUS DIHAPUSKAN DARI PERMUKAAN BUMI
Bagi sayakalimat ini tidak akan pernah terhapus dalam sanubari yang terdalam.
Diri ini memaknai kemerdekaan sebagai satu proses perjalanan hidup MEMAHAMI
JATI DIRI SECARA TEPAT SESUAI DENGAN HATI NURANI KEMANUSIAAN DENGAN
BERKEYAKINAN KEPADA KEKUASAAN TUHAN SECARA TEPAT Untuk mencapai kesimpulan
seperti ini, ijinkan mengajak rekan-rekan untuk menjawab satu pertanyaan
berikut:
APAKAH BENTUK PENJAJAHAN YANG PALING BERBAHAYA?
Menurut apa yang saya pahami, bentuk penjajahan yang paling berbahaya adalah
PENJAJAHAN DALAM POLA PIKIR. Alasannya adalah manusia sebagai makhluk yang
diciptakan oleh Kanjeng Gusti adalah makhluk yang memiliki kesempurnaan dalam
arti diberikan AKAL PIKIRAN YANG SEHAT dan HATI YANG TERANG. Manakala keduanya
ini dihadapkan dengan bentuk pola pikir dan fakta kehidupan, maka terjadilah
aksi dan reaksi yang akan menjadi alasan setiap manusia melakukan perbuatannya.
Maka di sinilah peranan atau manfaatnya manusia memiliki keyakinan kepada Tuhan
sebagai Sang Pencipta. Karena keyakinan ini berarti telah menempatkan Sang
Pencipta sebagai dasar kesadaran berbuat setiap manusia yang memiliki akal
sehat dan hati terang. Oleh karena itu, sungguh sangat BIJAK DAN TEPAT,
Pancasila menempatkan KETUHANAN YANG MAHA ESA sebagai sila pertama. Dengan
memahami secara tepat maknanya, maka sila ke-1 Pancasila akan menjadi pendobrak
utama bagi setiap individu untuk selalu menggunakan hati yang
terang dan selaras dengan akal pikiran yang sehat.
Mari sekarang kita menengok salah satu fakta yang ada di tanah air kita yang
tercinta ini. Hampir seluruh literatur sejarah Bangsa Indonesia selalu dimulai
awalnya dengan pernyataan sebelum hadirnya keyakinan kepada Tuhan dari luar
wilayah Nusantara, maka nenek moyang Bangsa Indonesia menganut paham animisme
dan dinamisme. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para ahli sejarah dan para
penulis sejarah, manusia bodoh ini bertanya-tanya mengapa kedua kata ini yang
dipilih dalam mewakili bentuk keyakinan kepada Tuhan bagi leluhur Bangsa
Indonesia pada kurun tersebut. Beberapa alasan utama untuk mempertanyakan hal
ini:
- Tidak ada satu pun di antara manusia yang hidup saat ini mengalami
kehidupan yang sesunguhnya di era sebelum hadirnya bentuk keyakinan dari luar
Nusantara;
- Seluruh kesimpulan dan pernyataan yang dibangun saat ini, terutama
Budaya Nusantara, adalah berdasarkan peninggalan yang masih ada, baik dalam
bentuk literatur mau pun bentuk bangunan. Sehingga kesimpulan yang terbangun
adalah rekaan ulang yang disambung-sambungkan menurut akal logis manusia itu
sendiri. Artinya, campur tangan terhadap esensi sebenarnya atau latar belakang
kesimpulan yang diambil akan sangat bergantung kepada kemurnian motivasi
penyusun.
- Lalu, apakah Tuhan membedakan keadilannya terhadap bentuk kehidupan
masa itu dengan masa kini? Padahal, tidak ada satu pun di antara kita yang
pernah meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan pada tempat dan waktu yang sesuai
kemauan kita.
Kedua kata tersebut (animisme dan dinamisme) secara terus menerus di
sampaikan melalui pendidikan formal kepada setiap anak bangsa Indonesia.
Akibatnya? Akan terbentuk pola pikir bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia
berasal dari manusia primitif (sebagai penyembah batu, pohon-pohon besar, dsb.)
yang bentuk kebudayaannya tertinggal dari budaya luar yang masuk ke Nusantara
ini. Akibatnya, banyak anak bangsa lari dari akar budaya awalnya, yaitu MANUSIA
SING SEJATI NING MANUSA.
Banyak tulisan atau pun literatur yang menyatakan bagaimana jayanya Kerajaan
Majapahit. Namun, belum pernah ada atau pun sedikit sekali yang menggali atau
pun mencari tahu mengapa Nusantara bisa meraih kejayaannya pada saat itu. Malah
ada pelajaran sejarah menyatakan kata Majapahit ada karena sekitar daerah
Majapahit banyak pohon Maja yang berasa pahit. Mari kita kembalikan lagi ke
hati yang terang dan akal yang sehat. Apa hubungannya antara satu kejayaan
sebesar dan semegah Majapahit dengan buah Maja yang pahit? Apakah bisa
membangkitkan kehidupan indah itu? Coba jika melihat dari pemahaman lainnya.
Kata Maja bisa diartikan sebagai benar-benar matang dan makna pahit bisa
diartikan dipaitkeun atau diterapkan secara sungguh-sungguh (perjanjian atau
peraturan). Maknanya, budaya indah baru bisa ujud jika HUKUM DITERAPKAN DENGAN
SUNGGUH-SUNGGUH, MAKA KEHIDUPAN MATANG (INDAH) YANG AKAN DIPEROLEH. Jika ini
pola pikirnya apakah bisa diterima sebagai latar belakang kemegahan dan
kejayaan Majapahit?
Mengapa ini semua terjadi? Alasan utamanya adalah pada saat sejarah
disampaikan HANYA SEBATAS cerita, BUKAN HAKEKAT ATAU ESENSI yang bisa diolah
dengan akal pikiran yang sehat dan diterima dengan hati yang terang. INILAH
SALAH SATU BENTUK PENJAJAHAN POLA PIKIR BAGI BANGSA TERCINTA INI. Mengapa ini
terjadi? ALASAN UTAMANYA ADALAH AGAR BANGSA INI LUPA BAHKAN TIDAK LAGI PEDULI
DENGAN AKAR BUDAYA BANGSA INDONESIA YANG LUHUR INI. Melalui metode atau
pendekatan semacam ini, maka penjajahan akan langgeng, walau pun dalam bentuk
yang selalu berubah-ubah disesuaikan dengan jaman atau kurun waktunya.
Punten..punten..bagi saya, maka kata animisme dan dinamisme merupakan BENTUK
PENJAJAHAN POLA PIKIR ATAS KEYAKINAN KEPADA TUHAN YANG BERAKAR DARI BUDAYA
BANGSA INDONESIA SEBELUM KEYAKINAN LAINNYA HADIR DI BUMI NUSANTARA INI. Dengan
segala kearifan para pejuang bangsa yang mendasarkan kepada MOTIVASI SEJATI,
maka seluruh bentuk keyakinan kepada Tuhan dikristalisasi dalam sila ke-1
Pancasila. Dengan demikian, seharusnya semua keyakinan yang menjadikan manusia
ke arah peningkatan akhlak/budi pekerti DIAKUI DAN DIHORMATI oleh SELURUH
KETENTUAN YANG LEBIH RENDAH DARI UUD 1945 DENGAN SINAR JIWA PANCASILA.
Jangan meributkan tentang RITUAL satu keyakinan dengan keyakinan lainnya
atau dalam keyakinan yang sama. Justru jadikanlah segala bentuk ritual yang
nyaman bagi setiap individu menjadi manusia yang memiliki akhlak/budi pekerti
mulia dan mampu menjadi sinar kehidupan bagi dirinya, lingkungan, masyarakat,
dan negaranya. Berhasil atau tidaknya perjalanan ritual seseorang dalam
berkeyakinan kepada Tuhan HARUS tercermin dari UJUD KEHIDUPANNYA. Kenapa ini
menjadi ukurannya? KARENA KEBENARAN TUHAN TIDAK MENJADI HAK EKSKLUSIF INDIVIDU
TERTENTU. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk meraihnya, apakah terlahir
sebagai si miskin, si kaya, si pejabat, si rakyat, atau pun bentuk kehidupan
lainnya yang ada di muka bumi saat ini. SELAMA SETIAP DIRI MENYADARI TUJUAN
PILIHAN KEYAKINANNYA ADALAH DALAM GENGGAMAN KANJENG GUSTI UNTUK MERAIH MANUSIA
SING SEJATI NING MANUSA, maka ITULAH SATRIO PANINGIT BAGI BANGSA INI. Maka,
pemahaman Satrio Paningit adalah berlaku bagi siapa pun yang
berkehendak, berkeyakinan, dan mewujudkan dalam laku perbuatan atas pilihan
yang disandarkan kepada MUNGGUH KANJENG GUSTI.
Jika uraian singkat di atas ditelaah dengan pikiran yang sehat serta hati
yang terang, maka akan menjadi salah satu bentuk ALAT MENGHAPUS BENTUK
PENJAJAHAN YANG PALING BERBAHAYA. Dan saat yang bersamaan, setiap individu akan
memberikan kontribusi mengisi kemerdekaan Bangsa Indonesia sebagai mana yang
dicita-citakan oleh amanah bangsa ini.
Jika setiap individu mencapai tahapan ini, maka akan tampil manusia-manusia
yang ADIL DAN BERADAB (sila ke-2) dan secara otomatis Indonesia akan bersatu
dengan ikatan ini sebagai mana sila ke-3 PERSATUAN INDONESIA. Semua
permasalahan bangsa akan dipecahkan secara musyawarah dengan pencapaian mufakat
yang akan memberikan hikmah kebijaksanaan atas semua solusi yang dipilih
sebagai cerminan sila ke-4 KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAH KEBIJAKSANAAN
DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN. Maka ujudlah KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH
RAKYAT INDONESIA (sila ke-5).
Dengan mendasarkan kepada pola berpikir di atas, maka NEGARA ADALAH TEMPAT
BERBAGI KESELAMATAN DAN KESEJAHTERAAN BAGI SETIAP INDIVIDU MENUNGGU SAAT
BERPULANGNYA KE HADIRAT KANJENG GUSTI DALAM WADAH KETAATAN TERHADAP HUKUM
TUHAN, HUKUM NEGARA, DAN HUKUM ADAT. Maka Pancasila bisa dimaknai sebagai LIMA
ATURAN ATAU PAKEM YANG MENJADI LANDASAN BANGSA INI MEMBANGUN PERADABANNYA.
Menurut apa yang saya pahami, apa yang terjadi saat ini (antara lain, bencana
alam, huru-hara, dan segala bentuk keributan/kekacauan dalam masyarakat) adalah
bentuk peringatan kepada Bangsa Indonesia agar kembali kepada JATI DIRINYA
SENDIRI DENGAN JALAN MENGHAPUS POLA PIKIR YANG MENJAJAH KESUJATIAN MANUSIA
INDONESIA DENGAN MENGGALI DAN MENERAPKAN ESENSI PANCASILA SEBAGAI SUMBER
KEHIDUPAN BERBANGSA. Jika tidak, punten..punten
kita semua akan langsung atau
pun tidak langsung berhadapan dengan segala bentuk dimensi Kekuasaan Kanjeng
Gusti. Menurut apa yang manusia bodoh yakini bahwa PANCASILA ADALAH KODRAT
ILLAHI BAGI BANGSA INDONESIA SERTA DUNIA DAN JIKA SUDAH SAATNYA UNTUK TAMPIL,
TIDAK AKAN ADA YANG MAMPU MENGHALANGI PERUJUDANNYA. Kalau pun usia tidak sampai
menyaksikan perujudannya, sebagai individu, maka diri ini telah berupaya
memenuhi apa yang diamanatkan para leluhur bangsa atas peri kehidupan mulia dan
berpulangnya pun kepada Kanjeng Gusti dengan kemerdekaan yang
sejati.
Rekan-rekan milis, Saudara-Saudara sebangsa, dan juga pemerhati kehidupan di
Indonesia yang budiman, apa yang saya sampaikan di atas bukanlah klenik, ilmu
perdukunan, paranormal, atau pun bentuk-bentuk yang disebut spiritual. Semuanya
diungkapkan dari hati sanubari terdalam menggunakan akal yang sehat dan hati
yang terang sebagai alat yang menjadikan manusia lebih unggul dibandingkan
makhluk tercipta lainnya. Tentunya, ini pun bukan bertujuan melakukan
doktrinisasi, namun lebih mengingatkan kembali akan MAKNA perjalanan Bangsa
Indonesia terdahulu untuk dimanfaatkan secara BIJAK mengisi kemerdekaan Bangsa
Indonesia. Tidak ada salah atau pun benar dalam proses memahami ini semua,
KARENA KITA AKAN MENGETAHUINYA PADA SAAT NAFAS INI BERHEMBUS UNTUK TERAKHIR
KALINYA. Pun bukan memaksakan untuk meyakini apa yang tertulis ini, karena
setiap individu memiliki hati dan pikiran yang telah diberikan oleh Kanjeng
Gusti.
Jika ada yang tidak berkenan, mohon dimaafkan, karena manusia bodoh ini
memiliki banyak kelemahan dan kekurangan.
MANAKALA IMAN SEJATI SUDAH MENGHUNJAM DI HATI, PASTI UJUD KESELARASAN PIKIRAN
DAN HATI. NAMUN DALAM MEMAHAMI BEKERJANYA KEKUASAAN KANJENG GUSTI TIDAK AKAN
PERNAH MAMPU DITERJEMAHKAN DENGAN KETERBATASAN AKAL PIKIRAN MANUSIA, APALAGI
DIBATASI DENGAN RUANG MAU PUN WAKTU
..
HAMPURA KANJENG GUSTI
Jakarta, 1 Agustus 2007
Salam hormat manusia bodoh,
semar samiaji
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!