http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=14176\
9

Senin, 20 Agustus 2007
Protes Hadirnya Awang Sofian, Iwan Walk Out

Singkawang,-  Wakil Ketua DPD Partai Golkar Singkawang, Iwan Gunawan tak
terima dengan kehadiran Wakil Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kalbar,
Awang Sofyan Rozali ketika akan menetapkan calon Wakil Wali Kota
Singkawang, kemarin di DPD. Iwan pun melakukan protes.

Rapat yang dimulai pukul 10.35 WIB dan sepuluh menit kemudian Iwan
langsung meninggalkan ruangan rapat yang dipimpin oleh Ketua DPD Partai
Golkar Singkawang, Dadang Suryadi MS.

Iwan yang mengenakan jaket warna kuning langsung menggelar jumpa pers di
halaman Sekretariat DPD PG Singkawang. Di halaman sekretariat tersebut
dijaga puluhan anggota kepolisian dan para pendukung Awang-Raymundus.

Menurut Iwan dalam keterangannya, sesuai dengan undangan, Minggu (19/8)
siang pengurus harian memutuskan calon wakil wali kota.

"Yang memutuskannya adalah DPD PG Singkawang. Didalam juklak nomor 05
tahun 2005 itu disebutkan bahwa salah satu dari pasangan itu harus kader
Partai Golkar. Kita harus menjunjung tinggi aturan. Siapa lagi yang
mengamankan kalau tidak kita sebagai pengurus. Kita digiring untuk
melawan aturan. Kerusakan citra partai dan bangsa ini adalah, kita
diajarkan untuk melanggar aturan," kata Iwan

Mempersoalkan kehadirian Awang Sofyan Rozali (Asro) dalam rapat harian,
kata Iwan, karena dia bukanlah pengurus harian DPD Partai Golkar
Singkawang.

"Dia bukan pengurus harian DPD Partai Golkar. PG Provinsi Kalbar
harusnya mengirimkan tiga nama bukan diantar oleh utusan," katanya.

Iwan beranggapan bahwa rapat tersebut tidak qourum dan harus dibatalkan,
karena hanya dihadiri oleh tujuh orang pengurus harian. Ketujuh pengurus
harian itu adalah, Dadang Suryadi, Jamaan EE SH, Sumardi, Mujidah,
Marius, Suryanto dan Angguang.

"Kita sangat menyayangkan ini. Seharusnya, kita menjaga marwah partai.
Rapat itu harus diulang, karena tidak mencapai qourum. Kalau qourum itu
50 plus satu. Semua pengurus harian sebanyak 16 orang," kata dia. Dia
juga mempersoalkan mengapa salah satu pengurus sakit dan terbaring di
RS, lantas dianggap hadir walaupun dengan surat.

"Yang kita inginkan adalah kehadiran fisiknya. Bukan pakai surat. Meski
sakit, praktis Zainal Abidin tak hadir. Jadi, hanya tujuh orang saja
yang hadir. Kalau tujuh berarti tidak memenuhi qourum," kata Iwan lagi.
(zrf)

Kirim email ke