http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pilkada&id=144531
Sabtu, 20 Oktober 2007 Desak Musdalub Partai Golkar Kalbar Diambang Kehancuran Singkawang,- Partai Golkar Kalimantan Barat diambang kehancuran. "Kita menilai kepemimpinan Zulfadhli lah membuat semua ini," kata Sekretaris Non Aktif DPD Partai Golkar Kota Singkawang, Dedi Mulyadi, kepada Pontianak Post, kemarin. Menurut Dedi, Zulfadhli telah gagal melakukan upaya perbaikan Partai Golkar. Dedi berkeyakinan tahun 2007 ini ketika digelar pemilu kepala daerah baik provinsi maupun Kota Singkawang akan mengalami kekalahan. "Seharusnya Zulfadhli mengayomi dan memberikan contoh terbaik bagi kader dan simpatisan Partai Golkar di Kalbar. Tapi, jauh berbeda. Keputusan yang diambilnya selalu mengutamakan interest pribadi dan kroni-kroninya, bukan keputusan berdasarkan aturan partai," kata Dedi menilai. Menurut dia, Partai Golkar di Kalbar ini pecah berantakan dan sangat dirugi bila terus berlanjut hingga menjelang pemilu legislatif dan pilpres tahun 2009. Dedi menyebutkan, pasca Musda Partai Golkar tahun 2004 banyak persoalan yang timbul dan sangat merugikan partai. Dia mencontohkan, tidak diakomodirnya HM Akil Mochtar SH MH yang merupakan kader terbaik partai termasuk orang-orang yang berpotensial. "Orang-orang potensial dibuang selanjutnya menempatkan orang yang hanya haus kekuasaan saja," kata Dedi. Selain itu, kata Dedi, Akil pernah hendak direcall. "Untung saja, DPP cermat dan tidak terjadi recall." Begitu juga dengan terjadinya Musdalub PG Singkawang ketika kepemimpinan Mas Ratna Kasjianto hingga penonaktifan Ketua DPD PG Kota Pontianak Gusti Hersan dan Melawi. Tak sampai disitu, kata Dedi, Zulfahli telah membuat perpecahan ditubuh PG Singkawang soal pendampingi Awang Ischak dalam pencalonan wakil wali kota. "Jelas-jelas sudah melanggar aturan, lantaran Raymundus bukan kader. Juklak 05 dan Keputusan DPP PG 145 mengamanatkan pendamping wali kota yang bukan berasal dari kader harus dari internal PG. Tapi, demi kepentingan pribadi, akhirnya aturan dilanggar," kata dia. Tak sampai disitu, kata Dedi, ketika kader dan pengurus berjuang mempertahankan aturan yang ada, malah didepak dari kepengurusan PG Singkawang. "Lihatlah ada sepuluh pengurus potensial dipecat lantaran mengamankan aturan dalam penentuan calon wali kota. Apakah Zulfadhli harus dipertahankan," katanya. Zulfadhli dianggap Dedi sebagai tipe penguasa yang zalim. "Tahun 2007 ada dua pemilu kepala daerah akan digelar. Yakin dan percayalah akan mengalami kekalahan. Usman Jafar akan rugi memilih Golkar menjadi kendaraan politiknya untuk mencapai kekuasaan. Sebab, akan mengalami kekalahan termasuk di Kota Singkawang," katanya. Untuk itu dia mendesak kepada seluruh pengurus DPD tingkat kabupaten dan kota se Kalbar ini untuk menarik dukungan kepada Zulfadhli dan diyakini akan direstui oleh DPP. "Sudah tidak mampu lagi membawa PG lebih baik. Bahkan, bisa diibaratkan PG saat ini seperti pelacur di tengah jalan. Tidak ada lagi marwahnya," kata dia memberikan penjelasan. (zrf)
