http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?berita=Utama&id=144401
Rabu, 17 Oktober 2007 Berkorban Demi Orangtua, Berpisah dengan Kekasih Tercinta Menyusuri Pengantin Pesanan Amoy Singkawang dengan Pria Taiwan Singkawang,- Bagi banyak pasangan, butuh waktu tahunan untuk sampai ke jenjang pernikahan. Dimulai dari perkenalan, pacaran, tunangan hingga naik pelaminan. Namun di Singkawang, untuk jadi pengantin hanya memakan waktu dua pekan. Khususnya bagi perempuan Thionghoa yang menikah dengan pria Taiwan. GADIS itu bernama Tun Sui Lang (18). Amoy yang biasa disapa Alang ini, tinggal di Jalan Shau Hian, Singkawang. Saat ditemui, remaja yang tidak tamat Sekolah Dasar itu, terlihat rapi. Mengenakan kaos berkerah warna hitam, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Beberapa helai rambutnya dicat warna Golden Chocolate. Malam itu, Alang terlihat memikat, modis dan dinamis. Tidak heran jika Lim Thien Sheng (37), yang kepalanya mulai botak, dibuat tidak bisa tidur nyenyak. "Awalnya saya tidak mau. Tapi, mama bilang lihat saja dulu," ujarnya. Bukan tanpa alasan, Tung Sui Chin (45) merayu putri ketiganya itu. Suaminya, Jong Fo Kim (51), sudah empat tahun tak bekerja. Keterampilannya membuat keramik, dikalahkan oleh usianya yang mulai renta. Untuk menyambung hidup, Tung Sui Chin memilih bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Penghasilannya memang tidak seberapa. Tapi pekerjaan itu jauh lebih ringan, daripada harus setiap hari menyusun bata. Namun tetap saja, semua itu belum cukup untuk menghidupi keenam anaknya. Satu persatu, mereka putus sekolah. Sampai suatu ketika, dia didatangi tetangganya, Ajung. Perempuan yang baru pindah dari Jakarta itu, membawa kabar gembira. Ada warga Taiwan yang sedang mencari istri. Dia kemudian ingat, puluhan tetangganya menerima tawaran itu. Kini mereka hidup jauh lebih baik. Diapun menemani Alang ke hotel. Disanalah, Lim Thien Sheng menginap. Rupanya kedatangan mereka, sudah ditunggu. Ada Lina Moice makelar asal Jakarta, Ajung seorang cangkau dari Singkawang, Aching sebagai penterjemah serta Aliong yang bertugas sebagai sopir. "Calon pengantinnya bukan hanya saya. Ada juga calon-calon lainnya," kenang Alang. Di atas meja, di kamar Lim, berjejer photo-photo berwarna. Ukurannya 3R. Jumlahnya 27 lembar. Alang ingat benar photo-photo itu. Mereka masih muda-muda. Satu diantaranya ia kenal sebagai sahabatnya. Mereka berasal dari daerah Lirang. Tidak jauh dari objek wisata Pasir Panjang. "Diantara sekian banyak pilihan, dia memilih saya," tutur Alang, yang mengaku sudah punya kekasih. Yang setia dan mencintai dirinya apa adanya. Dia saat ini sedang kuliah. Pembicaraanpun terjadi diantara mereka. Dua hari berselang, kedua pasangan yang baru bertemu ini, masuk masa perkenalan. Mereka kemudian jalan-jalan. Diantar sopir, mereka mengunjungi banyak tempat. Diantaranya, sembahyang di Klenteng Taiwan di Sei Jungkung, berwisata ke Taman Bougenville, hingga makan-makan disejumlah restoran. Setelah dirasa cukup akrab, sepekan kemudian dilangsungkan resepsi pernikahan. Resepsi, bisa dilakukan dibanyak tempat. Bisa di rumah sendiri, di restoran, di rumah cangkau, hingga di hotel. Keluarga Alang memilih proses resepsi di rumah. Yang diundang sebatas keluarga dekat. Acaranya, tidak terlalu meriah. Meja makanpun, hanya ada tiga buah. Satu meja diisi lima sampai enam orang. Baju pengantin dan perhiasan, semua sudah disiapkan oleh Lim. Ada kalanya juga, semua keperluan sudah dikelola para cangkau. Orang tua Alang mendapat Rp 5 juta sebagai angpau. "Sebagai anak, saya punya kewajiban. Berbhakti kepada orang tua. Meringankan beban mereka, adalah sebuah tindakan mulia. Saya ingat, ada teman waktu kecil, sudah sepuluh tahun di Taiwan. Menikah, punya anak, dan bisa kirim uang," bebernya. Alangpun terpaksa menerima takdirnya. Menjadi istri pria berkacamata, yang lebih pantas menjadi bapaknya. Sesaat setelah pesta pernikahan, Alang tidak bisa tenang. Ada keterpaksaan dan penyesalan datang. Bagaimana mungkin, sebuah rumah tangga bertahan bila dipaksakan. Apalagi dia masih muda, cantik dan menawan. Lebih dari itu, sebagai perempuan, dia yakin masih punya pilihan. Termasuk masa depan yang lebih menjanjikan. Tapi, semua proses itu konon tidak bisa dibatalkan. Kemudian diuruslah semua keperluan Alang. Terutama, visa, passpor dan Akta Perkawinan Campuran. Sementara, Lim terbang pulang ke Taiwan. Sejak pertama kali datang, dia memang tidak punya beban. Apalagi kerepotan. Cukup menyerahkan sejumlah uang. Segala sesuatunya, sudah diurus makelar atau Mak Comblang. Dari menentukan calon pasangan hingga menerbangkannya ke Taiwan. Karena itulah, fenomena sosial ini dikenal dengan sebutan Pengantin Pesanan. Warga Thionghoa Singkawang menyebut Pengantin Pesanan dengan Che Siauw. Ada juga yang menamainya Kawin Photo dan Kawin Campur. Dikenal pertama kali Tahun 1980. Bersamaan dengan kunjungan KADIN Taiwan ke Kalbar saat itu. Tidak hanya ke Pontianak, delegasi ini juga mengunjungi Kota Singkawang. Masyarakat Singkawang percaya, mereka satu leluhur dengan masyarakat Taiwan. Sama-sama dari China Daratan. Persaudaraan itupun dilanggengkan oleh ritual suci bernama pernikahan. Sampai saat ini, pernikahan antara perempuan Thionghoa dengan pria Taiwan, terus terjadi. Kantor Catatan Sipil Kota Singkawang, mencatat tahun 2005 ada delapan pernikahan yang didaftarkan. Tahun 2006, diterbitkan 13 lembar Akta Perkawinan Campuran. Hingga September tahun 2007, sudah ada 31 yang terdaftar. Sayang, tahun 2002 datanya tidak tersedia. "Masih merujuk ke Bengkayang," kata Benny, Staf Bagian Pelayanan Catatan Sipil Pemkot Singkawang. Kepala Kantor Catatan Sipil Kabupaten Bengkayang, Drs Lorensius memaparkan, jumlah Perkawinan Campuran yang didaftarkan cukup banyak. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, tahun 2002 paling besar jumlahnya. Ada 312 lembar Akta Perkawinan Campuran yang diterbitkan. Tahun 2003 dikeluarkan 192 lembar. Tahun 2004 ada 165 lembar. Tahun 2005 dan 2006 masing-masing 61 lembar dan 155 lembar. Hingga September 2007, telah diterbitkan 51 lembar akta. Baik Benny maupun Lorensius menegaskan, angkanya bisa jauh lebih besar. "Ada warga Singkawang dan Bengkayang yang kawin di Pontianak dan Jakarta," kata mereka. Karena alasan itu pula, sampai saat ini, banyak versi tentang jumlah warga Singkawang di Taiwan. Prof Tangdililing meneliti, hingga tahun 1997 ada 3.410 warga Kabupaten Sambas (termasuk Singkawang, red) yang menikah dengan pria Taiwan. Asisten Kebijakan dan Pemerintahan Setda Kota Singkawang, Drs HM Nadjib MSi, mencatat ada 15.000 warga Singkawang yang menetap di Taiwan hingga Tahun 2006. Data tersebut, diperolehnya dari Kunjungan Kadin Taiwan ke Singkawang beberapa waktu lalu. Sementara Lembaga Bantuan Hukum Perempuan dan Keluarga (LBH PEKA) Singkawang mencatat, antara tahun 1987-2006 terdapat 27.000 warga Sambas, Singkawang dan Bengkayang di Taiwan. Di Taiwan, dari data Kementerian Luar Negeri Taiwan yang diperoleh Komnas HAM Perwakilan Kalbar, jumlah Pengantin Pesanan dari berbagai negara, tahun 2003 mencapai 240.837 orang. Pengantin dari Asia Tenggara saja, 42,2 persen. Dari jumlah itu, 57, 5 persen Pengantin Pesanan berasal dari Vietnam, dari Indonesia 23,2 persen, Philipina 5,3 persen, dan 8,7 persen dari negara lain. Tahun 2005, jumlah Pengantin Pesanan meningkat menjadi 365.000 orang. Tingginya angka Pengantin Pesanan ini, menurut Ketua Majelis Adat Budaya Thionghoa (MABT) Kota Singkawang, Wijaya Kurniawan SH disebabkan oleh sejumlah faktor. Faktor yang paling dominan adalah kemiskinan. Sedikitnya, ada sekitar 27.000 warga miskin pada tahun 2001, yang dicatat Kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Kependudukan Kota Singkawang. Dari jumlah penduduk 120.000 ditahun yang sama, kurang lebih 60 persen di antaranya adalah warga keturunan Tionghoa. "Mayoritas mereka yang menjadi Pengantin Pesanan datang dari keluarga tidak mampu," kata Wijaya. Menikah dengan pria Taiwan, lanjutnya jadi jalan pintas untuk keluar dari lingkarang kemiskinan. Apalagi, tidak ada kesempatan untuk hidup lebih baik di Singkawang. Lapangan kerja tidak tersedia. Makin parah dengan interaksi miskin kaya, yang berlangsung kurang sehat. Disisi lain, orang Thionghoa punya keyakinan. Bahwa hidup harus diperjuangkan. Nasib harus berubah. Jika harus berkorban, itupun akan dilakukan. "Daerah ini, sudah hutang budi. Putri-putri Singkawang itu, berkorban demi bhakti. Dengan perkawinan ini, sudah banyak keluarga yang terselamatkan. Mereka kirim uang untuk perbaikan tempat tinggal, peningkatan kesehatan, hingga biaya pendidikan," kata Wijaya lagi. Di Taiwan, mereka yang sudah menikah, juga bisa bekerja. Ada yang bekerja disektor industri, pertanian dan peternakan. Tidak sedikit pula yang ikut membantu menjalankan roda usaha suami. Memang bukan tanpa hambatan. Bahasa dan etos kerja kerap jadi kendala. Nah, mereka yang mampu beradaptasi, biasanya berhasil. Maya Santrini, Ketua Bidang Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Imigran Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat (FKPSM) Nasional, menegaskan ada alasan mengapa pria Taiwan memilih perempuan Thionghoa, sebagai pasangan. Menurutnya, perempuan Thionghoa dikenal memiliki sifat hemat, rajin, ulet, setia dan hormat kepada suami. "Selain berpendidikan rendah, menikahi mereka juga lebih murah biayanya. Apalagi bisa memilih, yang lebih muda. Kondisi ini bertolakbelakang dengan wanita Taiwan. Mereka berpendidikan tinggi, mandiri, mementingkan karir ketimbang berkeluarga," ungkap aktivis yang sering keluar masuk pemukiman Thionghoa ini. Karena itu tambahnya, pria Taiwan yang kurang mujur soal urusan pernikahan, banyak yang mencari istri dari negara-negara Asia Tenggara. Termasuk Indonesia. Biasanya mereka adalah pekerja kasar, juga pensiunan. Umurnya rata-rata 30 tahunan ke atas. Persamaan budaya seperti, pemujaan terhadap leluhur, konfusianisme dan buddisme juga turut memperlancar proses perkawinan tersebut.(bersambung)
<<F-BOKS-TUN-SU-LANg-f.jpg>>
