http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Singkawang&id=14526\ 4
Kamis, 1 November 2007 Kampanye, Tim Gunakan Multi Bahasa Singkawang,- Berdasarkan data milik Pemkot Singkawang tahun 2006, komposisi penduduk etnis tionghoa mencapai 41,71 persen, melayu 27,97 persen, dayak 7,11 persen dan etnis lainnya 24,21 persen. Komposisi etnis yang beragam ini memberikan pengaruh pada berbagai aspek kehidupan masyarakat Kota Singkawang, bahkan di bidang politik. Hal ini juga terlihat jelas ketika kampanye Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Singkawang. Dari pantauan Pontianak Post sampai hari kedua kampanye, nuansa "etnis" sangat mewarnai. Dalam kampanye-nya, kelima pasangan calon berikut jurkamnya menggunakan multi-bahasa. Di samping menggunakan Bahasa Indonesia, bahasa daerah juga digunakan menyesuaikan dengan karakteristik massa yang hadir. Bahasa yang dominan digunakan selain Bahasa Indonesia yakni Bahasa Cina (Kek), Melayu bahkan Madura. Selain itu, ini juga terkait dengan latar belakang pasangan calon. Sebagaimana diketahui, peserta Pemilu Wali Kota dan Wakil Wali Kota Singkawang juga terdiri dari orang-orang yang beragam etnis. "Saya tidak bisa Bahasa Cina. Untung ada Bong Cin Nen," kata Drs Dadang Suryadi MS MSi, salah seorang juru kampanye pasangan Awang Ishak-Raymundus (AIRS) di sela-sela kampanye dialogis yang digelar pihaknya di Gang 70 Jalan Kridasana Singkawang Barat, dua hari lalu. Pria yang disebutkannya itu juga adalah rekannya sesama jurkam. Dalam kampanye ini, Bahasa Kek dominan dipakai karena masyarakat setempat mayoritas berasal dari etnis tionghoa. Penyesuaian bahasa ini dimaksudkan untuk memudahkan komunikasi sehingga pesan-pesan yang disampaikan oleh jurkam dapat tercerna dengan baik oleh calon pemilih. Kondisi yang sama juga terlihat dalam kampanye pasangan-pasangan lain, Suyadi-Bong Wui Khong, Syafei-Felix, Hasan Karman-Edy Yacoub dan Darmawan-Ignatius Apui. Beberapa hari sebelum cuti, calon incumbet, Awang Ishak ketika halal bihalal di Aula Kantor Camat Singkawang Selatan pernah menyinggung-nyinggu soal bahasa. Menurutnya, di Dusun Kaliasin Singkawang Selatan (mayoritas penduduknya etnis tionghoa), banyak yang kurang mahir Berbahasa Indonesia. Sekretaris Daerah Kota Singkawang, Drs H Suhadi Abdullani, ketika temu ramah dengan Anggota Komisi IX DPR RI pun mengakui hal ini. Menurutnya, masalah bahasa memang menjadi satu kendala bagi pemkot, salah satunya dalam memasyarakatkan Program KB kepada warga tionghoa. "Petugas sulit menjelaskan tentang KB karena banyak yang kurang paham Bahasa Indonesia," ujarnya. Karena itu, pemkot menggandeng MABT (Majelis Adat Budaya Tionghoa) Kota Singkawang untuk menyukseskan KB.(rnl)
