Salam sejahtera , tanpa sengaja menemukan sebuah berita di kompas. Berita yang sudah cukup lama,dan diterbitkan awal tahun lalu. Mengulas tentang Mahatma Gandhi, yang begitu menggugah dan menyiratkan kualitas kepemimpinan dari tokoh sejarah tersebut. Semoga bermanfaat. Salam, Rudi. http://kompas.com/kompas-cetak/0602/27/ekonomi/2469030.htm Memetik Teladan dari Mahatma Gandhi Hari Sabtu (25/2), Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda bersama Tanri Abeng kedatangan tamu seorang profesor ahli corporate culture dan leadership dari University of Southern California, James OToole. Tanri, yang sedang membuka program kepemimpinan bagi manajer, memanfaatkan kesempatan emas untuk menambah wawasan kepemimpinan. Diundanglah beberapa menteri kabinet, seperti Menneg BUMN Sugiharto, Menkominfo Sofyan Djalil, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman, para dirjen dan direktur di Deplu, serta direksi BUMN dan perusahaan swasta di Ruang Nusantara, Deplu. Perubahan besar yang terjadi di dunia, terutama dengan globalisasinya, memang menuntut adanya perubahan pendekatan kepemimpinan. Tidak cukup lagi pola manajemen dan kepemimpinan yang diterapkan di masa lalu dipakai untuk situasi kini. Karena itu, Tanri memilih tema yang relevan dan cocok untuk situasi Indonesia terkini, Apa yang harus dilakukan pemimpin untuk bisa mengelola perubahan. Sejak delapan tahun lalu, Indonesia mengalami perubahan besar dari sistem otokrasi menuju demokrasi. Di tengah perubahan besar itu, arus globalisasi sedang mengalami percepatan. Perubahan yang begitu dinamis dan berlangsung sangat cepat bukan perkara mudah dikendalikan. Pada tingkat global pun tidak terhindarkan terjadi benturan, baik pemikiran maupun dalam pelaksanaan. Untuk bisa memetik manfaat yang optimal, tidak bisa tidak dibutuhkan hadirnya seorang pemimpin yang mengerti dan menerapkan the art of leadership secara tepat. Sebab pada akhirnya berbagai rintangan yang dihadapi tidak cukup hanya dikeluhkan dan diwacanakan, tetapi harus dipecahkan. Bukan hanya pemimpin pada tingkat perusahaan yang harus memahami semua itu, juga pemimpin politik dan masyarakat. Pada akhirnya memang tiga pilar: negara, masyarakat madani, dan dunia usaha harus saling menunjang bagi majunya sebuah bangsa. Kepemimpinan Gandhi Untuk memudahkan memahami bagaimana seorang pemimpin bertindak dan menjalankan kepemimpinannya, OToole mengangkatkan contoh nyata yang dikenal banyak orang, yakni Bapak Bangsa India, Mahatma Gandhi. Sebagai seorang pengacara kenamaan, Gandhi seharusnya bisa menikmati kehidupan yang sangat nyaman di Afrika Selatan. Namun, Gandhi tak mau hanya memikirkan dirinya. Perlakuan yang dialami sebagai warga kelas dua di Afsel, membuat ia terbayang akan nasib bangsanya, yang hidup di bawah penjajahan bangsa Inggris. Selesai Perang Dunia I, Gandhi meninggalkan semua kemewahannya di Afsel dan kembali ke negerinya pada tahun 1917. Ketika turun dari atas kapal, Gandhi disambut hangat oleh rakyatnya. Ia diminta untuk naik ke atas panggung dan berpidato. Namun, pidatonya begitu singkat: Terima kasih atas penyambutan Anda semua, kata Gandhi sambil menyampaikan salam khas bangsa India, menempelkan kedua telapak tangan di depan dada. Mengapa begitu pendek pidato Gandhi? Ia bukan seorang politikus yang biasa mengumbar janji, tetapi seorang pemimpin yang tahu diri dan rendah hati. Ia mengaku tidak mungkin berbicara banyak karena tidak mengerti negerinya. Bertahun-tahun Gandhi meninggalkan negeri dan ia merasa tidak tahu dan tidak mengerti akan bangsanya. Karena itu, ia memutuskan untuk tinggal di tengah rakyat India. Dengan menggunakan kereta api, ia pun berkeliling India untuk mengetahui setiap denyut napas yang dihadapi rakyatnya. Dengan sikapnya yang merakyat, integritas pribadi yang begitu tinggi, kesediaannya untuk berkorban, konsistensi dalam bersikap, Gandhi mendapat kepercayaan dari rakyat. Sikapnya yang inklusif membuat ia mampu merangkul semua pemimpin dari latar belakang untuk menjadi satu kekuatan. Pemimpin itu mengajak Perjuangan Gandhi untuk membangkitkan kesadaran bangsanya memang tidak dicapai secara instan. Tiga puluh tahun lamanya ia berjuang tiada henti untuk membawa kemerdekaan bagi bangsa India. Selama masa perjuangan itu, Gandhi tidak ingin sendirian. Ia mengajak pemimpin India lainnya untuk konsisten berjuang bagi kemajuan bangsanya. Gandhi menjadi contoh bahwa seorang pemimpin bukan bekerja hanya untuk dirinya, apalagi untuk ketenarannya semata. Seorang pemimpin harus mampu untuk bisa mengajak orang bertindak dan meyakinkan orang lain untuk mampu berbuat yang terbaik. Dalam sebuah kisah, Gandhi menemui orang-orang miskin yang begitu banyak. Kepada Gandhi, mereka mengeluhkan kemiskinannya. Mereka membutuhkan makanan karena merasa benar-benar lapar. Gandhi menunjukkan dirinya sungguh bukan seorang pemimpin yang populis. Ia tidak lalu menjanjikan untuk memberikan makanan. Yang Gandhi berikan justru sebuah pertanyaan bernada ajakan. Gandhi menanyakan apa yang harus kita lakukan untuk bisa menjawab semua persoalan yang dihadapi ini. Kepemimpinan yang ditunjukkan Gandhi sungguh merupakan pelajaran sangat berharga untuk kita bisa petik. Setidaknya ada tiga hal yang bisa diambil hikmahnya. Pertama, seorang pemimpin harus mampu memberikan contoh sebelum mengajak orang melakukan apa yang diinginkan. Kedua, pemimpin harus benar-benar memahami persoalan dengan mendengar dan melihat realita yang sesungguhnya terjadi. Ketiga, pemimpin harus mampu mengajak orang ikut terlibat aktif dan mendukung dari belakang, bukan hanya digunakan ajang untuk unjuk kemampuan pribadi. Gandhi memang orang yang luar biasa. Ia memiliki ambisi, tetapi tidak ambisius. Bahkan, ketika kemerdekaan itu diraih dan kesempatan untuk mendapatkan tampuk kepemimpinan nasional ada di tangan, ia tidak mengambil kesempatan itu. Ia sungguh contoh seorang pemimpin yang bekerja untuk bangsanya. (suryopratomo)
__________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
