Selamat pagi dan salam sejahtera ,
kebetulan menemukan sebuah berita di pontanakpost.com yang menuturkan
tentang pilkada gubernur. Entah fenomena tersebut muncul di pilwako
Singkawang juga apa tidak , mudah-mudahan sih tidak dan semoga saja para
cawako dapat berkompetisi dengan etis sehingga warga Singkawang dapat memilih
dengan bijaksana dan kepentingan publik dapat terlindungi.
Semoga....
Salam,
Rudi.
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Pilkada&id=145702
Senin, 12 November 2007
Muncul Selama Masa Kampanye
Fenomena Paranoid Politik Identitas
Pontianak,- Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Provinsi
Kalbar mencium adanya gelagat fenomena paranoid politik identitas selama masa
kampanye Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2007. Hal tersebut diungkapkan Ketua AIPI
Gusti Suryansyah dalam Konferensi Pers yang berlangsung Minggu, 11 Nopember,
di Kampus Magister Ilmu Sosial Jalan Imam Bonjol Pontianak.
Dalam salah satu kesimpulan mereka, ditemukan adanya indikasi selama masa
kampanye telah muncul fenomena paranoid politik identitas yang semestinya tak
terjadi dalam Pilkada. Pilkada bukan memilih pemimpin suku atau pemimpin
agama atau pemimpin kelompok serta golongan, tetapi memilih pemimpin daerah,
ujar Suryansyah kepada sejumlah wartawan.
Kesimpulan tersebut mereka rangkum usai pertemuan AIPI yang dihelat pada
saat itu. Seluruh komisi yang berada di bawah asosiasi tersebut sepertiu
komisi pengembangan organisasi, komisi hubungan internasional, serta komisi
pengabdian kepada masyarakat, mengutarakan berbagai persoalan yang muncul
selama masa kampanye. Setidaknya sepuluh kesimpulan mereka hasilkan dalam
pertemuan tersebut. Kita mencoba mengamati kandidat dan tim sukses, mulai
dari perilaku sampai kepada materi atau tim kampanye, alat peraga, strategi
penghimpunan masa, kami juga mengamati perilaku massa yang merespon ajakan
dari kandidat dan tim sukses untuk hadir di kampanye monologis serta dialogis
yang dilakukan, papar dia.
Salah satu pengamat politik dari Universitas Tanjungpura tersebut menuturkan
kekhawatiran dia ketika masyarakat terperangkap pada fenomena politik
identitas. Fenomena inilah yang kemudian memunculkan ketakutan pada identitas.
Padahal secara tegas pelaksanaan Pilgub ditujukan bukan untuk memilih pemimpin
agama, kelompok, suku serta golongan, namun memilih pemimpin daerah yang
membawahi semua kepentingan. Maka ketika terkesan adanya kandidat yang
terperangkap dalam perangkap-perangkap primodialisme, sudah barang tentu tak
dapat diterima kandidat lain, termasuk pada pendukung di daerah lain.
Inilah yang kemudian dikhawatirkan sangat memicu munculnya potensi konflik
horizontal, tandasnya.
Bagaimana mengantisipasi berbagai kemungkinan tersebut, Suryansyah
mengingatkan Panitia Pengawas (Panwas), KPUD, kepolisian mesti bersikap tegas
untuk meminimalisir peluang-peluang terjadinya pelanggaran. Tindak tegas
pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan, hanya ini langkah yang dapat
menjadikan pilkada di Kalbar berkualitas. Dalam banyak kasus, ketidaktegasan
aparat menjadi salah satu sebab semakin melebarnya konflik-konflik
horizontal, tuntasnya. (ote)
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com