--http://pencintabuku.wordpress.com/2008/01/13/warisan-yang-harus-dijaga
*Dari Launching Buku Aneka Budaya Tionghoa Kalbar

Oleh: Krisantus/Sugeng Mulyono
Borneo Tribune, Pontianak
Pengekangan budaya Tionghoa oleh rezim Orde Baru selama lebih tiga puluh 
tahun yang lalu telah meninggalkan bekas yang cukup mendalam bagi mereka. 
Mereka dilarang keras melakukan aktivitas-aktivitas kebudayaan. Budaya 
sebagai suatu warisan yang harus dijaga dan diakui keberadaannya pada masa 
itu seolah-olah tidak dihargai.

"Masa reformasi, yang telah berlalu sekian tahun lalu kiranya dapat 
memberikan nilai positif bagi perkembangan budaya Tionghoa," kata Lie Sau 
Fat atau yang lebih dikenal X.F Asali pada acara peluncuran buku miliknya 
"Aneka 
Budaya Tionghoa Kalbar" di Restoran Samudera, Sabtu (12/01).
Menurutnya, generasi muda khususnya masyarakat Tionghoa yang berumur 
rata-rata di bawah 40 tahun jika ditanya mengenai budaya Tionghoa pasti 
tidak tahu atau mengerti dengan budaya mereka sendiri selain itu dengan 
terbitnya buku itu ia berharap agar dapat memperkaya literatur buku budaya 
yang ada di Kalbar, sebagai sumber pengetahuan tentang budaya Tionghoa. Hal 
tersebut merupakan beberapa hal yang telah memotivasi dirinya untuk 
menerbitkan buku ini. Selain itu, motivasinya adalah karena dirinya memang 
sedari kecil telah mempunyai hobby untuk menulis. Asali menceritakan pada 
saat kecil dirinya senang sekali mengumpulkan tulisan-tulisan dan 
karangan-karangan dalam bahasa Tionghoa sehingga sejak saat itu hobbynya 
mulai tumbuh.

Ketua Yayasan Bhakti Suci mengemukakan dengan adanya peluncuran buku ini, 
dapat memberikan paparan bahwa keanekaragaman budaya penting untuk diketahui 
oleh orang banyak agar apabila sudah paham akan hal itu maka menimbulkan 
rasa saling menghargai yang tinggi antar masing-masing budaya yang berbeda.

Sementara itu, Gubernur yang diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan 
Pariwisata, Rihat Natsir Silalahi, mengatakan Budaya adalah warisan budaya 
yang harus dijaga. Dengan peluncuran buku ini masyarakat diharapkan mendapat 
pengetahuan tentang budaya lain selain budaya mereka sendiri agar dapat 
dikembangkan kemudian diolah menjadi suatu sumber kekayaan setelah itu 
budaya dilestarikan.
Satu-satunya srikandi yang didaulat untuk memberikan tanggapannya Ny Suhadi 
memberikan masukan yang sangat berarti, bukan saja sang penulis tetapi juga 
para undangan yang hadir pada saat itu.

Menurut Lie Sau Fat/X.F.Asali yang melatar belakangi penulisan buku ini 
lebih kepada perkembangan zaman, yang saat ini, paska reformasi budaya 
tionghoa dibuka selebar-lebarnya, dan selama tidak melanggar hukum kita 
boleh mengekpose budaya Tionghoa untuk kemajuan budaya Kalbar. Selain itu 
menurutnya buku ini diperuntukkan bagi generasi muda, tidak saja generasi 
Tionghoa tapi untuk semua generasi agar mengetahui budaya Tionghoa mulai 
dari lahir hingga meninggal.
Ia mengakui sebenarnya buku ini bukanlah tulisannya melainkan hanya 
rangkuman beberapa media yang telah dikumpulkan semenjak 2002 dan rentang 
waktu penyusunan buku memakan waktu satu tahun lebih. Pria kelahiran desa 
Koelor Kota Singkawang 74 tahun lalu ini mengharapkan nantinya buku ini 
menjadi pionir pembangunan budaya di Kalbar.

Dikatakan, royalty dari penjualan buku ini nantinya akan disumbangkan di 
beberapa yayasan yang ia kelola bersama koleganya. Selain itu untuk 
keperluan lainnya, buku yang dijual seharga Rp.30 ribu ini akan ditanggung 
biaya pengirimannya.

Beberapa tokoh lintas etnis dan pejabat daerah turut hadir dalam acara 
tersebut, di antaranya Ketua DPRD Kalbar, Ir. Zulfadhli, ketua MABM, H. 
Abang Imien Thaha, Ketua MABT, Erick Suseno Martio, SE, tokoh masyarakat 
Dayak, R.A. Rachmad Sahudin, B.Sc, Direktur Program Pasca Sarjana Untan, 
Prof Dr Syarif Alqadrie dan beberapa undangan lainnya.

Ketua Yayasan Bakti Suci Lindra Lie mengatakan buku ini mempunyai warna 
tersendiri, karena menurutnya generasi yang akan datang harus memahami 
budaya leluhurnya sehingga menciptakan generasi yang tetap menjunjung tinggi 
budayanya.

Menurutnya perlu gagasan baru untuk mempertahankan khazanah budaya yang ada 
di kalbar. Melalui bukulah salah satu khazanah baru tersebut. Ia beralasan 
selama ini orang hanya mengetahui bentuk-bentuk budaya secara lisan saja, 
dan dalam bentuk tulisan sangat jarang.
Ia pun memberikan apresiasi yang positif dengan terbitnya buku ini, dan 
diharapkan ke depannya banyak lagi penulis-penulis yang berani membuat buku 
mengangkat tema budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar, Rihat Natsir Silalahi 
mengemukakan kekagumannya terhadap X.F. Asali, ia mengharapkan buku ini bisa 
menjadi referensi budaya untuk semua kalangan di Kalbar ini. Ia juga 
menyempatkan memberikan masukan kepada para undangan di mana dia 
mengharapkan undangan wajib memberikan apresiasi yang tinggi terhadap buku 
karya X.F. Asali. Dijelaskan apa yang dikatakan budaya merupakan langkah 
tangguh untuk menghadapi pengaruh globalisasi. Ia juga berpesan bahwa budaya 
itu merupakan warisan yang harus dijaga oleh siapapun.
Sementara itu Abang Imien Thaha, Ketua MABT Erick Suseno Martio,SE, ketua 
DAD R.A. Rachmad Sahudin,B.Sc sepakat bahwa buku ini merupakan pelopor 
kemajuan dalam kehidupan berbudaya dimasyarakat, bukan saja untuk kalangan 
tionghoa tapi untuk semua kalangan.
Akhirnya Uskup Pontianak Heronimus Bumbun mendapatkan kesempatan untuk 
melaunching buku tersebut. Pada hari itu juga langsung terjual 280 buku.

*Edisi Cetak Borneo Tribune 13 Januari 2007 

Kirim email ke