http://jurnalnasional.com/?cari=singkawang&sec=WISATA&rbrk=&id=29542

Sabtu, 05 Jan 2008
* Bisa Berwisata Kuliner*

KOTA Singkawang memang terbilang unik. Dari kondisi geografis, hingga
perilaku kehidupan sosial juga khas. Kota ini saban hari menampilkan
lokasi-lokasi kuliner dengan sajian khas berbagai penganan yang nikmat.

 "Saya teringat, ada satu masa ketika saya kerap menginap di Singkawang,
menghabiskan malam dengan diskusi hangat di warung kopi setempat yang buka
sampai jauh malam," kata Andreas Acui, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia
(Apindo) Kota Pontianak yang sering berkunjung ke Singkawang.

 Di warung itu, kata Acui, dapat dijumpai banyak tokoh formal maupun
informal yang memainkan peran penting dalam dinamika kehidupan masyarakat
Singkawang.

 Memang, di warung kopi itu, bahan obrolan bisa muncul dari yang ringan
sampai topik berat. Tergantung di meja mana kita memilih bergabung untuk
mendapatkan topik yang sesuai selera. Ada juga meja yang biasa disebut *old
fashion*. Di meja ini pelanggan khusus agak berumur dan topik utama
pembicaraan berkutat di seputar nostalgia, dan siapa saja aktor di belakang
suatu kejadian. Semacam buku putih.

 Dari meja ini bisa muncul pengakuan aktor pelaku dan pemetaan yang lebih
jelas mengenai peristiwa yang pernah terjadi di Singkawang atau daerah
sekitar. Ya, ada kemungkinan juga terjadi distorsi informasi karena mungkin
saja ada yang hanya berlagak dalam ceritanya.

Namun, semua itu menarik diikuti, sekadar menambah pengetahuan mengenai
kepribadian orang per orang yang ada di meja ini, atau mengusir kepenatan
pikiran dari kesibukan siang hari. Ya, setidaknya untuk rekreasi pikiran.

 Jika perut mulai terasa lapar, bisa beranjak ke Pasar Hongkong. Suatu
wilayah kuliner yang unik dengan berbagai makanan siap saji dan siap santap.
Mulai dari sate biasa, sate padang, nasi padang, *kwetiau*, bebek panggang,
*seafood*, nasi goreng, berbagai penganan dan buah ada di jalur ini.

 Melalui berbagai sajian kuliner yang terdapat di Pasar Hongkong ini,
Singkawang memang mampu menampilkan diri sebagai kota yang plural dan
harmonis dalam keragaman semua puak/suku yang hidup di dalamnya. "Saya yang
kelahiran Punggur (desa di Kabupaten Pontianak), sering duduk bersama Ismail
Karib kelahiran Jawai yang kini bermukim di Singkawang. Hendra anak tentara
dari Banjar, dan Fitriadi dari Tebas. Masing-masing memilih makanan sesuai
dengan selera. Suasana kekeluargaan sangat terbangun di meja makan kami.
Masing masing menghargai selera teman semeja dan menikmati pilihannya
sendiri-sendiri," ucap Acui. Ingin mencoba? *Why not*!

Kirim email ke