Sabtu, 16 Februari 2008 | 16:20 WIB
PENCETUS dan pembuatan replika naga raksasa yang juga Ketua Yayasan Mandala
Puja Pontianak, Sinse Aleng, mengaku sudah mengirim replikasi naga raksasa itu
ke Kota Singkawang menggunakan truk, untuk melakukan atraksi menyambut acara
Cap Go Meh, 21 Februari mendatang.
Karena itu ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada Walikota Pontianak
(Buchari Abdulrachman) dan Walikota Singkawang (Hasan Karman) yang sama-sama
mendukung atraksi naga raksasa dalam menyambut pergantian Cap Go Meh tersebut.
"Kita sudah mengirim replikasi naga raksasa itu ke Singkawang, Minggu (3/2)
menggunakan truk," katanya.
Replika naga raksasa mempunyai panjang 288 meter, berat bagian kepala mencapai
100 kilogram dan berdiameter lima meter. Sinse Aleng, dalam menyambut
pergantian tahun baru Cina ini, termasuk Cap Go Meh, punya persiapan khusus.
Hal ini terkait dengan penyelenggaraannya dilaksanakan di Singkawang. Bisa
dipahami bahwa pergantian tahun baru Cina atau Imlek 2559, di Singkawang,
Kalimantan Barat (Kalbar), bagi etnis Tionghoa punya nilai tinggi.
Dalam merayakan Cap Go Meh atau perayaan pasca Imlek, yang jatuh pada 21
Februari 2008, etnis Cina di sini punya cara tersendiri. Biasanya, sambil
berkeliling kota, para dukun yang disebut loya atau tatung ini memamerkan ilmu
kekebalan tubuh. Seperti halnya permainan debus dari Banten.
Meski tubuh mereka ditusuk berbagai benda tajam, seperti kawat, pecahan kaca
hingga batangan besi, na
mun tidak mengeluarkan darah.
Upacara dimulai dari altar klenteng. Para dukun memberikan persembahan kepada
Dewa To Pe Kong. Setelah minta diberkahi keselamatan, mereka kemudian memanggil
roh. Hanya dalam hitungan menit, tubuh para tatung ini dimasuki roh dan mereka
pun menjadi kebal luar biasa.
Saat itu pula para tatung diarak keliling kota. Diiringi genderang yang
memekakan telinga, peserta pawai mengenakan kostum gemerlap pakaian kebesaran
negeri Tiongkok di masa silam. Para tatung terus mempertunjukkan kekebalan
mereka. Benda tajam ditusukkan menembus pipi dan leher. Pecahan kaca pun
diinjak-injak dengan kaki telanjang.
Sebelumnya keramaian pun sangat terasa sepanjang pantai utara Kalbar, mulai
dari batas kota Pontianak, Sungai Duri, Karimunting, Sungai Raya hingga
Singkawang. Bahkan kota Pemangkat, wilayah penghasil jeruk yang berdekatan
dengan Kabupaten Sambas, ikut terkena imbasnya dengan keramaian pergantian
tahun baru tersebut.
Semarak pun terlihat di berbagai rumah, meski banyak warga Tionghoa mendiami
pemondokan sederhana dan kumuh. Sementara itu Bandar Udara Supadio, Pontianak,
terasa lebih ramai dari biasanya. Wajah-wajah gembira dari etnis Cina memenuhi
hampir semua bagian sudut bandara. Mereka datang dari luar daerah, bahkan jauh
dari luar negeri.
Terkait dengan keramaian di Singkawang pada perayaan Cap Go Meh, 21 Februari
nanti, Sinse Aleng menjelaskan, pemindahan atraksi naga raksasa dari Pontianak
ke Singkawang dimaksudkan guna mendukung dan mempromosikan Tahun Kunjungan
Wisata 2008 (Visit Indonesia 2008). Namun ia mengaku bisa saja suatu saat
negara raksasa itu dipindahkan lagi ke Pontianak.
"Sewaktu-waktu setelah Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh naga raksasa akan dibawa
lagi ke Kota Pontianak," Aleng menjelaskan.
Pembuatan naga raksasa itu, menurut dia, tak terlepas dari ritual tahun lalu
yang saat melepas burung tidak mau lari dari naga terpanjang, hal itu berarti
masyarakat Tionghoa harus membuat naga yang lebih besar dari naga tahun lalu.
"Kita juga mendapat wahyu agar naga tidak boleh diarak ke tempat-tempat lain,"
ujarnya.
Pembuatan naga tersebut menelan biaya sekitar Rp1 miliar yang diperoleh dari
sumbangan para dermawan dan Pemerintah Kota Pontianak. Replika naga tersebut
dibuat dengan bahan dasar kain sepanjang 1.000 meter dan rotan sebanyak lima
ratus batang, agar terlihat menarik kaki naga dibuat bisa bergerak-gerak, dan
tidak ada unsur "magic".
Naga raksasa tidak akan mengikuti ritual buka mata, karena naga tersebut akan
menjadi ikon Kota Pontianak, sehingga setiap tahun akan selalu ditampilkan
dalam setiap pergelaran budaya. Sementara rencana ritual buka mata bagi naga
MURI dibatalkan.
Khas Cina
Memang, jauh hari sebelumnya mereka melakukan persiapan menyambut Imlek dan
Cap Go Meh. Rumah-rumah dibersihkan dan dihias. Meja saji untuk sembahyang
dipersiapkan. Makanan pun mulai dimasak. Bahkan angpau juga siap dibagikan.
Upacara khas Tionghoa yang hanya dilakukan sekali dalam setahun. Namun, jangan
heran, jika pada malam menjelang Imlek berkali-kali terdengar letupan petasan.
Petasan sudah menjadi salah satu tradisi perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Di
tempat lain petasan boleh saja dilarang, tapi di Singkawang penjual petasan
mudah dijumpai di berbagai sudut kota, berdampingan dengan penjual asesoris
Imlek lain.
Singkawang, menurut data terakhir, punya lima kecamatan, 26 kelurahan, 43.157
Kepala Keluarga (KK), dan jumlah penduduk 191.589 orang, 51 persen di antaranya
etnis Cina. Karena itu, kemeriahan di kota tersebut begitu kuatnya dengan
suasana etnis Cina. Perayaan Imlek berlanjut hingga pembagian angpau. Momen
yang ditunggu, terutama oleh anak-anak. Angpau tidak hanya dibagikan kepada
saudara dan kerabat, tapi juga tetangga sekitar.
Singkawang terkenal sebagai kota perdagangan terbesar kedua di Kalbar setelah
Pontianak. Letaknya di pantai barat sangat strategis, yakni berada di antara
kabupaten Sambas dan Bengkayang. Wilayahnya cocok untuk pengembangan pertanian
tanaman pangan dan hortikultura, terdapat di Kecamatan Singkawang Selatan,
Utara dan timur. Wilayah itu memiliki potensi yang cukup besar.
Komoditi Kota Singkawang berasal dari sektor perkebunan. Pada sektor ini,
dihasilkan karet yang merupakan komoditi unggulan dengan lahan yang telah
digunakan untuk pengembangan karet seluas 8.002 Ha.
Seperti wilayah lainnya di Kabar, Singkawang memiliki iklim tropis dengan suhu
rata-rata bulanan 26, 1? Celsius, suhu minimum 24,2? Celsius, suhu maksimum
28,8? Celsius. Iklim tropis di wilayah Kota Singkawang termasuk klasifikasi
iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata 2.819 mm/tahun atau 235
mm/bulan. Jumlah rata-rata hari hujan 157 hari/tahun atau rata-rat 13 hari
hujan / bulan. Rata-rata kelembaban udara di kota Singkawang adalah 70 %.
Kota Singkawang memiliki wilayah datar dan sebagian besar merupakan dataran
rendah antara 50 meter s/d 100 meter diatas permukaan laut. Kota Singkawang
yang terletak pada 0? LU dan 109? BT, wilayahnya merupakan daerah hamparan dan
berbukit serta sebelah Barat berada pada pesisir laut, dengan luas 504.000 atau
50.400 ha.
Sementara itu warganya menyambut pergantian tahun baru 2559 dan Cap Go Meh
penuh dengan suka cita. Bagi orang yang pernah berkunjung ke Hongkong, suasana
hampir serupa akan didapati di Singkawang. Pemandangan kelenteng sangat indah.
Belum lagi gemerlapnya puluhan hotel dengan pernik Imlek, lampion pun menerangi
dan menghias kota.
Lilin-lilin besar dan dupa memenuhi kelenteng. Dengan hio di tangan, warga kota
menyembah dewa-dewa yang menguasai alam semesta. Leluhur juga tidak lupa
dipuja. Pemandangan ini akan berakhir hingga Cap Go Meh, 21 Februari mendatang,
dengan acara lebih meriah lagi.
Kehidupan warga di kota Singkawang tergolong damai. Dibanding sejumlah kota
lainnya di Kalbar, ketika terjadi konflik antaretnis, beberapa tahun silam,
wilayah ini relatif tenang. Pasalnya, sikap toleransi warga dari berbagai etnis
dan agama cukup tinggi. Kelenteng memang banyak, tapi rumah ibadah lainnya,
gereja dan masjid megah pun ada. (ANT)
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com