*Si Manis yang Bernasib Malang
*
*Pontianak,-*  Setiap orang membicarakan buah, asumsinya paling hanya
sebatas jeruk, langsat, durian, rambutan dan buah impor lainnya. Jarang
sekali orang membicarakan buah cempedak. Dan di saat orang miris melihat
nasib petani dan pedagang buah-buahan, cempedak diingat pun tidak. Padahal
buah cempedak (famili Moraceae) juga banyak ditanam petani terutama daerah
Desa Kubu Padi Kecamatan Kubu Kabupaten Pontianak.

Meski nasib petani dan pedagang cempedak kurang mendapat perhatian, tidak
menyurutnya niat Arman, 23, urung menjualnya. "Saya sudah lima tahun
berjualan buah cempedak, setiap musim cempedak tiba saya selalu menjualnya,
karena orang juga banyak yang suka buah ini (cempedak), cempedak ini memang
bukan buah unggulan dari daerah (Kalbar)," kata Arman saat ditemui Equator
di tempat dia berjualan di Jalan Kom Yos Sudarso nomor 8.

Seraya membandingkannya dengan jeruk sebagai komoditas unggulan Kalbar yang
bernasib tidak semanis rasanya.

Arman tetap menjual cempedak karena selain untuk memenuhi kebutuhan
sehari-harinya, dia juga melihat banyak masyarakat doyan terhadap buah yang
hanya tumbuh wilayah Asia tenggara tersebut.

"Orang banyak juga yang beli, satu hari bisa belasan orang juga, makanya
saya tidak pernah berhenti menjual cempedak," paparnya.

Harganya pun sangat variatif dan tidak terlalu menguras isi dompet. Per buah
mulai Rp 500-Rp 2.000. Dan omzet per harinya bisa mencapai Rp 500 ribu.
Jenis buah yang dijualnya adalah cempedak manis.

"Jangan hanya lihat luarnya saja, cempedak ini kualitasnya lumayan bagus dan
enak dimakan, memang kalau dilihat dari warna kulitnya agak hitam, tapi
isinya kuning emas," katanya sambil membuka sebuah cempedak dengan pisau
yang telah disediakannya.

Menurut Arman, buah yang dijualnya ini bukan dari hasil kebunnya. Melainkan
hanya sebagai pedagang perantara saja.

"Saya hanya menjualkan saja, sedangkan yang punya sekaligus yang mengambil
di kebun itu bos saya yang punya kebun di Kubu Padi," katanya tanpa
menyebutkan nama bos dimaksud.

Dari hasil penjualan cempedak ini, kata Arman, saya bisa memperoleh
pemasukan minimal Rp 500 per bulan.

Dilihat dari tempat Arman menggelar dagangannya memang tergolong strategis.
Sebab, di sepanjang jalan tersebut hanya dia sendiri yang menjual buah yang
masih masuk familiy nangka itu. "Mungkin sekarang pedagang cempedak lagi
sepi atau memang cempedaknya sudah tidak berbuah lagi," tuturnya.

Sementara itu, Icha, seorang konsumen, mengaku sangat menyukai cempedak,
karena rasanya enak. "Cempedak ini enak, mungkin orang malas memakannya
karena buah ini kalah gengsi kali ya, ndak seperti apel, jeruk, padahal buah
ini bisa dijadikan buah andalan Kalbar, jangan hanya buah jeruk yang sampai
saat ini banyak busuk karena tak terjual saking banyaknya," papar warga Kota
Baru itu. (dik)

 NB : Coba sajikan cempedak di rumah kita dengan resep ini :

Ambil satu buah cempedak matang dan harum,keluarkan semua  dagingnya
pisahkan dari bijinya.Siapkan satu buah telur ayam dan tepung terigu /
gandum tambahkan air lalu campur rata hingga mengental seperti adonan tepung
untuk menggoreng pisang. Tambahkan sedikit garam sebagai penggurih dan gula
sedikit saja.campurkan daging cempedak tadi kedalam adonan tepung tersebut.

Lalu goreng didalam minyak yang sudah dibubuhi Metega ( blue band atau yang
lain) dan jangan lupa beri daun pandan supaya harum..didalam campuran minyak
dan metega tadi..daging cempedak yang sudah tercampur tepung tadi siap
digoreng hingga berwarna kekuningan. Sajikan hangat ditemani teh tawar di
sore hari sebagai teman santai bersama keluarga... Selamat mencoba.

Kirim email ke